Part 3

1.1K 187 11

"Kak Ben, kenalkan ini Kakakku, Kak Fahrania." Reifan memperkenalkannya saat Ben menghampiri.

Pria itu mengulurkan tangannya, "Ben." Ia terkejut sekaligus senang. Ben terpana saat memandangi gadis yang telah mencuri perhatiannya kini ada dihadapannya.

"Rania," mau tidak mau Fahrania menjabat tangannya. Mata Ben berkilat senang saat berjumpa kembali dengan gadis di pesawat. Gadis yang membuat jantung serta pikirannya tidak karuan. Antara percaya dan tidak. Saat tangan mereka bersentuhan rasanya Ben seperti dalam mimpi.

"Kak, baru balik lagi?" tanya Reifan pada Ben. Ternyata mereka sudah mengenal 1 tahun yang lain. Saat Reifan tidak sengaja berkunjung ke Cafenya. Ia tidak menduga bahwa pemilik Cafe tersebut orang Indonesia. Seringnya mengobrol dan mempunyai hobi yang sama yaitu basket. membuat mereka akrab.

"Yupz, semalam." Ben tidak mengalihkan pandangannya pada Fahrania. Gadis itu tahu namun bersikap biasa saja. Nuria, melirik keduanya. Ia terdiam. "Sudah memesan?" tanyanya ramah.

"Belum," Reifan yang lainnya sudah duduk kecuali Ben yang berdiri disamping meja.

"Pesan kalau begitu. Aku ke dalam dulu." Ben berpamitan masuk ke ruang kerjanya. Sebelum pergi lagi-lagi pria itu melihat gadis yang berambut panjang dari sudut matanya lalu tersenyum. Reifan dan Nuria memesan makanan dan minumannya. Mereka bercengkrama dengan serunya. Sampai pesanan datang. Dan ada penutup yaitu cheesecake. Padahal mereka tidak memesan. "This?"

"This cake is free from Mister Ben,"

"Say thank you for him, okay," ucap Reifan sambil tersenyum.

"Okay," pelayan wanita bule itu membalasnya denga senyuman pula. Usianya baru 18 tahun. Disana ia bekerja paruh waktu untuk keluarganya. Didy, bekerja sambil kuliah.

"Thank you, Di," ucap Reifan. Mereka sudah saling mengenal.

"You're welcome, Mister Cambridge."

Fahrania terdiam saat nama belakang ayah tirinya disebutkan. Jantungnya terasa nyeri, kenapa ia tidak memakai nama belakang yang sama dengan Reifan dan Nuria. Pradikta, nama yang ingin dilenyapkan dalam hidupnya.

"Kak," panggil Nuria melihat Fahrania melamun. Kepala kakaknya mendongak sedikit, "Kakak sangat suka keju kan? Ini buat Kak Rania saja," ia menggeser piringnya ke dekat Fahrania.

"Tidak, ini untukmu. Dan ini untukku.." Fahrania mengembalikan punya Nuria pada tempatnya. Dan ia menyendokkan kue miliknya ke mulutnya. "Kuenya enak sekali," ucapnya dengan nada senang. Meskipun mimik wajahnya datar. Hatinya merasakan sakit karena nama yang diwarisi tidak sama dengan ketiga adiknya.

"Iya benar, kue disini enak-enak. Begitupun tempatnya," celetuk Reifan. "Kak Ben itu yang punya, dia teman basketku kalau lagi tidak kuliah. Kami kenal sudah satu tahun. Sekarang jadi akrab." Fahrania tidak terlalu menanggapinya. Ia hanya mengangguk samar.

Ben mengamati Fahrania dari kejauhan. Ia mengintip dsri ruang kerjanya. Bersama keluarganya gadis itupun tidak pernah senyum. "Apa memang sifatnya ya? Tapi aku senang gadis itu ternyata Kakaknya Reifan. Apa ini yang disebut dengan yang namanya jodoh? Rasanya cepat sekali aku tahu tentangnya." Ben terkekeh sendiri, "berarti memang harus diperjuangkan." Ia telah memeriksa dapur dan lain di Cafenya. Tidak ada masalah. Ia keluar kembali.

"Rei," Reifan mengangkat kepalanya.

"Kak Ben, terimakasih kue gratisnya ya," ucapnya pelan. "Cheese kesukaannya Kak Rania,"

Ben cukup terkejut, "benar?" Reifan mengangguk penuh semangat begitupun Nuria. Senyum Ben semakin lebar saat sedikit demi sedikit mengetahui kesukaan gadisnya. Gadisnya? Ia jadi malu sendiri untuk mengatakan itu meskipun dalam hati. "Hari ini libur, Nuria?"

Heart Is Beating (GOOGLE PLAY BOOK)Baca cerita ini secara GRATIS!