[22] The Friend and The Lover

48 4 1

Chanyeol masih memerhatikan sosok laki-laki yang telah berhasil mengunci mata Serin sejak beberapa detik yang lalu. Gadis itu tidak salah lihat. Orang itu benaran Do Kyungsoo. Ya, Do Kyungsoo yang 'itu'. Rasanya sudah lama sejak Chanyeol menahan perasaan gatal di tangannya untuk menghajar lelaki itu. Ia ingat sekali dulu ia pernah mengancam si pemuda Do jika dia sampai berani menyakiti Serin.

.

.

Chanyeol menarik lengan Kyungsoo dengan kasar setelah Serin memasuki gate. Ia menatap tajam lelaki yang lebih pendek beberapa inci darinya itu sambil setengah berbisik.

"Oh Serin, kau harus menjaga gadis itu, mengerti?"

Pandangan Kyungsoo sedikit mengarah ke atas karena jeda yang ada di antara ia dan tinggi lelaki Park itu. Lelaki itu menatap Chanyeol tidak suka. Si kecil ini tidak ada takut-takutnya. Entah kenapa tatapannya justru jauh lebih mengintimidasi ketimbang tinggi badannya yang tidak seberapa.

"Dengar, kalau Serin sampai kenapa-kenapa atau terjadi sesuatu yang buruk padanya, aku akan membunuhmu, ingat itu."

Kyungsoo tidak menjawab dan langsung menarik kasar lengannya yang dicengkram Chanyeol. Ia tak mengindahkan perkataan si lelaki Park dan segera masuk ke gate. Ia berlalu begitu saja tanpa merespon ancaman Chanyeol. Songong. Lihat saja kau, kecil, kalau sampai terjadi sesuatu pada gadis itu, kau akan habis di tanganku.

.

.

"Sialan." gerutu Chanyeol pelan. Tangannya sudah mengepal kuat sesaat sebelum ia beranjak dari kursinya. Chanyeol langsung bangun dan berjalan terburu-buru menghampiri pria bertubuh kecil itu. Ia merasa sudah memukul Kyungsoo duluan di dalam kepalanya, namun untuk saat ini ia hanya mampu menarik kerah mantel Kyungsoo. Benar-benar kuat hingga Kyungsoo hampir terjinjit karena postur Chanyeol yang tinggi.

Kejadian itu berlangsung sangat cepat sampai akhirnya Serin tersadar langsung berlari menyusul Chanyeol. Bagaimana jika Chanyeol benar-benar akan memukulnya?

"Jangan! Chanyeol!"

Beruntung, si lelaki Park belum mengarahkan tinjunya ke wajah Kyungsoo. Kyungsoo hanya menatap Chanyeol dengan wajah datarnya, ia sudah mengantisipasi situasi seperti ini jika ia bertemu Chanyeol suatu hari nanti. Ia sudah bisa menebak bagaimana reaksi si pemuda bertubuh besar itu saat melihatnya, dan benar saja sesuai dugaannya.

"Lama tidak bertemu, Park Chanyeol." sapa Kyungsoo masih dengan posisi setengah jinjit.

Chanyeol mendesis. Dia menguatkan cengkramannya pada kerah mantel Kyungsoo. "Apa kau bilang? Heh, jangan bersikap seolah-olah kita akrab ya sebelumnya."

Kyungsoo tersenyum dengan sebelah sudut bibirnya. Ia tahu betul Chanyeol sudah tidak menyukainya sejak pertama kali mereka bertemu. Lebih tepatnya saat ia mulai dekat dengan Serin.

Kyungsoo mulai melirik Serin yang sedang berdiri di sudut lain. Ia tersenyum pada gadis itu. Senyum teduhnya yang selalu dilemparkannya pada gadis itu dulu. "Kau tidak menjawab pesanku."

Serin mulai meraba-raba kantong mantelnya dengan gugup, seolah sedang mencari keberadaan si ponsel. "Ah, i-itu... aku..."

"Lega akhirnya bisa melihatmu lagi."

Serin mematung gugup.

Jangan. Jangan tersenyum. Jangan tatap aku seperti itu.

Seperti ada sesuatu yang meremas jantung Serin. Perutnya terasa mulas, tangannya ikut kaku. Dadanya mulai terasa penuh, juga sesak disaat yang sama. Tahu rasanya saat kau bertemu mantan yang sangat kau rindukan walau telah membuatmu melalui hari-hari yang begitu sulit saat berpisah dengannya?

Universe in His EyesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang