( Day ) 四 [ Yon ] - Harden

30 8 0

Tiba-tiba, [ Name ] berhenti di suatu situs yang memiliki topik tentang ‘ perceraian ‘. [ Name ] langsung menekan tombol ‘ baca ‘ pada situs itu. Berita yang disuguhkan dari situs tersebut tidaklah mengenakan di mata [ Name ] dan membuat [ Name ] ingin segera melempar ponselnya itu keluar apartemennya.

‘ CEO dari perusahaan Kitakado Corp menggugat perceraian dengan istrinya ? ‘

DHEG. Jantung [ Name ] serasa mau copot. Apa dia serius ?  batin [ Name ]. Dilihatnya tanggal publikasi . 4 Hari yang lalu, masih baru. Lalu, muncul situs lain dengan tema yang sama, dengan judul berbeda.

‘ Perempuan misterius yang menjadi alasan gugatan perceraian Kitakado Tomohisa. ‘

[ Name ] langsung menekan tombol ‘ baca ‘ pada situs tersebut, dan melihat beberapa foto Tomohisa dengan wanita yang bernama Merilya itu. Perasaan dan pikiran [ Name ] saat itu juga terombang-ambing. Marah,  sedih, tercampur, membuat [ Name ] seperti orang gila. [ Name ] langsung keluar apartemen, menuju tempat Tomohisa.

Sesampainya, [ Name ] langsung tancap gas mencari Tomohisa.

— Time skip by author's lazyness :v —

Sampailah [ Name ] di mansion milik Tomohisa.  Tanpa babibu,  [ Name ] langsung saja masuk mansion itu tanpa mengindahkan petugas keamanan mansion yang sudah memperingatinya sambil marah-marah.Karrna keributan tersebut,  muncul suara yang berasal dari pintu mansion.

“[ Name ] ? Sedang apa disini?” tanya Tomohisa yang sedari tadi melihat [ Name ] berdebat dengan petugas keamanan.

“Tomohisa!  Kau sungguh-sungguh mau bercerai?” tanya [ Name ] yang langsung ngegas.  

“Kau pikir aku bergurau? Ini bukan masalah sepele, dan aku tidak main-main.” kata Tomohisa dengan tegas.

Namun, [ Name ] merasakan ada tatapan kesedihan di manik biru Tomohisa. Tunggu,  kenapa dia sedih? Batin [ Name ]. Entahlah apa jawabannya, yang penting sekarang [ Name ] harus menggagalkan perceraian itu secepatnya.

“Apa.. Kamu.. Terpaksa?” tanya [ Name ] kepada Tomohisa. Seketika,  manik Tomohisa membulat setelah mendengar pertanyaan [ Name ].

“Menurutmu bagaimana?” Tomohisa balik bertanya kepada [ Name ] kemudian memilih untuk kembali masuk ke dalam mansionnya.

[ Name ] yang merasa terpukul dengan kata-kata Tomohisa yang terbilang dingin itu, langsung pergi meninggalkan halaman mansion sambil menahan bulir air matanya yang hampir keluar.

Melarikan diri memang bukanlah jalan keluar,  tapi bagaimanapun juga [ Name ] adalah seorang wanita yang hatinya cukup rapuh,  apalagi dilontarkan dengan ucapan dingin seperti tadi. Rasanya, [ Name ] ingin menyerah saja.

Di tempat yang berbeda – latar tempat sebelumnya,  Tomohisa sedang merundung, merenungkan ucapan barusan ia ucapkan.

“Apa aku ini bodoh?” gumam Tomohisa.

— Reader POV —

Aku berlari tanpa arah tujuan. Kemanapun asal menjauh dari dia, batinku. Apa aku harus menyerah? Haruskah aku memberikan Tomohisa ke genggaman si Merilya itu? Aku mencintai Tomohisa, tapi..  Haruskah aku membiarkannya bahagia walaupun aku yang harus berduka? Apa Tomohisa akan bahagia dengan Merilya-San? Kalau dibilang ‘mereka cocok’ memang tidak salah. Ah.. Aku bimbang. Aku menarik-narik rambutku sendiri bak pasien rumah sakit jiwa yang kabur ke keramaian jalan. Kemudian, aku memilih untuk meneruskan perjalananku ke apartemenku. Tepat di sebuah gang sempit. aku mendengar suara yang cukup familiar. Ku dekatkan diriku ke gang tersebut untuk menguping.

“Aku rasa kita berada di dekat puncak kemenangan.” sahut seseorang yang kedengarannya berjenis kelamin wanita yang sedang berbincang dengan orang lain.

“Kamu benar. Kamu sangat jenius menggunakan strategi tersebut.” jawab lawan bicaranya yang suaranya terdengar berat. Oke, lawan bicaranya pria.

Dengan sepucuk keberanian, aku mengintip untuk melihat seseorang dibalik suara-suara tersebut. Selanjutnya,  aku melihat penampakan realita yang membuatku sangat terkejut.

10 Days to DivorceWhere stories live. Discover now