HIDE

393 69 10

Happy reading
------------------------

Secepat kilat Alana menarik tubuh Lusiana dan menggiringnya ke pintu belakang supermarket, yang tadi sempat dilihatnya saat menuju kamar mandi. Untungnya pintu tersebut tidak terkunci.

"Alana, kenapa ki ...."

"Sst, Mrs. Emily sedang mencari kita," Alana memotong ucapan Lusiana dengan berbisik setelah mereka berada di luar supermarket.

Mendengar nama wanita itu disebut, seketika membuat tubuh Lusiana menegang dan ia langsung mengeratkan genggaman tangannya pada lengan Alana. Merasakan Lusiana hendak menangis, dengan cepat Alana menggeleng dan membelai pipi Lusiana agar tenang. Alana mengedarkan pandangannya dan mendapati sebuah truck sedang terparkir tidak jauh dari tempatnya berada. Tanpa banyak berpikir, Alana langsung menarik tubuh Lusiana dan mengajaknya menaiki truck tersebut, meski keduanya kesusahan. Ternyata truck tersebut berisi beberapa kardus besar. Alana mengasumsikan jika truck tersebut merupakan pengangkut barang.

"Lusiana, terpaksa kita harus bersembunyi di sini. Jangan sampai kita terlihat oleh Mrs. Emily atau anak buahnya, mengingat mereka masih di sekitar sini," pinta Alana yang langsung dituruti Lusiana.

Beberapa detik berselang, Alana mendengar siulan seseorang di dekat tempat persembunyiannya. Alana waspada, sedangkan Lusiana memeluk erat tangannya. Ketika mendengar suara pintu terbuka, dan merasakan truck yang dijadikannya tempat persembunyian perlahan bergerak, Alana mulai menghela napas pelan. Saat merasakan laju truck lebih cepat, Alana baru benar-benar bisa menghela napas karena mereka sudah menjauh dari supermarket.

"Lusi, kita sudah menjauh dari Mrs. Emily dan anak buahnya. Semoga truck ini membawa kita ke tempat yang lebih baik ya," ujar Alana saat melihat ekspresi bingung Lusiana.

Lusiana mengangguk. "Aku akan merasa selalu baik jika bersamamu, Alana, " balasnya dan kembali memeluk Alana sambil tersenyum.

"Suara apa itu?" tanya Alana setelah membalas pelukan Lusiana.

Lusiana menyengir. "Itu suara perutku. Aku lapar, Alana," akunya sambil menundukkan kepala karena malu.

"Oh, My God." Alana memukul keningnya sendiri saat menyadari mereka belum mengisi perut masing-masing dengan makanan, terutama Lusiana. Alana mengangkat dagu Lusiana dan menatapnya penuh rasa bersalah. "Maafkan aku ya," pintanya.

Lusiana dengan cepat menggeleng. "Tidak perlu meminta maaf, Alana. Kau juga belum dapat makan dari tadi pagi. Bahkan, dari kemarin malam."

Alana tersenyum. Ia mengeluarkan sebungkus roti dari kantong plastiknya. Untuk ia tidak meninggalkannya saat mencari tempat sembunyi dari Mrs. Emily dan anak buahnya. "Makanlah sampai kenyang, Lusi."

"Benarkah aku boleh memakannya sampai kenyang?" Lusiana memastikan perintah Alana sembari meraih roti tersebut.

"Tentu saja. Aku membelikannya memang untukmu, Lusi," sahut Alana sembari tersenyum. "Ini minuman untukmu juga." Alana juga mengeluarkan sebotol air mineral.

"Bagaimana denganmu?" Lusiana yang mulai menyobek roti sebelum di masukkan ke mulutnya, bertanya. "Bagaimana kalau kita makan bersama saja roti ini?" Sebelum Alana menjawab, Lusiana kembali bersuara.

Alana membuka mulutnya sambil tersenyum saat tangan mungil Lusiana menyuapinya roti yang sudah disobek. "Cukup. Kamu saja yang menghabiskannya ya. Aku tidak terlalu lapar, dan lebih ingin minum," kilahnya ketika Lusiana kembali ingin menyuapinya.

"Baiklah. Kalau begitu terima kasih, Alana," ucap Lusiana senang.

Sebenarnya Alana juga sangat lapar, tapi ia lebih mementingkan Lusiana karena tubuh gadis itu lebih kecil dan kurus darinya. Lusiana harus lebih banyak makan dibandingkan dirinya, apalagi anak itu sedang sakit.

Tanpa sadar Alana meneteskan air mata melihat Lusiana yang sedang lahap menikmati makanannya. Ia harus memikirkan tempat mereka akan hidup selanjutnya setelah pelarian ini. Ia bisa saja kembali ke panti asuhan, tapi itu sangat berisiko karena kemungkinan sepasang suami istri psikopat tersebut mencari mereka ke sana. Bukannya Alana tidak bisa mengadukan perbuatan mereka, hanya saja pasangan gila itu sangat lihai berakting dan mengelabui orang lain. Jika bisa, Alana lebih baik pergi sejauh-jauhnya dari kota ini. Alana mengembuskan napas berat saat menyadari uang yang dicurinya kemarin, tersisa sedikit karena sudah digunakan untuk berbelanja tadi.

"Kau menangis, Alana?" tanya Lusiana polos setelah menghabiskan rotinya.

"Tidak. Mataku hanya terkena debu," kilah Alana sambil tersenyum. Ia membersihkan sudut bibir Lusiana dari sisa roti yang dimakannya.

Walaupun berusaha tegar menghadapi nasibnya, tapi Alana tetaplah seorang anak kecil yang sangat mudah menangis, terlebih jika harus berada pada situasi seperti ini. Namun, Alana tak akan menyerah demi Lusiana. Ia akan menjaga Lusiana layaknya adik kandungnya sendiri. Ia juga tak akan pernah meninggalkan Lusiana dalam keadaan apapun.

***

Mata Alana terbuka saat merasa truck yang mereka tumpangi sudah berhenti bergerak. "Ternyata sudah malam," gumamnya ketika mendongak dan mendapati langit gelap. Ia tidak tahu akan berakhir di mana, yang jelas sudah sangat jauh dari jangkauan Mrs. Emily dan anak buahnya.

"Lusiana, bangun." Alana berusaha membangunkan Lusiana yang tertidur di pangkuannya.

"Eh," lenguh Lusiana tanpa membuka mata. Ia masih membaringkan kepala di pangkuan Alana.

"Lusiana, ayo bangun. Kita harus segera turun," beri tahu Alana kepada Lusiana yang sudah duduk.

"Alana, kita ada di mana sekarang?" Lusiana kembali bertanya sembari mengusap matanya yang belum terbuka sempurna.

"Entahlah, aku juga tidak tahu. Sebaiknya kita turun terlebih dahulu," jawab Alana sambil mendorong kardus untuk dijadikan tumpuan agar bisa keluar. Setelah memastikan keadaan sekitar aman, Alana langsung turun dan mengintruksikan kepada Lusiana agar mengikutinya. Dengan sigap Alana menggandeng tangan Lusiana dan mengajaknya berjalan di trotoar setelah menjauh dari truck tersebut.

Cukup lama berjalan, Alana berhenti di depan butik yang telah tutup. Ia akan mengajak Lusiana bermalam di sana. Awalnya Alana ingin menyewa penginapan murah, tapi setelah menyadari sisa uangnya, ia pun mengurungkan niatnya tersebut. Ia harus menghemat sisa uang tersebut dan menggunakannya untuk membeli makanan ke depannya. Untung saja, kantong plastik yang ditentengnya masih ada beberapa bungkus roti untuk dimakan besok.

"Lusiana, kita terpaksa akan bermalam di sini," beri tahu Alana nelangsa.

Lusiana menggenggam tangan Alana saat melihat raut sedih di wajah malaikat penolongnya itu. Ia mendongak dan langsung memeluk tubuh dingin Alana. "Tidak apa-apa, Alana. Besok saja kita lanjutkan lagi perjalanan ini," ucap Lusiana menenangkan.

"Maafkan aku, Lusiana. Aku tak bisa mengajakmu menginap di Motel. Uang kita tidak cukup," Alana melirih saat mengurai pelukan Lusiana.

"Alana, jangan meminta maaf. Kau tidak bersalah." Lusiana tersenyum untuk menghibur Alana.

"Lusi, aku ...."

"Sudahlah, Alana. Tidak apa-apa," sela Lusiana. Ia menggandeng tangan Alana dan mengajaknya duduk di depan butik yang tutup.

Alana dan Lusiana duduk bersandar pada pintu butik untuk mengistirahatkan tubuh lelah mereka. Alana beristirahat tanpa ranjang empuk, bantal dan selimut tebal seperti yang didapatkannya di panti dulu, tapi ia merasa ini lebih baik dibandingkan di tempat penyekapan. Alana harus menyiapkan fisiknya agar besok ia bisa berpikir dan mencari cara untuk bertahan hidup. Setidaknya mereka memiliki tempat berteduh yang layak, apalagi kondisi Lusiana yang tidak sesehat dirinya.

TBC

Selamat pagi, saya uodate lagi nih semoga cerita ini menghibur ya 😅

Selamat beraktivitas dan jangan lupa tinggalkan jejaknya 🙏🙏🙏

21 Desember 2018

The Promise Is YouBaca cerita ini secara GRATIS!