Dengan rambut pirangnya yang dikepang rapi, Ia berjalan menepis sunyi, menuju istananya.

Oh tidak! pasti Ia tersakiti, jadilah meluap air matanya. Benar saja, matanya yang tadinya sebiru samudra, kini menghitam. Tak ada yang memeluknya sepulang sekolah. Kemana Ibunya? jawabannya ada di sekolahnya. 

Ia memeluk hening dalam detik sebelum bibir manisnya memuntahkan jerit pilu. 

Larut dalam nestapa yang mengguncang bahunya. Ingin sekali berontak dan mati dalam bahagia, tapi tak sanggup dirinya.

Lewati menit, Ia menidurkan dirinya beserta semua siksaan batin yang menyergap hidupnya, merenggut nyawa pikirannya, dan lumpuhkan tubuhnya tuk bertahan

Halo!

hargailah tiap-tiap penulis. terutama mereka yang banyak bersembunyi di balik kisah yg mereka tulis sendiri. karena di situlah kau akan menemukan dunia mereka yang di ungkapkan dengan bahasa lain.

Sesunyi MatamuBaca cerita ini secara GRATIS!