[24] Our Second First Day

48 6 2

Audi A8 milik Kyungsoo melaju santai melintasi perbatasan Seoul menuju provinsi Gyeonggi. Serin mengernyit setelah menyadari mereka baru saja melewati perbatasan kota.

"Kita mau ke mana?"

"Ke rumah orang tuaku."

Serin tersentak. "Apa?!"

"Sudah lama sejak terakhir kali aku mengunjungi mereka."

"Hah?"

"Selama ini mereka yang selalu datang mengunjungiku di Seoul."

"Bukan begitu, maksudku–kenapa kau mengajakku?"

Kyungsoo menoleh sesaat. "Aku ingin mengenalkanmu pada orang tuaku."

"Kau pasti bercanda."

Kyungsoo tertawa. "Kenapa? Takut?"

Serin tidak menjawab. Ia menyandarkan tubuhnya di jok, memandangi lalu lintas yang setiap detiknya membawanya semakin jauh dari Seoul.

Kyungsoo menoleh lagi. Serin terlihat diam sambil melihat ke luar jendela.

"Jadi aku tidak boleh mengenalkan temanku ke orang tuaku?"

Serin tak bisa menyembunyikan ekspresi cemberut di wajahnya setelah Kyungsoo mengucapkan kata 'teman'. Jadi ia capek-capek damai dengan Kyungsoo selama ini hanya untuk dianggap sebagai 'teman'?

"Kok diam?" mata Kyungsoo sempat melirik tapi tidak berhasil menangkap ekspresi Serin.

Serin mulai menatap lurus ke arah depan. Ia menghembuskan napas dengan kuat. "Oke."

"Oke apa?" tanya Kyungsoo berusaha memancing.

"Datang sebagai teman." jawab Serin sengaja memberi penekanan pada kata 'teman'.

Kyungsoo tertawa. "Kau kecewa cuma dianggap sebagai teman?"

"Aku? Haha, yang benar saja." Serin memutar matanya. Ia berusaha mengelak dengan tawa yang terdengar sangat dipaksakan, namun ekspresi wajahnya tak bisa bohong.

Kyungsoo meraih tangan Serin dengan tangan kanannya, sementara tangan yang lain tetap pada kemudi mobil. Gadis itu sedikit terperanjat oleh tindakan Kyungsoo.

"Kenapa kau selalu mengkhawatirkan banyak hal?" tanyanya lembut. Ia menyematkan jemari tangannya di antara ruas jari tangan gadis itu. Entah kenapa perlakuannya barusan sedikit berhasil menenangkan Serin. "Kau kan tahu, perasaanku tidak pernah berubah padamu."

"Mana mungkin aku tahu?" ujarnya pelan hampir seperti sedang berbisik.

Kyungsoo mengeratkan genggaman tangannya. Perasaan bersalah itu muncul lagi. "Serin–" ia mengurangi kecepatan mobilnya. "Kau masih ragu padaku?"

Serin melihat tangan Kyungsoo yang sedang menggenggam erat tangannya. Ia bukannya ragu pada Kyungsoo, ia justru ragu dengan dirinya sendiri. Entah kenapa bekas luka bertahun-tahun lalu kadang masih terasa sakit. Ia tahu bahwa ketika ia memutuskan untuk memberikan Kyungsoo kesempatan kedua, selalu ada peluang baginya jika suatu saat ia kembali terluka. Dan ia masih belum siap jika ia harus terluka lagi–karena orang sama.

Tangan Serin yang lain ikut memegang punggung tangan Kyungsoo. "Kalau ternyata aku memang ragu, kau juga akan meragukanku?"

Mobil Kyungsoo bergerak ke arah bahu jalan kemudian berhenti sesaat. Kyungsoo menoleh hingga tubuhnya benar-benar menghadap kursi penumpang di sebelahnya. Ia menatap Serin serius.

"Tidak. Aku tidak ingin melepasmu lagi."


***

Universe in His EyesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang