4. Mendekatimu

Mulai dari awal

"Ogah anjir.. lagian lu cuma tau Keylo dari luar, meskipun dia anak bangor (nakal) yang juga doyan ikut tawuran kayak kita, tapi dia manis Lang.. lu harus liat Keylo dari sisi berbeda!" Ucap Kevan membantah ucapan Gilang. Gilang hanya manggut-manggut dengan muka bodohnya. Bisa di bilang, Gilang itu tak tau apa-apa hanya iya-iya in saja.

"Yaudah, perjuangin cinta lu Van.. tar kalo lu mati gara-gara di siksa sama si Keylo lu bakal terus gue kenang.. gue kibarin bendera gambar kondom tiap kali nemu tanggal kematian lu.. tenang aja cuy, lu gak akan terlupakan."

"Thanks ye.." ucap Kevan sambil tersenyum hambar. Ia tak tahu lagi harus membalas apa. Mood nya berantakan saat ini.

Sementara Gilang hanya diam tanpa kata (mirip judul lagu ye). Ia menatap lurus kearah depan. Matanya menyipit kala irisnya menangkap sosok tak asing dimatanya. Ia langsung menggoyang-goyangkan pinggul *eh bahu Kevan. Membuat pria dengan tubuh tegap itu menoleh dengan tampang sewot kearahnya.

"Apaan sih nyet.."

"Itu mbeb lu njing!"

Kevan menatap spontan kearah yang Gilang tunjuk. Disitu ada Keylo yang sedang merokok sambil selonjoran dengan teman-temannya. Ia menatap sosok itu pekat tanpa suara. Membuat Gilang greget untuk mengutarakan sarannya.

"Deketin gih.."

Kevan menatap Gilang polos. Ia bingung harus bagaimana. Apa ia harus mencari gara-gara seperti biasa? Atau Kevan harus berlagak sok imut seperti anak-anak TK? Ah jangan Kevan! Kamu kan seme! Harus berwibawa lah. Jalan tegap sambil ngelus Otong misalnya.

Eh.. eh.. eh..

"Si anjir malah cengo sambil liatin komuk gue.. gue tau gue ganteng, tapi jangan sampai segitunya.." ucap Gilang PD sambil menggelengkan kepalanya. Kevan melotot dengan wajah jijik. Ia kembali fokus menatap Keylo yang kini sedang sibuk meng 'kiw-kiw' kan setiap ibu-ibu yang lewat.

"Gue samperin pake modus apa ya, Lang?"

"Jangan pake modus mulu, median sekalian.."

"Kenapa gak pake kuartil?"

"Karena rumus pitagoras tak cukup untuk menyatukan diagonal-diagonal cinta."

Anjirrrrrrrrrr..

Kevan guling-guling sambil ngakak nista. Ia menyengir lebar sambil menatap muka Gilang yang sudah berkaca-kaca. Gini nih kalo status jomblo sudah buluk dan kadaluarsa. Jadi pinter ngolah bahasa. Untung disini hanya ada Kevan. Kalo gak, udah habis si Gilang jadi bahan bully an kaum hawa.

"Ngakak terus.. Ampe terbang pala lu.."

"Anjir serem, tar gue gak keliatan cogannya.."

"Yaudah samperin bego! Katanya mau pdkt, pantat lu di lem ya? Betah amat disini gak minggat-minggat."

"Njir iya-iya.." ucap Kevan yang akhirnya mengalah. Ia berdiri dari tempatnya duduk sambil disusul Gilang setelahnya. Mereka berdua berjalan gagah kearah Keylo.

Keylo yang dari tadi sudah menyadari kehadiran mereka hanya mengerutkan keningnya heran sambil menatap tajam kearah Kevan. Tatapan mata mencekam itu di terima baik oleh hati Kevan. Ia mundur satu langkah. Dan kembali maju lagi, mundur lagi. Dan kembali maju lagi. Jadilah disitu Kevan hanya maju mundur cantik sambil cengengesan liatin muka Keylo.

Anjir, gak macho amat!

"Ngapain lu cengengesan?"

"Ngapain lu liatin gue gitu?"

"Gue heran sama lu!"

"Gue juga."

Hening pun menyelusup masuk diantara mereka. Tak ada obrolan lain selain suara nafas yang berhembus pelan dari hidung mereka. Ya iya lah pelan. Ya kali kenceng, tar ada badai.

Keylo mendengus, ia menatap wajah bego Kevan. Dengan sisa mood yang belum teracak-acak. Ia berdiri dan menatap lawan bicaranya tajam. "Lu nyamperin gue mau apaan? Ribut?"

Ya begitulah mereka saat di luar kosan. Musuh yang benar-benar musuh. Selalu ribut dan cari gara-gara. Meskipun memang Kevan yang selalu kalah (mengalah) tapi tetap saja Keylo tak pernah puas membully nya.

"Lu lagi mau ribut?" Tanya Kevan sambil menaikkan sebelah alisnya heran. Keylo hanya mendengus pelan. Jujur saja, dia lagi gabut.

"Yaudah, ayok ribut!" Semudah itukah Kevan mengajak ribut? Seperti anak TK yang baru mengenal berantem. Kevan bahkan tidak memikirkan hal buruk yang akan terjadi padanya setelah ini. Yang ia inginkan hanya melihat Keylo nya tertawa puas karena kemenangan. Kemenangan yang sampai sekarang masih menjadi miliknya. Meskipun harus babak belur, Kevan rela asalkan Keylonya bahagia.

Gilang yang merasa hatinya tak enak pun mundur selangkah. Ia mencolek-colek tangan Kevan. Memberikan isyarat bahwa Keylo tidak hanya sendirian disana. Ada dua temannya yang setia menatap sosok lawannya dengan tatapan tajam. Membuat Gilang menelan salivanya spontan karena ngeri.

"Van.. Van.."

"Van.. Kevan.."

Keylo yang melihat ekspresi ketakutan Gilang hanya mampu tersenyum miring. Ia menatap teman-temannya bergantian agar menatap satu objek yang sama. Dua ajudan Keylo pun terkikik geli. Mereka menatap lawannya rendah.

"Van.. mending lu pulang aja gih, gue takut temen lu ngompol disini.." ucap Keylo sambil tersenyum miris. Menatap Gilang yang kakinya sudah mulai melemas karena takut. Kevan yang sepertinya tersadar pun langsung menatap Gilang spontan. Memberikan isyarat agar sohibnya itu pulang saja. Gilang kan bukan anak nakal yang doyan tawuran. Kevan tak mau Gilang bonyok hanya karena ulah Keylo.

"Lang, pulang gih.."

"L-Lu gimana?"

"Pulang aja Lang.."

"Van, gue.."

"Pulang, Gilang!"

Gilang mengangguk patuh. Ia langsung ngacir menjauhi zona bahaya. Sementara Kevan disana hanya tersenyum lebar. Ia menatap wajah Keylo yang terlihat manis meski saat tersenyum bengis. Ia menyukainya. Meskipun ia harus berkorban rasa sakit karenanya.

"Gue bakal abisin lu Van.."

"Silahkan.."

______________Zzz_______________

Keylo itu bukan uke tulen ya, ada macho-machonya! Entah kenapa saya suka cerita kayak gini. Kayak ada anunya gitu.

Awalnya saya bingung yang ngisi posisi seme itu saha. Tapi kayaknya udah ketebak ye? Wkwk nikmatin aja alurnya! Hati-hati desah :v

Btw gan, minta vote and comment dong. -3-

Arggghhh komen dan vote kalian itu mood booster ku loh hoho

MY STUPID ENEMY [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang