Just One Night Part2

23.9K 1.1K 29

Matanya mengerjap pelan. Gelap. Tak ada cahaya ketika mata itu telah terbuka sempurna. Ia belum tersadar sepenuhnya. Namun bibirnya kembali mendesis, saat ia mencoba menggeliat dalam gelap. Tidak. Ia tak perlu berpura-pura kaget ataup pun terlihat bingung saat ini. Ia ingat jelas dimana ia sekarang. Matanya kembali terpejam. Mencoba mengumpulkan sedikit kekuatan yang tersisa di dalam tubuhnya yang terasa remuk. Tangan Naemi meraba keatas, lebih tinggi lagi hingga ia dapat mencapai lampu yang berada di dekat ranjang besar itu. Akhirnya ia dapat melihat cahaya. Walau dalam keremangan. Namun ia masih bisa melihat dengan jelas sisa-sisa penyatuan tubuh pria itu di dalam tubuhnya. Yang menghancurkan ranjang yang saat ini masih ia tiduri Tangannya kembali mengumpulkan selimut tebal yang menutup tubuh polosnya. Melilitkan seluruh kain tebal itu ketubuhnya. Dan dengan berat Naemi mencoba untuk bergerak. Ia perlu sedikit bersandar. Mengembalikan seluruh kesadarannya, sebelum ia bergegas dari tempat ini.

Tak ada air mata yang keluar dari mata indah itu. Walau mata itu terlihat sayu, hingga kelopak mata bawahnya tampak sedikit mengembang. Ia sedang mati-matian menahan tangisnya saat ini. Ia menggelengkan kepalanya cepat. Mengeratkan rahangnya hingga gigi-giginya gemertak saling beradu. Jika Kyuhyun mengharamkan tangannya menggenggam kemaluannya sendiri, maka Naemi mengharamkan tiap tetesan air mata yang akan mengalir melalui kelopaknya. Ia wanita kuat. Bukan wanita lemah yang akan meraung menangisi kisah memiluhkan yang baru saja terjadi padanya. Walau hatinya juga menginginkan hal itu tapi logika itu mengingatkannya. Ia tak akan pernah menangis lagi. Tak akan. Dan selamanya akan terus seperti itu.

Membuang nafasnya pelan. Ia mencoba menggerakkan kakinya, menyentuh marmer dingin dengan kaki telanjang. Nyeri itu menyerang selangkangannya, membuatnya kembali merintih. Ini sialan. Dan Naemi harus mati-matian menahan sakit yang mendera pusat tubuhnya. Belum lagi rasa remuk yang menyerang tiap sendi-sendi tubuhnya. Oh Tuhan.

“Sialan kau pria brengsek..!!” teriaknya disela rintihan. Tubuhnya terasa kaku. Tapi ia tak ingin berlama-lama di tempat terkutuk ini. Memaksa kedua kakinya menapakki lantai dingin itu, Naemi kembali memejamkan matanya.

Ia berjalan pelan, bahkan amat sangat pelan. Ia harus melatih diri untuk bergerak bersama rasa nyeri yang tertinggal setelah pertempuran hebatnya beberapa saat yang lalu. Meraba tiap sudut ranjang dan mengumpulkan semua pakaian yang secara brutal dilepaskan pria itu.

“Aww… Sial..!” Ia kembali merintih. Pusat tubuhnya terasa begitu nyeri ketika ia mulai memakai jeansnya. Ini adalah paduan yang sangat tidak benar. Jeans itu keras dan akan benar-benar sakit jika permukaannya bertemu dengan kulit sensitivenya yang mungkin kini sedang meradang.

Butuh waktu cukup lama baginya untuk memakai satu persatu pakaian itu. Hingga berkali-kali ringisan itu terdengar nyaring di ruang sepi dan gelap ini. Beruntung Kyuhyun belum kembali kekamar atau mungkin pria itu memang tak akan kembali lagi ketempat ini. Setidaknya Naemi bisa keluar dari tempat ini dan memikirkan apa yang seharusnya ia lakukan nanti. Ia mendesah pelan.

“Kau berengsek…” geramnya tertahan. Naemi menengadahkan kepalanya keatas. Menahan sekali lagi bulir bening yang ingin melesak keluar ketika pandangannya jatuh pada setitik merah yang tertinggal diatas ranjang itu. Ia memegang pahanya dengan gemetar. Apa yang harus dilakukannya sekarang?

Melaporkan pria itu kekantor polisi? Mengatakan pada pihak berwenang bahwa dia baru saja diperkosa? Kemudian para wartawan akan meliput berita tentangnya. Memuat wajahnya di surat kabar, menayangkan berita itu di televise, dan wajahnya akan terpampang di halaman depan majalah kecantikan.

JUST ONE NIGHTBaca cerita ini secara GRATIS!