PLANNING

580 68 17

Happy reading
----------------------

"Eh," Alana melenguh saat merasakan ada sesuatu yang mengganggu tidurnya. Bukannya terjaga, Alana malah mengganti posisi tidurnya agar lebih nyaman karena matanya masih terasa sangat berat.

"Jangan ganggu tidurku," tegur Alana dengan suara serak sambil mengibaskan tangannya.

Ternyata teguran Alana tidak diindahkan, terbukti kini sebelah tangan mungil mulai memainkan bulu matanya yang lentik. Oleh karena itu, dengan terpaksa ia membuka matanya dan mendapati wajah gadis kecil tengah menatapnya intens. Alana mengernyit ketika menatap wajah gadis tersebut, dan sekelilingnya yang terasa asing, ia pun berusaha memutar memorinya mengenai setiap kejadian kemarin malam. Setelah berhasil mengingatnya, ia langsung menghela napas.

"Alana, kau terlihat lebih cantik dari kemarin." Lusiana terkikik sembari menyentuh wajah Alana.

"Kau juga cantik, Lusiana," balas Alana yang kini merapikan anak rambut Lusiana. Rasanya Alana ingin menangis saat menyentuh rambut Lusiana yang terlihat sangat kumal dan kotor. Entah kapan gadis ini mencuci rambutnya. Tidak hanya rambut, wajah Lusiana juga sangat kotor. Pagi ini saat sinar mentari memasuki celah jendela, Alana bisa melihat dengan jelas keadaan Lusiana. Tanpa disadarinya, ia pun meneteskan air mata.

"Alana, kenapa kau menangis?" Lusiana bertanya seraya menyunggingkan senyumnya. Meski kondisinya memprihatinkan, tapi Lusiana tetap masih bisa tersenyum.

"Lusiana, secepatnya kita harus pergi dari sini. Kita tak boleh mati konyol di tempat terkutuk ini," bisik Alana.

"Bagaimana caranya? Bagaimana jika mereka menemukan kita? Lagi pula di sini ada banyak penjaga," balas Lusiana sembari menatap Alana dengan polos.

"Yang pasti kita harus mencari cara," ucap Alana penuh tekad.

"Tapi ...."

"Percayalah padaku, Lusiana," Alana meyakinkan Lusiana dan menggenggam tangan gadis kecil tersebut.

Alana dan Lusiana terkejut saat mendengar pintu terbuka. Dilihatnya Mrs. Emily bersama Mr. Elmon berdiri angkuh sembari bersidekap dan dikawal oleh dua laki-laki berpakaian serba hitam serta bertubuh kekar. Alana yang melihat kedatangan mereka pun langsung geram, ia mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat.

"Cepat makan ini!" Mrs. Emily memerintahkan sambil melemparkan bungkusan ke arah anak-anak yang ada di sana.

Semua anak pun, termasuk Lusiana langsung mengerumuni bungkusan tersebut dan mulai memakan isinya yang ternyata hanya beberapa roti, tapi tidak dengan Alana. Ia bergeming di tempatnya dan hanya melihat aktivitas anak-anak tersebut.

"Hei, kau! Kenapa tak mengambil roti yang diberikan istriku seperti teman-temanmu?" tanya Mr. Elmon dan menatap tajam Alana.

"Aku tak mau makanan dari orang jahat seperti kalian," jawab Alana tanpa terintimidasi oleh tatapan tajam laki-laki yang berkedok mengadopsinya.

"Sombong sekali dirimu. Kau pikir siapa dirimu, hah?" Mrs. Emily menertawakan jawaban Alana. "Terserah padamu, mau makan atau tidak. Jika kau mati karena kelaparan, hal itu bukanlah tanggung jawab kami," sambungnya.

"Satu lagi, jangan sekali-sekali berani melawan kami, jika kau tidak ingin menerima konsekuensinya," Mrs. Emily kembali memperingatkan sembari menatap Alana yang masih bergeming. "Ayo, Sayang, kita pergi dari sini." Ia mengamit tangan suaminya dan melenggang pergi. Dua orang bodyguard yang mengikutinya, langsung mengunci kembali pintu tersebut.

"Alana, makanlah. Nanti kau lapar." Lusiana membagi roti miliknya. "Kenapa kau tak mau makan? Apa kau tak mau berbagi denganku?" tanya Lusiana yang hampir menangis saat Alana menolak roti pemberiannya.

The Promise Is YouBaca cerita ini secara GRATIS!