RUN AWAY

425 58 2

Happy reading
-----------------------------

Seorang bodyguard membuka kunci pintu dengan tatapan garang. "Ada apa ini? Siapa yang berani membuat keributan?!" Mendengar bentakan dari pria bertubuh kekar itu membuat semua anak yang awalnya berkerumun, langsung melangkah mundur karena terkejut.

"Lusiana tengah kesakitan, kau harus segera menolongnya," beri tahu Alana yang kini duduk bersimpuh sembari memangku kepala Lusiana, sedangkan gadis itu masih menekan dadanya.

Bodyguard tersebut melihat Lusiana dengan tatapan mencemooh. "Untuk apa aku harus menolong anak itu?! Biarkan saja dia mati! Aku tak peduli," ucapnya tidak berkeprimanusiaan.

Alana geram mendengar tanggapan kurang ajar dari pria sangar di hadapannya. "Tuan, bisakah kau peduli sedikit saja dengan orang lain?" tanyanya sambil menatap tajam pria itu.

"Kau coba mengajariku, hm?!" balas pria itu sembari bersidekap.

"Sepertinya aku harus mengalah untuk mempermulus rencanaku," Alana membatin. "Tuan, bukankah anak ini tak berguna dan menyusahkan? Kenapa kau tak membantuku saja untuk memindahkan anak ini?" pinta Alana dengan nada yang sengaja dibuat lebih sopan dan lembut.

"Maksudmu?" Bodyguard tersebut menatap Alana sambil mencerna ucapannya.

"Em, maksudku, bagaimana jika anak ini benar-benar mati di sini? Bukankah itu sangat merepotkan?" Alana mulai memancing pikiran pria yang tengah menatapnya intens.

"Tentu saja sangat merepotkan," jawab pria itu tanpa menyadari sudah terpancing perkataan Alana.

"Oleh karena itu, kau harus membantuku membawa anak ini secepatnya keluar, sebelum ia benar-benar mati dan merepotkanmu," ujar Alana memberikan solusinya. "Mr. Elmon dan Mrs. Emily pasti senang jika kau menjalankan tugasmu dengan baik," lanjutnya dan dalam hatinya tetap berdoa agar rencananya berhasil.

"Benarkah?" Bodyguard tersebut ragu. "Apakah kalian tak bersekongkol dan menipuku?" tanyanya penuh selidik.

"Tuan, kau bisa lihat sendiri anak ini merintih kesakitan. Jadi, bagaimana mungkin aku bisa membohongiku? Bukannya kau tahu anak ini mempunyai penyakit jantung?" Alana tetap mempertahankan ekspresinya agar bodyguard di hadapannya tidak curiga.

Pria itu terlihat menimang ucapan Alana dan memerhatikan Lusiana yang terus saja merintih sambil menangis. Bahkan, sesekali mengerang penuh kepiluan. Setelah yakin bahwa yang dikatakan Alana benar, pria tersebut mendekat dan berjongkok di hadapan Lusiana.

"Cepat bawa anak penyakitan itu keluar! Aku tak mau direpotkan oleh anak penyakitan itu!" perintah pria tersebut pada Alana. Ia tidak memedulikan Alana yang terlihat kesulitan saat membantu Lusiana berdiri sebelum memapahnya keluar.

Saat sudah melewati pintu, Alana mengembuskan napasnya pelan sambil mengedarkan pandangannya ke penjuru rumah. Tanpa sengaja pandangannya terjatuh pada sudut ruangan, yang terdapat beberapa balok kayu di sana. Bukan hanya itu, Alana juga melihat ada tiga orang pria sedang berjaga sambil mengisap rokok dan bermain kartu. Tidak lupa beberapa botol minuman keras yang sudah kosong tergeletak di bawah meja tempat mereka bermain kartu. Alana merasa sedikit beruntung malam ini, karena tiga orang penjaga tersebut terlihat mabuk.

"Hei, dude, mau kau apakan mereka berdua?" tanya salah satu penjaga yang mendongak melihat Alana dan Lusiana.

"Jangan katakan kau ingin menikmati tubuh bocah itu," salah satu temannya menimpali.

"Aku bukan seorang pedofil, kau tahu itu!" balas pria yang tadi bersama Alana.

"Lusi, kau dengarkan aku. Lakukan apapun yang aku perintahkan, mengerti?" bisik Alana sangat pelan dan langsung mendapat anggukan dari Lusiana.

The Promise Is YouBaca cerita ini secara GRATIS!