[25] Scandal

77 9 3

Sehun kerap menggosok telapak tangannya yang tak henti berkeringat sejak dirinya memasuki ruangan itu. Ia sudah menunggu selama tiga jam dan namanya masih belum juga dipanggil sampai detik ini. Ia menegak air putih untuk menggantikan cairan tubuhnya yang terkuras akibat terlalu banyak berkeringat, bahkan ini sudah botol yang keempat.

Taeyong keluar dari pintu yang berada di ujung ruangan tersebut. Wajahnya juga tidak kalah tegang.

"Bagaimana?"

"Hyung, kurasa aku akan mati sebentar lagi."

Pelipis Taeyong benar-benar basah, napasnya pun ngos-ngosan. Keadaan kawannya itu justru membuat Sehun semakin tegang.

"Peserta nomor 124." seorang staff memanggil nomor urut Sehun.

"Hyung, semangat." Taeyong menepuk bahu Sehun, sedikit menyesal karena suaranya yang sudah lemah malah membuat mental Sehun semakin jatuh.

Sehun menelan ludahnya, ia menarik napas panjang sebelum mengangguk pada dirinya sendiri, lalu memasuki pintu 'neraka' tersebut.


***


Serin memasukkan beberapa modul dan buku catatan ke lokernya. Ia memilah beberapa barang yang akan dibawa pulang karena lokernya mulai dipenuhi buku-buku tebal untuk keperluan kuliahnya. Samar-samar terdengar suara bisik-bisik dari balik punggungnya. Serin menoleh, beberapa mahasiswa terlihat sedang berbisik satu sama lain. Sesekali ada di antara mereka yang tak sengaja curi-curi pandang ke arahnya.

Ia kembali memutar kepalanya ke tumpukan buku di loker. Kuliah Semantiks dari Professor Hwang sebentar lagi akan dimulai. Ia mulai bergegas membawa modul yang dibutuhkan lalu kembali berjalan ke ruang kelas. Entah kenapa banyak dari mereka yang berada di lorong itu terasa seperti sedang membicarakannya. Serin sempat menoleh ke sekelompok gadis yang tengah berbisik namun mereka langsung membuang tatapan mereka dari Serin.

Entahlah, Serin terlalu malas kepo soal gosip-gosip yang tengah beredar di kampus.

"Itu kan, orangnya?"

"Kayaknya iya, deh."

"Benar, kok. Aku kayaknya pernah lihat dia dijemput Dio–"

Serin langsung menoleh lagi ke arah gadis-gadis itu setelah indera pendengarannya tak sengaja menangkap nama Kyungsoo keluar dari mulut gadis-gadis itu. Namun sekali lagi, mereka langsung membuang muka seolah tidak ingin ketahuan.

Serin memutuskan untuk tidak menghiraukan mereka dan kembali melangkah menuju kelas. Ia sebenarnya ingin menghampiri orang-orang itu, tapi sayang sekali ia tidak punya cukup waktu untuk mengurusi hal-hal semacam itu.


***


Kyungsoo masih memelototi gambar yang dicetak besar di halaman utama tabloid yang barusan dilempar oleh Bumjae.


HOT: DIO, SANG PANGERAN HALLYU TERTANGKAP SEDANG KENCAN DENGAN SEORANG GADIS DARI KALANGAN NON-SELEBRITI.


"Hyung, apa ini?"

"Harusnya aku yang bertanya, kan?" jawab Bumjae, nadanya terdengar seperti sedang menunggu penjelasan dari Kyungsoo.

Tidak salah lagi, itu benar foto dirinya bersama Serin di Gyeonggi beberapa waktu lalu. Ia ingat sekali waktu itu Serin mengenakan mantel krem yang sama seperti di dalam foto. Ada dua foto yang terpampang di halaman itu, yang satu menunjukkan dirinya sedang menggandeng tangan Serin dan yang satu lagi foto ketika ia tak sengaja memeluk gadis itu saat mereka tengah berebut ponsel waktu itu. Walaupun foto itu agak berkualitas rendah–karena di-zoom dari jarak yang lumayan jauh–namun orang-orang pun pasti dengan mudah mengenali kalau itu Kyungsoo.

Universe in His EyesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang