[21] Throwback Bitter Memories

46 4 3

"Jangan... Kumohon... jangan pergi." Kyungsoo tertunduk, digenggamnya tangan gadis itu dengan erat. Matanya mulai memerah dan air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Aku mencintaimu." lanjutnya dengan suara gemetar.

"Maafkan aku." sahut gadis itu tidak ingin berbalik menatap Kyungsoo. "Aku tidak ingin terluka lagi. Aku... kau... Pokoknya tidak boleh ada yang terluka lagi." gadis itu ikut meneteskan air mata. "Maaf, aku juga mencintaimu. Tapi..."

"Kalau kau pergi, aku akan mati!" teriak Kyungsoo. "Kau... kalau sampai kau melepaskan tangan ini, aku bersumpah, aku akan mati!" air mata Kyungsoo jatuh semakin deras. Napasnya mulai tidak beraturan. Dadanya begitu sesak. Dalam hatinya ia terus berteriak, ia bersumpah akan membunuh dirinya sendiri jika gadis ini sampai meninggalkannya.

Gadis itu mulai membalikkan tubuhnya. Wajahnya basah, begitupun lelaki di hadapannya. Keduanya terlihat sama-sama begitu terluka. Ia ingin meninggalkan lelaki itu, ia tak ingin ada yang tersakiti lagi karena hubungan mereka. Tapi jika perpisahan ini justru malah menyakiti mereka, lalu apa gunanya?

"Kenapa..."

"Aku mencintaimu. Jangan tinggalkan aku." itu kalimat terakhir yang diucapkan Kyungsoo sebelum gadis itu lompat ke pelukannya.

Kemudian gadis itu mengecup bibir Kyungsoo. Kyungsoo membalasnya dengan lembut namun bergairah. Begitu dalam, rasanya seperti seluruh oksigen yang ada langsung lenyap di dalam mulutnya sampai tak ada napas yang tersisa. Sepasang bibir itu bergelut mesra hingga mengeluarkan suara mengecap. Gadis itu mulai melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Kyungsoo, sementara Kyungsoo mulai menyentuh tengkuk gadis itu, mengunci bibirnya seakan tak ada yang mampu memisahkan mereka.

"CUT!"

Glek. Kyungsoo langsung melepas kedua tangannya yang menempel di tengkuk gadis itu. Ia melepas bibirnya dengan cepat, ekspresinya langsung kembali normal hanya dalam waktu sepersekian detik.

"Yoojung-ssi, kau terlalu pasif. Cobalah untuk sedikit lebih agresif, harusnya kau bisa lebih dominan dari karakter prianya," keluh Sutradara untuk kesekian kalinya, kemudian disusul dengan helaan napas kecewa. "Ah, sudahlah," sang sutradara mengusap keningnya, "kalau begitu semuanya istirahat dulu sepuluh menit!"

"Jwesonghamnida. Jwesonghamnida." Yoojung berulang kali membungkuk kepada kru atas kesalahan yang dibuatnya. Saat para kru bubar untuk jeda, ia tak sengaja menangkap Kyungsoo sedang melirik sinis ke arahnya dan langsung berbalik begitu saja.

Yoojung melengos. "Wah, gila. Sombong sekali dia." mata Yoojung melotot. "Heh, kau lihat tidak? Barusan dia mengejekku!" katanya pada sang manajer.

"Yoojung-ah, ayo kita perbaiki riasanmu dulu." jawab si manajer tanpa menyahut kalimat Yoojung barusan.

"Eonni, lelaki itu barusan mengejekku! Dia menatapiku dengan sinis. Hah, sombong sekali dia, hanya karena aktingnya dipuji lalu ia merasa sudah jadi aktor hebat, hah? Dia itu harusnya ngaca, sebagus apapun aktingnya, pekerjaan utama dia tetap hanya sebagai penyanyi, bukan aktor!" Yoojung lanjut marah-marah kepada manajer dan seorang wanita yang sedang membetulkan riasannya.

Gadis bernama Kim Yoojung itu melipat kedua tangannya. Ia ingat sekali bagaimana si lelaki Do langsung melepaskan tubuhnya dari Yoojung segera setelah sutradara memotong adegannya. Menyebalkan sekali, ia benar-benar merasa direndahkan seakan-akan lelaki itu habis menyentuh kuman.

Di sisi lain, Kyungsoo sedang menekuk wajahnya, suasana hatinya sedang buruk karena syuting hari ini tak kunjung selesai. Berkali-kali ia melirik jam di ponselnya. Sudah pukul delapan malam dan ia gelisah karena ia harus bertemu Serin malam ini. Sementara gadis itu bahkan tidak juga merespon pesannya.

Universe in His EyesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang