2

77 19 0
                                                  


Kringgg....


Terdengar bel istirahat diseluruh penjuru sekolah. Akhirnya waktu yang ditunggu para murid tiba.

"Ren, gue ke kelas Chimin dulu ya" kataku pada Irene teman sebangkuku.

"Ya udah, gue ke kantin duluan sama Wendy" aku hanya mengangguk menanggapinya. Lalu, Irene pun melangkah keluar kelas bersama Wendy.

Aku membuka tasku, lalu mengambil taperware yang berisikan sandwich buatanku dan sebotoh minum. Akupun segera melangkah menuju kelas Jimin.

Saat di depan kelas Jimin, aku tidak langsung masuk. Aku mengintip dari pintu kalasnya, mencari sosok laki-laki kesayanganku. Tapi, tidak ada.

"Gi, lo nyari Jimin?" aku berhenti dengan kegiatanku dan menatap laki-laki yang tengah duduk berbincang dengan teman-teman Jimin yang lain. Aku hanya mengangguk.

"Dia udah keluar duluan" jawab laki-laki itu, yang sangat aku kenal. Taehyung.

"Kemana?"

"Ngga tahu" Taehyung mengendikan bahu, tidak tahu.

"Ya udah, makasih" aku beranjak dari sana dan melangkah mencari Jimin.

Aku sudah mencari hampir di seluruh penjuru sekolah tapi, nihil. Tidak ketemu. Bahkan tempat favorit Jimin membolospun sudah aku kunjungi. Sekarang tinggal satu tempat yang belum aku kunjungi, taman belakang sekolah.

Aku berjalan menuju taman belakang sekolah. Saat sampai disana aku bisa melihat Jimin yang sedang duduk dengan gadis yang aku tahu itu adalah kakak kelas kami. Gadis itu tampak genit pada Jimin. Dia memeluk lengan Jimin yang hanya dibalas tatapan datar dari mata Jimin.

Aku menghela nafas panjang. Lalu mendekat sampai dihadapanya.

"Maaf ya Kak, Jimin pacar aku. jadi bisa ngga Kak  Yoona jaga sikap?" ucapku penuh penekanana. Kak Yoona menatapku tak suka. Lalu beranjak pergi.

Aku tersenyum, lalu duduk disamping Jimin. Aku membuka taperware. Mangambil satu potong sandwich dan mengarahkanya ke mulut Jimin.

"Aaaaa..." aku susah seperti ibu yang sedang menyuapi anaknya makan.

Awalnya Jimin berusaha menolak namun akhirnya dia memakanya. Aku tersenyum.

"Chim" panggilku.

"Hm?" gumamnya yang sedang mengunyah tanpa menatapku.

"Bisa ngga jauhin Kak Yoona?" sebenernya aku ragu mengatakanya, tapi aku rasa aku harus tegas sedikit padanya. Bukan karna aku mendengarkan olokan dari murid sekolah yang menganggap aku adalah wanita yang tidak bisa menjaga pacarnya, tapi  Bukankan Jimin pacarku? jadi aku berhak bukan?.

"Kamu tahu aku tidak pernah mendekatinya" jawabnya datar sambil meminum air di botol yang ku bawa.

"Setidaknya beri tahu dia untuk menjauhimu"

"Berhenti cemburu, aku tidak pernah menyukai dia" Jimin hanya menatap lurus.

"Tapi dia selalu mendekatimu"

"Jangan mendengarkan kata orang"

"Aku tidak pernah mendengarkan kata orang, tapi bukankah aku pacarmu, aku tidak mau melihatmu yang terus didekati perempuan lain" Jimin berdiri dari duduknya

"Berhenti bersikap kekanak-kanakan, jangan mendebatkan hal yang tidak penting" setelah kalimatnya, Jimin berjalan menjauh.

Aku manghela nafas, mengutuk diriku sendiri. Kenapa aku harus mengatakan itu. Aku tahu Jimin tidak menyukai kakak kelasnya itu, tapi kenapa aku sangat bodoh sekali. Seharusnya aku tidak perlu mempermasalahkan hal yang sudah biasa. Akhirnya aku memutuskan untuk menuju kelas dengan tubuh lemas.

Can You Love Me Jimin? | SEULMINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang