2. Kosan

3.7K 328 45

•Keylo Pov•

"Aku bukan pengemis cintaaaaaaa ah ah ah mmhh.." teriak si bego Kevan di dalam kamar kosannya. Kami memang ngekos di kosan yang sama dan kamar Kevan juga kebetulan bersebelahan dengan kamar gue. Itu yang membuat gue risih, si kuah ramen busuk itu hobby nya nyanyi ngasal! Masih mending kalo liriknya nggak berbau vulgar, lah ini?

"Woy kue tape! Berisik!" Ucap gue sambil menendang-nendangi pintu kamarnya. Kevan masih terlihat acuh dengan ucapan gue. Dia malah mengeraskan suara nyanyiannya.

"Wik wik wik wik wik.. Ah ah ah ah ah.."

Geli? Hanya itu kata yang pas untuk menggambarkan perasaan gue saat ini. Suara berat Kevan nampak asik mendesah, mengeluarkan suara seraknya yang sangat amat geli bin jijik bila di dengarkan. Kevan itu tak berbakat mendesah! Desahannya fals!

"Kevan anjir! Berhenti desah atau gue bobol pintu kamar lu!" Ucap gue mengancam, Kevan masih asik menyanyi disana. Bahkan sekarang nada suaranya mulai mengalami fase menanjak. Lihat saja bentar lagi, pasti suara Kevan sudah memasuki tahap tikungan tajam.

"Ououhhhhh yeeeeeaaaahhh.."

"KEVANNN!!" Teriak gue lantang, gue pun menarik kolor gue ke atas dan bersiap-siap menendang pintu kamar Kevan.

Dewi keberuntungan yang sedang asik memakan cau di halaman kosan pun tak sempat menyelamatkan Otong Kevan dari tendangan mematikan ala Bruce Lee milik gue. Niatnya sih menendang pintu, tapi apa daya takdir berbisik lain. Kevan membukakan pintunya cepat membuat tendangan yang awalnya gue siapkan untuk pintu kamarnya pun berakhir di pintu surga nya. Burungnya yang langka, kebanggaannya, hal yang sangat Kevan lindungi di penangkaran kolornya. Sudah gue tendang sadis tanpa ampun.

"Anjirrrrrrrrrr sakittttttttttt!!!" Jerit Kevan histeris. Ia tumbang sambil memegangi area selangkangannya yang gue tendang. "Sialan lu Key!" Makinya spontan.

Gue tertawa lepas melihatnya, suruh siapa coba mancing emosi gue. Jadi gini kan? Gue tendang langsung bengkak anu lu!

"Anjir Keylo sakit! Kalo anu gue di amputasi gimana!" Bentak Kevan membuat tawa gue kembali lepas. Gue menatap Kevan prihatin sambil menggelengkan kepala. "Ya tinggal ganti sama timun.."

"Enak aja! Anu gue gede! Timun kecil!"

"Yaudah terong aja!"

"Gak mau! Warnanya ungu mirip janda!"

"Yaudah pisang atuh pisang!"

"Ogah! Tar kalo boker gue gak bisa bedain mana anu gue mana empasan pantat!"

"Si anjir! Terus mau lu apa huh!" Ucap gue kesal. Kevan masih meringis pelan. Malah sekali-kali tangannya bergerak untuk mengintip kondisi burungnya yang sudah ngaggolepak naas di dalam sempak, memprihatinkan!

Gue yang merasa iba pun membantu mendudukkan tubuhnya di lantai ruang tamu kosan. Kenapa di lantai? Kok gak di sofa? Kan sofanya gue geser, gue dudukin si Kevan di lantai. Biar titidnya adem nyentuh ubin. Pinter kan gue!

Iya lah!

"Anjir Keylo! Sakittttttttttt njir nyebelin lu gue balas tar!"

"Berisik!" Ucap gue sambil menjitak kepalanya keras, yang di jitak pun hanya bisa cemberut kesal menatap gue dengan sorot mata membunuh.

Kevan yang merasa burungnya sudah tidak terlalu nyut-nyutan pun mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Ia menatap gue kesal tanpa suara dan beralih menyalakan televisi.

Selalu saja. Rutinitas sepulang sekolah yang membuat sosoknya semakin mirip bocah itu ia lakukan. Menonton kartun sepongbop kesukaannya yang kini sedang ngelawak di televisi. Gue heran dengan cowok yang kini duduk berhadapan dengan gue ini. Dia itu menyebut dirinya sendiri sebagai musuh gue, tapi anehnya.. gue gak ngerasa Kevan membenci gue. Bahkan sebaliknya, dia seperti perduli.

"Van, anu lu masih sakit?"

"Gak" Kevan menjawab jutek. Ia mengupil santai dan memeperkan bekasnya di baju. Gue meringis jijik. Kevan itu.. jorok!

"Lu gak mandi ya! Bau bangke anjir!"

"Tar aja mandinya gue qodo in subuh."

"Anjir lu Van!" Kevan menyengir lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya yang berjejer rapih. Sekilas gue kadang merasa iri, cowok bego yang jago ngebacot ini punya kondisi fisik yang melampaui batasan cogan. Mukanya bahkan sudah satu level dengan artis-artis di luaran sana. Kece!

"Napa lu liatin gue mulu? Naksir?"

"Najis."

Ucapan ketus gue di respon Kevan dengan cengiran lebar yang jahil. Ia mengambil toples kacang yang menganggur di tengah meja dan memakannya lahap. Ingatkan gue untuk tidak menyentuh toples kacang itu. Makanan itu sudah terkontaminasi upil Kevan!

***

Para penghuni kosan sudah mulai pulang kehabitatnya masing-masing. Tak ada yang mempunyai aura ramah sedikitpun. Mereka itu rata-rata anak kuliahan yang sibuk. Mengobrol saja jarang apalagi membaur, makannya di kosan ini gue cuma bisa ngobrol sama Kevan. Kalau tidak Kevan ya Bima, yang kamarnya terhalang dua kamar dari kamar gue.

"Lu di hukum apa?" Ucap gue basa-basi dengan niatan meminta kentang goreng yang sedang asik di goreng Kevan di dapur. Kevan menoleh pelan, ia mengerutkan keningnya heran.

"Tumben lu perduli.."

"Gue cuma kepo.." ucap gue sambil menyengir lebar. Kevan menganggukkan kepalanya pelan dan menyuapkan kentang goreng yang baru saja dia angkat dari wajan. "Anying na'nass"

"Makannya tiupin bego!"

Kevan mengangguk patuh dan meniup muka gue sampai aroma kentang dan juga kuah Kevan menyembur hebat menerpa wajah polos gue yang lagi curi-curi pandang kearah kentang goreng. "Sialan.." maki gue spontan sambil mengusap wajah gue kasar. Kayaknya, gue harus mandi lagi.

"Maksud gue kentang goreng nya yang lu tiupin.. bukan muka gue bego!" Kevan hanya menyengir lebar tanpa dosa. Ia menghentikan kegiatannya saat suara derap kaki seseorang terdengar masuk ke area dapur.

"Wih kentang goreng!" Seru Bima girang. Kevan tersenyum lebar dan menyodorkan sepiring kentang goreng ke hadapan Bima. "Nih mau?" Tawarnya.

Bima tersenyum lebar. Ia menerima piring yang di sodorkan Kevan dengan senyum merekah. "Anjir makasih Kevan!"

"Sama-sama.." sahut Kevan ramah. Gue cemberut seketika. Kok gue yang mangkal di sampingnya dari tadi gak dapet jatah? Eh maksudnya gak dapet kentang goreng.

"Gak ada niatan nawarin gue juga gitu?"

"Oh lu mau?" Ucap Kevan yang akhirnya peka. Gue mengangguk meng-iya kan.

"Bikin sendiri!" Ucap Kevan lantang sambil memeletkan lidahnya mengejek gue. Ia berlari kencang membawa kabur sepiring kentang goreng beserta sambel tomatnya. Gue pun berteriak tak terima, dengan gerakan cepat tapi pasti gue berlari mencoba menyusul langkah Kevan yang tentu lebih cepat dari gue. Kevan nyebelin! Dia musuh gue!

___________Zzz____________

Ahay! Kevan punyaku!

Btw minta vote and comment atuh gan :(

MY STUPID ENEMY [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang