Malam ini sabtu, bulan desember
Seperti tahun tahun lalu, seperti musim musim lalu.
Malam ini hujan mengguyur sebuah gang kecil dari jalan utama sosro wijoyo di yogyakarta.
Angin sejak sore memang telah menggoyang dahan dahan dengan kencang, telah mengangkat debu debu menjadi materi dalam udara.
Hingga akhirnya sore langit memuntahkan isi perutnya, bersama halilintar sebagai bentuk amarahnya.
Delapan jam telah berlalu, aku ditemani secangkir kopi, dan sebuah buku novel terbaru dari Alfin Rizal dengan judul Mengunjungi Hujan Yang berteduh di matamu menabah hidup malamku.
Halaman demi halaman telah aku baca, hingga judul judul baru kutemui, terus ku baca.
Sesekali kuseruput kopi yang mulai mendingin ini, ini adalah kopi racikan saya, dimana minggu lalu aku menyengaja untuk keluyuran yogyakarta dan mencari jenis jenis kopi di sebuah wilayah jogjakarta dan akhirnya memutuskan membeli kopi dimana merupakan salah satu jenis kopi yang tumbuh di Gunung Merapi
Menurutku kopi ini harum, dan sangat cocok dengan urat urat dalam tenggorokanku, semakin dangkal sebab kuseruput, semakin aku mencintai si pekat hitam ini.
Kopi adalah minuman yang aku kenal ketika SMA, sebelumnya aku memang pernah meminumnya, namun tidak se gila dan se bergantung ini dengan kopi, sampai sampai kepalaku terkadang harus pusing tak jelas seolah telah menjadi alrm mengingatkan untuk segera mengencaninya. Ah terkadang aku merasa terlalu berlebihan padanya, inginkurubah kebiasaan itu, menjadi penikmat kopi yang sederhana.
Sebab beberapa bulan yang lalu, lambungku memang telah menolak dengan berunjuk rasa.
Ah, unjuk rasa lambung itu tak enak, seperti baru habis putus cinta.
Tak sadar waktu menunjukkan pukul 8:00, beberapa batang rokok mungkin telah melayang ke udara tanpa ku sadari, dan buku benar habis dalam satu hujan ini.
Kutarik badanku kurebahkan, bersama angan angan pikiranku yang masih tercemari oleh kisah dalam bacaan.
Kutatap langit langit kamarku tempat aku memojokkan semua pikiranku, menata ulang hidupku tiap harinya perlahan lahan, hingga kurasa siap untuk hari esoknya.
Trinting..
Nada ponsel di sampingku berdering, layar menyala ku lirik dan kubaca. Sebuah pesan masuk
Tertulis sebuah nama yang telah lama ku kenal, namun aku beberapa musim tak pernah menyentuh pesan padanya.
Renata, seorang gadis yang aku kenal sejak bangku SMA, dimana ia adalah seseorang yang pernah berdiri tepat disamping hatiku, sang dewi pada masanya. Ah..
Masih terheran heran dan agak gemetar ingin menyentuh ponsel itu, sebab masih berkecimuk rasa di dada.
Ah.. Mengapa hujan harus membuahkan demikian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Desember
Cerita PendekPada dunia yang mulai terselimuti oleh kalut gulita, dan segerombolan angin yang mengarak dedaunan menjulang keudara Kepul rokok dalam sembilu desember, seolah menceritakan kembali waktu itu, sebuah malam dengan semiliar kenangan.
