i. mawar berdarah

1K 101 9

Suasana taman tampak sepi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Suasana taman tampak sepi. Salju menghiasi setiap pepohonan kering yang menunggu musim semi mengembalikkan daun-daunnnya. Nampak sepasang manusia sedang memadu kasih di atas sebuah kursi taman yang menghadap ke kolam.

Kehangatan nampak melingkupi keduanya, buktinya mereka tak merasakan gangguan meskipun udara dingin terasa menusuk kulit.

"Kenapa hari ini kau nampak sangat cantik?" ucap sang pria dengan senyuman mematikan.

Sang wanita tersenyum disertai rona merah muda di pipinya. "Eyyy, kau sudah mengatakan itu berulang kali!" jawab sang wanita sambil memukul ringan lengan sang pria.

Sang pria memainkan helaian rambut brunnete sang wanita di balik topi rajut yang dikenakannya. "Aku tidak akan bosan untuk mengucapkannya." Sang pria mengucapkannya sambil menebar senyuman manis yang perlahan berubah menjadi seringaian. Sang pria merangkul wanita cantik itu, menariknya semakin dekat hingga mereka dapat merasakan nafas masing-masing.

Dan...cup. Kedua belah bibir yang kadang bergetar akibat udara dingin itu berpagutan mesra. Oh, betapa pagi itu nampak begitu indah bagi keduanya, mungkin.

Sang wanita melepaskan pagutan mesra sang pria ketika merasakan ia membutuhkan oksigen. Sang pria menatapnya, masih dengan seringaian tertengger di bibir. Sang wanita menganggap itu hanyalah sebuah senyuman nakal. "Sayang...kau sangat cantik. Sungguh."

Wanita itu tertawa ringan. "Oppa! Kau sudah mengucapkan itu puluhan kali!"

Sang pria hanya tersenyum-menyeringai- tangannya terulur untuk menyentuh wajah mulus sang wanita. "Aku sangat suka wajah yang cantik," bisik sang pria sambil memegangi kedua belah pipi sang wanita. Kedua maniknya menatap penuh binar ke manik sang wanita. Tangannya yang dingin mengelus lembut kedua belah pipi mulus wanitanya.

"Kau benar-benar pria penggombal!"

Tangan sang pria turun, mengelus sekilas rahang sang wanita lalu berakhir di perpotongan leher wanita yang masih merasakan bunga-bunga cinta bermekaran di hatinya saat ini. "Tidak. Aku tidak menggombal, aku serius soal ini. Aku sangat menyukai hal-hal yang cantik. Dan aku....."

"Aa... opp—oppa? Appp...aahh...yanghhh....eunggg.." wanita itu menggeliat ketika perlahan tangan sang pria mencengkram lehernya. Semakin lama semakin erat membuatnya mulai merasakan ada yang tidak beres.

"Eumm? Apa yang kau katakan cantik? Aku tidak bisa memahamimu," Bisik pria itu sambil mengeraskan cekikannya. Dengan wajah sama seperti sebelumnya, menyeringai.

"Aa...uhkk"

"Aku senang melihat gadis cantik sepertimu.........." Gerakan wanita itu semakin lama semakin melemas. Seiring dengan deruh nafasnya yang juga melemah. Hingga akhirnya cengkraman wanita itu pada lengan pria yang mencekiknya terlepas dan ia tidak lagi bergerak. Sang pria tersenyum puas. "Mati." Pria itu berbisik sambil melakukan sekali lagi cekikan cukup kuat.

Pria itu tersenyum dingin, lalu ia meraba kantung jaketnya. Menggapai sekuntum mawar putih dari sana. Ditorehkannya duri mawar itu tepat dipergelangan tangan sang wanita. Setelah darah cukup deras mengucur, pria itu melumuri mawarnya dengan darah dan menyelipkan batang bunga itu pada mulut sang wanita yang sudah terkapar setelah mengecup lembut bibirnya. "Selamat tinggal, cantik."

Dan pria itu berlalu seiring angin musim dingin yang berhembus kencang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Dan pria itu berlalu seiring angin musim dingin yang berhembus kencang.

***

(Sumber Gambar: Pinterest)

At the Next DoorTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang