Character visuals are made just for easy the story line, and if it doesn't match with your imagine character, you can imagine the character as you would like yaa sweetie-!
➳ • ➳
"What?! jadi maksudnya lu baru masuk ke sekolah ini? bukan asli dari kelas D dong berarti? pantes aja gue kek asing banget belum pernah liat." Cecar salah satu siswi yang tengah duduk di bangku kantin berdampingan dengan 3 orang lainnya.
Sejenak obrolan terhenti ketika makanan mereka sudah datang, "Makasihh mang," Ucap salah satunya berterima kasih dengan senyum ramah.
"Oke, ini punya Abel, ini punya Kate, dan yang ini punya gue." Cetusnya membagi urut pesanan mereka.
"Lah, punya gue manaa Cle?" Cewek yang bernama panjang Cleorie Vivien dan kerap kali dipanggil Cleo itu langsung tersenyum simpul kepada Eve, yap, Eve ini yang membawa Abelline duduk diantara mereka bertiga.
"Hehe, punya lu belom gue pesenin."
"Dih, kok gitu sih, jahat banget Cleo!" Eve memanyunkan bibir seperti anak kecil yang sedang ngambek.
Cleo terkekeh, "Yaudah iya, gue pesenin lagi, tunggu."
"Iklas ga nih tapi?'" Tanya Eve.
"Iya ah bawel, pesen doang kan." Kemudian ia berdiri dan berjalan ke etalase stand food di kantin tak jauh dari mereka.
"Nah gitu dong, makasih Cleo." Eve menyilangkan tangan di dada seperti bos.
Teman-temannya hanya cekikikan melihat tingkah Cleo dan Eve, menurut Abelline mereka ini tergolong sangat asik dalam kategori yang baru kenal.
"Cleo emang suka gitu, usil anaknya apalagi kalo ke gue, hobi banget tu anak," Ujar Eve menyedot minumannya.
"Ngomong-ngomong sampai mana tadi?" Sambungnya lagi.
"Oiya, gue tadi nanya Abelline pindahan sekolah lain? terus kenapa milih pindah kesini?"
Abelline sejenak menatap ketiganya,
"Ceritanya panjang, gue bingung mulai dari mana."
"Dari lu bisa kesini aja dulu." Saran Kate, dan mereka mengangguk seksama.
"Oke, jadi," Belum sempat Abelline memulai, Cleo pun datang.
"Eeeh tunggu tunggu, gue juga mau denger, oke lanjut." ia duduk, dan Abelline menyambung pembicaraan.
"Jadi gue pindah karena baru balik lagi ke Jakarta, 2 tahun gue ada di Aussie, gue sekolah disana, terus gue kesini sekitar 5 bulan yang lalu, dan sempet homeschooling sampai akhirnya gue disekolahin disini." Temannya manggut-manggut mendengar penjelasan Abelline.
"Terus ko lu bisa masuk kelas D?" Tanya Eve.
"Itu sebenernya gue juga gatau, tiba-tiba aja dimasukin kesana, mungkin salah input data nama? tapi gue juga gatau kenapa bisa salah gitu, yang jelas awalnya gue emang dimasukin ke kelas A."
"Ohh gitu, tapi nih ya Bell emang boleh pas kelas akhir pindah sekolah? setahu gue yang boleh pindah sekolah tuh kalo masih dikelas 10, kok lu bisa sih?"
Abelline tersenyum simpul, "Papa gue yang punya yayasan ini." Temannya yang mendengar langsung terkagum tak percaya.
"Hah seriusan, Bell?" Abelline mengangguk, kemudian menyendok batagor pesanannya.
"Woww, keren banget ih, temen kita anak yang punya yayasan, gaboleh ada yang macem-macem nih keknya sama Abel, bisa-bisa di debak dari ni sekolah." Cleo terkekeh.
Abelline kembali tersenyum, "Apasih ngga kok biasa aja, actually gue lebih nyaman kalo orang nganggep gue orang biasa, ya walaupun kalian udah tahu yang sebenarnya, tapi gue minta sama kalian biasa aja ya ke gue, jangan gara-gara papa gue yang punya sekolah kalian jadi ngelihat gue kayak orang berkuasa disini, kan yang punya ini sekolah papa gue, bukan gue sendiri, oke?"
"Mmm, sweet banget sih, baik banget sih bell." Ujar Kate dengan mellow, kemudian mereka berempat berpelukan ringan.
"Oh iya Bell, ngomong-ngomong tadi lu liat ga cowok dikelas kita yang wajahnya kek kulkas 4 pintu?"
Abelline mengerutkan dahi, kebingungan.
"Hah, yang mana?" tanyanya.
Eve memberi isyarat seperti menunjuk-nunjuk kepada seseorang yang tak jauh dari mereka, tepatnya di seberang meja mereka, "Tuh, yang itu."
Abelline seketika memutar ingatan, dia cowok yang natap gue tadi bukan sih? batinnya.
"Mmm, im not sure, tapi kayaknya tau deh, yang dikelas kita?"
"Iya bener banget, lu tau ga dia siapa?"
Abelline menggeleng.
"Namanya Anreo, itu anak direktur sekolah, dan dia tuh orangnya dingin banget kek es batu, apalagi ke cewek, cuma nih ya tadi gue lihat dia ada natap elu, kalian saling kenal?" Tanya Eve penasaran.
Abelline langsung menggelengkan kepala, temannya pun saling melempar pandang.
"Gue kira kalian saling kenal, secara bokap lu kan pemilik yayasan dan bokap Anreo direktur, gue kira emang kenal."
"Emang kenapa sih?" Kini Abelline yang penasaran.
"Bell, gue kasih tau ya, Anreo itu paling anti sama cewek, tapi bukan berarti dia suka sesama jenis juga ya, setau gue gara-gara dia kehilangan nyokapnya, dia jadi nutup diri ke semua cewek, makannya gue tadi kaget waktu dia notice lu Bel, dia gapernah ngelirik cewek manapun soalnya."
Abelline hanya terpaku mendengar penjelasan temannya, antara bingung dan juga tidak tahu harus menjawab apa, soalnya dia pun sama sekali tidak kenal dengan cowok tersebut.
Sejenak Abelline memperhatikan wajah cowok itu, menyipitkan mata seperti ada sesuatu diingatannya.
"Bell? Are you okay?" tanya Eve membuyarkan lamunannya.
"Gue kayak ga asing aja sama muka itu cowok, tapi gue gapernah ketemu dia kecuali dikelas tadi."
Mungkin gara-gara tadi kali di kelas,"
KAMU SEDANG MEMBACA
LEIGHTEZZO
Teen Fiction(16+) Meganreo Anderguez, cowok tampan dengan garis wajah tegas serta tatapan elang selalu membingkai sifat dinginnya, tak heran jika sering kali ia dijuluki 'kutub utara' karena sikapnya sedingin es batu, dan bisa segalak harimau kepada siapapun ya...
