Bab 5.

924 42 0

Ustad in love

Bab 5.
.
.
.

(Warning : segala hal yang kutulis disini tidak bermaksud untuk menyinggung pihak manapun, typo betebaran, gaje, absurd, dll. But this story is mine, so happy reading all...)

~Kau tau? Saat aku mengejar cintamu, aku hanyalah isim ber i'rab nashob. Susah payah yang bertanda fathah.~

.
.
.

Malam yang sunyi, terlalu sunyi bahkan untuk sekedar digambarkan. Tapi di sebuah kamar bernuansa coklat dengan ranjang berukuran sedang dan kasur yang berlapis sepray bewarna putih, duduk seorang pria dengan pandangan yang fokus pada kitab kuning ditangannya. Pria itu tak lain adalah Fandi. Sesekali ia memperbaiki posisi kacamata baca yang mulai melorot dari hidung mancungnya.

Rambut bewarna kecoklatannya  terlihat sedikit basah dan acak-acakan serta mengeluarkan aroma mint yang menenangkan. Sepertinya Ia baru mandi beberapa saat yang lalu. Menghela nafas sesaat, manik coklat yang tak kalah menenangkan itu melirik jam di atas nakas yang kini menunjukkan pukul dua dini hari.

"Sudah selarut ini?" Tanyanya entah pada siapa. Menghela nafas panjang sekali lagi sebelum akhirnya menutup kitap kuning yang lumayan tebal itu  dan meletakkannya di rak buku yang penuh dengan deretan kitab-kitab yang sama.

Tubuhnya terasa sangat lelah, menjadi pengajar di pesantren besar tak semudah bayangannya. Tubuh yang duduk ber jam-jam, mulut yang dipaksa untuk lebih banyak bicara, serta padatnya jadwal yang membuatnya hanya bisa beristirahat sejenak. Belum lagi otak yang harus bekerja ekstra terkadang membuatnya sangat letih. Tapi Ia bahagia karena memang inilah impiannya sejak dulu. Perlahan  Ia berbaring ke ranjang dan melepaskan kacamatanya. Entah kenapa seharian ini pikiran dan hatinya gelisah. Ia memijit pelipisnya pelan mengingat perkataan salah satu rekannya tadi.

Flash back on..

"Sudah dengar belum? Katanya Kyai Hasyim akan menikahkan neng Najma tahun ini lho..."

"Benarkah? Memangnya sampeyan tau dari mana?"

"Tentu saja dari Ustad Hariz, dia kan sangat dekat dengan Kyai."

Fandi yang saat itu hendak kembali ke Fasholatan mendadak berhenti saat samar-samar mendengar obrolan dua teman sesama pengajar di tempat itu. Ia bingung kenapa tiba-tiba dadanya kini berdebar?

"Kira-kira siapa ya calon suaminya?"

"Entahlah, saya juga ndak tau. Tapi kata ustad Haris rencananya Kyai mau menjodohkan neng Najma dengan putra sahabat beliau."

"Wah, pasti putra Kyai besar juga."

"Bisa jadi."

Deg!

Entah kenapa mendengar kelanjutan obrolan itu membuat jantung itu berdetak lebih cepat lagi hingga terasa sesak.

Flash back off.

Mata kecoklatan Fandi memandang langit-langit kamar dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Kenapa dengan hatiku?" Tanyanya lirih sebelum membalikkan tubuhnya kesamping, memposisikan diri senyaman mungkin hingga alam mimpi menyambutnya secara perlahan.

***

Di sisi lain, dalam hingar bingar kehidupan malam di kota Jakarta, tampak segerombol orang yang begitu mencolok di tengah ramainya club malam terbesar di ibu kota saat ini.

Ustad in love Baca cerita ini secara GRATIS!