BEGINNING

444 68 14

Selamat pagi semua.....

Selamat hari Ibu bagi reader yang sudah menjadi Ibu dan calon Ibu, semoga kalian semua selalu sehat agar tetap menjadi panutan untuk anak-anaknya.

Happy reading
--------------------------

Mentari mulai menampakkan diri di langit dan mengusik seorang anak yang masih menyusuri alam mimpi dengan cahayanya. Dengan enggan kelopak mata itu mulai terbuka dan mengerjap, menyesuaikan pandangannya pada keadaan sekitar.

Setelah beberapa kali kelopak mata itu mengerjap, si pemilik mulai menyadari keadaan sekitar. Jalanan kemarin malam yang sepi, kini telah ramai oleh lalu-lalang kendaraan. Terlihat beberapa orang berpakaian rapi yang sepertinya akan pergi ke kantor. Begitu juga dengan trotoar yang kemarin malam lengang, kini sudah banyak pejalan yang menapakan kaki mereka di sana. Sepasang mata hazel yang masih setia memandang keramaian jalanan terkejut saat mendengar interupsi seseorang.

"Hai, Gadis Kecil, bisakah kau pergi dari teras butikku? Aku akan mulai berjualan," pinta seorang wanita sambil menepuk bahu Alana.

Seketika Alana menoleh dan mengangguk. "Maafkan aku, Miss," ucap Alana sopan.

"Lusi, ayo bangun. Kita harus pergi dari sini." Alana membangunkan Lusiana yang masih tertidur pulas di pangkuannya. "Lusi," Alana kembali memanggil Lusiana agar gadis itu segera bangun.

Setelah Lusiana dengan berat hati membuka matanya yang masih mengantuk, ia pun hanya mengangguk saat menyadari seorang wanita menjulang di hadapannya dan Alana.

Alana bangun dan menggandeng Lusiana untuk pergi dari butik yang semalam mereka jadikan tempat berteduh. Dengan langkah gontai keduanya menjauh dari sana, sedangkan pemilik butik hanya mengendikkan bahu melihat mereka menjauh.

"Lusi, kau masih mengantuk?" tanya Alana sambil mengusap puncak kepala Lusiana dengan sayang.

"Sedikit," jawab Lusiana yang masih mengusap matanya.

"Kita duduk di sana saja," ajak Alana dan menunjuk bangku kayu yang berada di sisi taman.

"Alana, aku lapar," Lusiana menyengir saat mereka sudah duduk.

Alana mengacak lembut rambut Lusiana. "Ini. Makanan yang kemarin kita beli, masih bisa dimakan untuk sarapan." Alana menyodorkan sebungkus roti pada Lusiana dan air mineral yang masih tersisa kemarin.

Mereka menikmati makanannya dalam diam dan memandang para pejalan kaki serta kendaraan yang melintas. Saat asyik mengunyah, pandangan Alana tak sengaja tertuju pada sepasang suami istri muda yang berjalan sembari membawa bayi mereka. Sang istri terlihat mendorong kereta bayi di depannya, sedangkan sebelah tangan sang suami merangkul pinggangnya. Sebelah tangan suaminya yang bebas digunakan untuk memegang balon berwarna merah.

Saat pasangan tersebut berjalan, tiba-tiba bayi yang ada di keretanya menangis kencang, dan seketika suami istri itu menghentikan langkahnya. Sang istri mengambil bayi dari kereta dan langsung menggendongnya, sedangkan sang suami mencoba menghibur bayinya dengan bertingkah konyol. Alhasil, seketika tangis bayi tersebut berhenti dan digantikan oleh gelak tawa. Melihat interaksi orang tua dan anak itu membuat Alana berhenti mengunyah. Tak lama kemudian, sebulir cairan bening meluncur begitu saja dari pelupuk matanya. Seketika itu juga hati Alana terasa nyeri, mengingat nasibnya sendiri. Alana ingin sekali berada di posisi bayi itu, agar bisa tertawa bersama orang tuanya. Alana pun ingin, saat ia menangis ada seorang ibu yang menenangkan, dan ayah yang menghiburnya. Alana tak pernah meminta lebih, ia hanya ingin disayangi. Tanpa sadar, Alana meremas bungkus makanan yang dipegangnya, dan itu tak luput dari perhatian Lusiana di sebelahnya.

The Promise Is YouBaca cerita ini secara GRATIS!