Setelah sampai di kelas aku mendukukan diri di bangkuku. Menghiraukan panggilan Wendy yang duduk dibelakangku.

"Heh Gi, lo kenapa sih? muka kusut kaya jemuran" Wendy menepuk bahuku. Aku menengok untuk menatapnya dan menggeleng. "Gue ngga papa"

"Alah paling Jimin lagi" ucap Irene remeh yang duduknya sebangku denganku.

"Cerita kali Gi," bujuk Wendy.

"Gw cuma lagi lemes aja" aku berusaha mencari alasan.

"Gi, lo pikir gw ngga liat apa yang terjadi sama lo dan Jimin tadi. udah lah Gi, stop ngelak" aku sedikit kaget dengan ucapan Irene, dia bilang dia melihat semuanya tadi.

"Tadi cuma--"

"Cuma apa? cuma karna lo ngungkapin perasaan cemburu lo dan Jimin sama sekali ngga peduli tentang itu?" belum selesai kalimatku sudah dipotong oleh ucapan pedas Irene. Meski sudah biasa tapi tetap saja membuat hatiku tak nyaman.

"Chimin cuma ngga mau masalahnya panjang bukan karna dia ngga peduli sama perasaan gue" aku berusaha membela.

"Gue ngga tahu apa yang ngebuat lo bertahan sama cowok dingin kaya dia, tapi gue bahkan ngga pernah liat dia bersikap manis ke lo"

"Ren, cukup" sepertinya Wendy berusaha menghentikan Irene.

Aku hanya diam. Malas berdebadkan hal yang sama setiap hari dengan Irene.

"Kenapa lo diem? benerkan? udahlah Gi, sekarang buka mata lo"

"Gue percaya sama Chimin dan akan selalu kaya gitu" aku buka suara.

"Hah? what?" suara Irene terdengar terkejut mendengar pernyataanku.

"Secinta itukah lo sampai bahkan lo buta sama logika" lanjutnya.

"Udah cukup Ren, hargai perasaan Seulgi" Wendy berusaha membelaku.

"Ngga Wen, dia udah bener-bener buta"

"Kang Seulgi, apa ngga cukup di mata lo dengan semua kenyataan yang terpampang jelas di depan lo? Jimin ngga pernah peduli sama lo... atau bahkan dia ngga pernah cinta sama lo? dengan sikap dinginya ke lo dan sering main cewe di club, apa itu belum cukup?"

"Cukup!" dengan setengah berteriak aku berdiri dari dudukku. Emosiku membludak saat dengan gampangnya Irene mengatakan Jimin main perempuan di club. Sabar bila kata-kata pedas Irene mengejekku, tapi tidak bila pada Jiminku. Aku tidak akan pernah membiarkanya.

"Lo boleh ngejek kebodohan gue sepuas lo Ren, tapi ngga dengan Chimin. Jangan ngomong hal yang belum pasti kebenaranya" aku menatap Irene yang masih duduk dan terlihat sedikit terkejut.

"Dan bukankah seorang sahabat seharusnya mendukung sahabatnya?" aku sedikit meninggikan suaraku hingga satu kelas menatapku, tapi aku tidak peduli. Setelah kalimat itu aku keluar dari kelas.

***

Sudah lebih dari limabelas menit aku di sini, berdiri di depan cermin toilet sekolah. Merutuki semua perbuatanaku. Seharusnya aku menahan emosiku tadi. Tidak seharusnya aku bertengkar dengan Irene karna masalah seperti ini. Sudah sejak sekolah dasar kami berteman, dan apakah hanya karna masalah seperti ini persahabatan kita harus hancur. Ah, tidak. Aku tidak siap untuk itu. Jujur saja aku menyayangi Irene, dia sahabatku. Meski kadang sikap dingin dan pedasnya membuatku kesal. Tapi tetap saja dia adalah sahabat kecilku.

"Akhh...Seulgi kenapa kau bodoh sekali!" aku mengacak rambutku, frustasi.

"Gi," sontak aku menengok ke belakang mendengar suara Wendy.

"Wen..." aku memasang wajah menyesal. Wendy langsung mendekat dan memelukku.

"Gue khawatir sama lo" ucapnya ditengah pelukan kami.

"Gue nyesel Wen, gue bodoh banget. Kenapa gue bersifat kekanak-kanakan"

"Udah, jangan nyeselin hal yang udah terjadi. Sekarang tinggal bagaimana nyelesaiin masalah ini" tangan Wendy mengusap pelan punggungku.

"Irene juga nyesel karna sikapnya tadi" lanjutnya dan sekarang kita sudah melepaskan pelukan.

"Gue harus minta maaf ke dia" ucapku.

"Iya itu harus, lo tahu gimana gengsinya dia kalo disuruh minta maaf, jadi lo yang harus mulai duluan" ya, benar. Irene memiliki gengsi yang tinggi, jadi mau siapapun yang salah dia tetap tidak mau meminta maaf duluan.

"Tapi gue rasa ngga sekarang" ucapku ragu. Wendy mengusap punggungku lagi.

"Ya udah, lo tenangin diri lo dulu. Gue juga bakalan nenangin Irene" aku mengangguk dan tersenyum.

"Makasih ya, Wen" Wendy tersenyum. Ia melirik jam tangannya.

"Kayanya Bu Mega udah masuk, gue ke kelas dulu ya,"

"Nanti lo gue izinin, bilangnya lo lagi sakit di UKS" aku mengangguk sebelum akhirnya Wendy meninggalkanku di toilet sendiri.

Sepertinya aku akan bolos sampai jam terakhir. Tidak mungkinkan kalo aku kembali ke kelas dan duduk sebangku dengan Irene. Aku memang akan meminta maaf tapi, aku rasa aku akan melakukannya besok. Aku ingin menenangkan pikiranku dulu. Bukan hanya karna pertengkaranku dengan Irene tapi, karna Jimin juga. Aku juga harus meminta maaf padanya, karna telah membuatnya marah.

"Kemana gue harus bolos?" sebuah pertanyaan yang entah aku lontarkan untuk siapa.

***

Please comment your opinion for my story🤗😍

Can You Love Me Jimin? | SEULMINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang