(16+) Meganreo Anderguez, cowok tampan dengan garis wajah tegas serta tatapan elang selalu membingkai sifat dinginnya, tak heran jika sering kali ia dijuluki 'kutub utara' karena sikapnya sedingin es batu, dan bisa segalak harimau kepada siapapun ya...
Character visuals are made just for easy the story line, and if it doesn't match with your imagine character, you can imagine the character as you would like yaa sweetie-!
➳ • ➳
Cowok tampan dengan motor sport warna hitam mulai menaikan kecepatan pacu lajunya menghindari rambu lalu lintas agar tidak berubah menjadi warna merah, dengan mata tajam tatapan elangnya ia fokus kedepan diiringi dengan deruman kendaraan dijalanan, dan hanya sekitar 15 menitan dijalan ia sudah sampai didepan sebuah gerbang Sekolah Menengah Atas Internasional yang ada di kota metropolitan Jakarta itu,
'SMA Falcon Radjasa' tulisan monumen terpampang jelas ketika memasuki gedung, ia pun mulai mengurangi kecepatan lalu melaju stabil menuju parkiran.
Ia adalah Meganreo Anderguez atau biasa dipanggil Anreo, cowok dingin, serta galak dengan paras tampan serta menawannya selalu menjadi pusat perhatian banyak siswi disekelilingnya, okay tak usah jauh-jauh untuk ini, baru saja ia berjalan masuk kedalam gedung sekolah, sudah banyak murid perempuan menatapnya dengan dramatis serta histeris seolah dia ini adalah artis yang mengunjungi sekolahnya.
Pagi itu masih tersisa sekitar 15 menit sebelum bel masuk berbunyi dan Anreo memutuskan untuk pergi ke kantin terlebih dahulu menemui teman-temannya.
"Widihh, liat siapa yang dateng." Cetus salah satu dari mereka dan kemudian kompak melihat arah kedatangan Anreo.
Anreo berjalan mendekat, menyalami temannya satu persatu dengan 'high five' atau seperti toss,
"Yoo, Anreo, tumben dateng pagi."
"Dateng juga pangeran sekolah kita," Cecar yang satunya sambil terkekeh.
Anreo mengambil duduk di sebelah kiri temannya dan menaruh tas miliknya.
"Ngebut gua tadi, males gua kalo disuruh jongkok lagi ditengah lapang." Pernyataan nya itu langsung disambut dengan seloroh tawa temannya.
"Tawa lu," Tukas Anreo.
"Hahaha, lagian lu akhir-akhir telat mulu, ada apa sih men?
"Tau dah, kenapa sih kenapa? cerita dong." Tanya teman yang satunya lagi sangat kepo.
Seketika Anreo terdiam menyilangkan kedua tangannya diatas meja, seketika ia larut dalam lamunannya.
"Mikirin cewek lu ya?" Ceplos salah satu temannya membuyarkan lamunan.
"Bro gua kasih tau, lagian ga mungkin lah seorang Anreo mikirin cewek, sama cewek aja dia anti banget, ya ga Re?" Ujarnya dengan watados kearah Anreo.
"Tau sendiri." Jawab Anreo singkat.
Seketika temannya langsung tersadar, "Eh, sorry Re, gua ga maksud ngingetin lu." Ia menepuk pundak Anreo.
Anreo menganggukkan kepalanya keatas sekali sembari menatap meja didepannya sejenak.
"Yah elu sih, sedih tuh kan si Anreo." Cetus yang lainnya mengompori.
"Ya maap, ga bermaksud gua, sorry Re sekali lagi." Tukasnya, merasa sedikit bersalah.
"Iye ah santai aja, ngomong-ngomong ini yang satunya kemana? belom dateng?" Tanya Anreo mengganti topik, sambil celingukan mencari keberadaan temannya yang satu.
"Siapa? oh si Abe? lagi boker dia, kebelet tadi katanya." Anreo yang mendengar hanya ber-oh ria saja.
"Nah tu anaknya, panjang umur."
"Weitss, Anreo." Abe yang baru datang menyapa dengan salam 'high five', kemudian ia duduk.
"Darimana lu?" Tanya Anreo membuka obrolan, walaupun ia sudah tahu dari mana temannya pergi barusan.
"Biasa panggilan alam," jawabnya sedikit terkekeh.
"Bro bro, gua bawa berita penting ting ting ting!" sambungya lagi sedikit serius, dan merendahkan volome suaranya sembari mengecek sekeliling.
"Apaan?"
"Tadi gua lihat ada ortu murid lagi ngobrol sama kepsek, gua denger katanya bakal ada siswi dari kelas D pindah kelas kita besok lusa." ujar Abe, lalu menyedot minumannya.
"Lah? nguping lu ya? kok tau."
Abe meringis dengan watadosnya, "Dikit doang elah, abisnya mencurigakan gua liatin dari jauh, jadi gua deketin tapi ngumpet, terus gua dengerin, katanya pindah kelas gitu lah intinya."
"Serius lu? tapi bentar dulu, kok bisa tu anak kelas D ke kelas kita?" Tanya salah satu dari mereka, namanya Rega.
"Lah iya juga ya? bukannya tu kelas D anak buangan?" Timpal yang satunya lagi, namanya Ken.
Abe menggidikan bahu, tanda tak tahu.
"Menurut lu gimana Re?" ujar Abe melempar pertanyaan.
Anreo menaikan satu alisnya, "Apaan? bodoamat juga mau kemana yang penting ga ngusik gua." tukasnya datar.
Temannya saling melempar pandang, ya kerena memang mereka sudah hapal bagaimana Anreo, semenjak kejadian itu dia menjadi sangat dingin dan tak acuh kepada orang manapun apalagi makhluk yang namanya cewe, dan yang menganggu ketengannya.
"Yaudeh, balik kelas dah, kurang 5 menit lagi." ujar Abe menutup pembicaraan, kemudian mereka berjalan beriringan menuju kelas.
➳ • ➳
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Note : maaf apabila ada kesamaan atau kemiripan pada tokoh pemain, ini hanya cerita fiktif belaka.