02 - Ada Apa, Sih?

31 10 1
                                              

Bel pertanda istirahat, berbunyi, yang mengundang helaan nafas lega dari semua siswa SMA Cendrawasih

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bel pertanda istirahat, berbunyi, yang mengundang helaan nafas lega dari semua siswa SMA Cendrawasih. Saila tadinya hanya berniat berdiam diri di dalam kelas dengan earphone yang sudah bertengger di telinganya. Tetapi rengekan dari Cyra yang terus memaksanya untuk ikut ke kantin sambil menarik-narik baju seragamnya, membuat Saila mau tak mau mengikuti langkah gadis manis itu.

Dan berakhirlah Saila disini. Duduk di bangku panjang yang ada di kantin. Dengan diiringi tatapan ingin tahu dari seluruh penghuni kantin yang bertuju ke arahnya. Yang pastinya membuat Saila risih setengah mati. Namun sebisa mungkin Ia mengabaikan semua itu.

"Lo mau pesen apa, La?" tanya Cyra yang sudah berdiri hendak memesan makanan.

Saila mengedarkan pandangannya ke penjuru kantin. Dan pilihannya jatuh pada bakso. "Mau bakso aja."

"Oke, tunggu bentar ya, gue pesen dulu." Lalu Cyra berjalan menghampiri salah satu stan untuk memesan makanan.

Saat menunggu Cyra kembali dari memesan, Saila tiba-tiba dihampiri tiga orang perempuan yang dandanannya cukup mencolok jika dibandingkan siswa-siswa lainnya. Ketiganya menatap Saila dengan pandangan menilai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Lalu salah satunya maju dan menyodorkan tangannya, ingin berkenalan?

"Gue Elsa."

"Gue Saila." Balas Saila sambil membalas jabatan tangan Elsa-perempuan tadi.

"Gue ketua club dance. Dan gue liat-liat, lo cocok jadi anggota gue."

Melihat tak ada niat untuk merespon, Elsa kembali berucap. "Gue mau nawarin lo untuk jadi anggota club dance. Dan perlu lo tau, gue nggak pernah nge-rekrut sembarang orang untuk gabung di club dance gue." Mendengar penuturan itu, Saila hanya mengangguk-angguk malas.

Lalu tak lama Cyra kembali dengan nampan di tangannya. Dahinya mengernyit melihat teman barunya dikerubungi oleh sekumpulan gadis yang terkenal centil di sekolahnya.

"La, ini baksonya." Katanya dan kembali duduk di hadapan Saila.

"Thanks, Ra."

"Inget penawaran gue tadi, kesempatan nggak dateng dua kali." Ujar Elsa lalu pergi meninggalkan meja Saila dan Cyra.

"Mereka ngomong apa, La?"

"Ngajak gabung di club dance." Balas Saila cuek sambil terus menyantap baksonya.

"Tumben. Terus lo mau?"

"Gue nggak bisa nge-dance, tarian daerah aja nggak ada yang gue hapal."

"Oh ya, hahaha, kalo gitu lo mau gabung ke club apa?"

Mendengar pertanyaan itu, Saila mengalihkan pandangannya dari baksonya yang tersisa setengah. "Gue nggak tertarik ikut begituan." Jawab Saila enggan

"Tapi sekolah ini mengharuskan setiap muridnya ikut minimal satu club, dan itu masuk ke nilai pokok." Jelas Cyra.

Saila hanya bisa menghela napas mendengarnya, dari dulu, Ia tidak pernah berniat ikut –apapun itu yang bisa disebut- ekstrakulikuler. Menurutnya, itu hanya lah mengganggu waktu belajarnya saja.

SAILARUSHTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang