( Day ) 二[ Ni ] - Froze

58 15 8

— Reader pov —

[ Name ]

" Aku sudah sampai di cafe, nih.

Kamu dimana ? "


[ Friend's Name ]

" Masuk aja, aku sudah daritadi, loh =3= "


[ Name ]

" Oke... "

Akhirnya, aku memasuki cafe itu. Terlihat [ Friend's Name ] melambai-lambaikan tangannya ke arahku, menyuruh agar cepat menghampirinya.

" Aku sudah menemukan beberapa informasi tentang bebebrapa orang yang dekat dengannya. " katanya.

" Aku ini mau menggagalkan perceraian, bukan menciduknya selingkuh atau tidak... " sahutku.

" Bukan gitu, kita harus tau orang-orang yang dekat agar bisa melancarkan misi comblanganku. " jawabnya.

Aku hanya memperhatikan [ Friend's Name ] bicara sambil searching dari laptop nya itu. Kalau soal begini, dia memang jagonya. Aku gak salah pilih.

15 menit berlalu, masih belum ada perubahan.

" Ah, Tomohisa me-private semua akun social media nya. " Keluh [ Friend's Name ].

" Jadi.... Tidak bisa....? " tanyaku dengan nada hampir putus asa.

" Nonono. Apapun bisa kulakukan, termasuk membuka isi akun ini. Membutuhkan waktu yang cukup lama, mau nunggu ? Kamu bisa pesan minum atau apa dulu, tapi bayar sendiri loh hehe.. " katanya.

" Iya, aku tau. Yang penting, kamu lihat dulu seluk beluk akunnya itu. " sahutku.

" Roger, captain. " jawab [ Friend's Name ].

Kira-kira satu jam lamanya, aku masih menunggunya mencari cara agar masuk ke akun Tomohisa tersebut. Tiba-tiba, ada pelanggan baru masuk ke cafe. Wajahnya...Aku kenal. Itu, Tomohisa! Apa yang harus kulakukan ? Aku bingung sendiri.

— Normal pov —

[ Name ] terlihat kebingungan setelah melihat Tomohisa masuk ke cafe yang sama dengannya. Dia bingung, bagaimana harus berhadapan dengan suaminya sendiri. Tapi semua kebingungan itu terhempas, setelah melihat wanita yang jalan berdampingan dengannya. Siapa wanita itu ? batin [ Name ].

[ Name ] akui, wanita itu memiliki paras yang amat cantik, badan yang ramping, tatapan menggoda, lelaki manapun akan terpesona oleh itu, ditambah lagi dengan penampilannya yang dewasa. Dibanding dengan [ Name ], jika menggunakan sistemastis perbandingan, maka angka yang muncul ada 1 : 500. Sangat jauh. Walaupun wanita itu terlihat lebih cantik darinya, [ Name ] tidak akan jatuh untuk menaklukkan sang pangeran putih.

" Lihat itu, Dia... siapa ya ? " tanya [ Name ] ke temannya.

" Oh, dia itu anak dari perusahaan yang kabarnya akan bekerja sama dengan perusahaan suamimu loh.. Bahaya. Menurut beberapa narasumber, terutama wanita, dia bisa dibilang 'magnet laki-laki'. Banyak pengaduan dari beberapa wanita yang mengaku lelaki nya direbut oleh dia. " jelas [ Friend's Name ].

" Iya sih. Pantas saja terlihat genit gitu, sampai godain si Tomo--- Dia godain Tomohisa! " sahut [ Name ].

Terlihat jelas bahwa si wanita itu 'bergandulan' di lengan Tomohisa. Bak ular melingkari pawangnya. Dia sedang bermanja dengan Tomohisa demi mendapatkan perhatian lelaki itu.

" Nee~ Tomo~ Kau yakin kita kesini cuma karena urusan perusahaan ?~ Kamu gak mau lebih ?~ Aku bisa saja loh kasih---- " Tanya wanita itu dengan nada seduktif miliknya. Namun terpotong karena Tomohisa juga angkat bicara.

" Tidak, terima kasih. Dan, ya. Kita kesini karena ada urusan bisnis yang sangat penting. Dan kamu sebagai perwakilan dari pemimpin yang tidak bisa hadir, harus membantuku. " tegas Tomohisa.

— Reader pov —

Haha. Rasakan itu, dasar wanita #&// --- Oke oke, [ Name ], tenangkan dirimu. Melihat adegan tersebut cukup menghibur hati galauku. Ternyata, Tomohisa tidaklah seperti pria lainnya. Dia tetap menjaga harga dirinya dengan wanita lain meskipun cobaannya berat. Walaupun begitu, aku tetap merasa sedih kalau aku harus berpisah dengannya. Aku menatapnya cukup lama. Ku harap dia tidak menyadarinya.

— Tomohisa pov —

Huft... Perempuan ini benar-benar merepotkan. Kerjanya hanya menempel, menggoda, ah sudahlah. Tiba-tiba, aku merasa diperhatikan seseorang. Aku melihat sekeliling dan menemukan sepasang manik [ Eye Colour ] menatap dengan kecewa. Apa.... Dia peduli denganku ? Tidak mungkin, dia pernah bilang kepada salah satu temannya bahwa dia menikah denganku hanya karena bisnis dan orang tua nya. Apa aku tidak boleh kecewa

juga ? Aku juga tidak mau ada pernikahan tanpa cinta. Aku mencintai [ Name ]. Lebih dari apapun. Makanya, kukira dengan bercerai dia akan mencari yang lebih pantas untuknya ketimbang denganku yang tidak bisa membahagiakannya. Namun, tatapanku tertahan kepada tatapan [ Name ].

— Normal pov —

Tanpa sengaja, manik biru cerah Tomohisa bertemu dengan manik [ Eye Colour ] milik [ Name ]. Cukup lama, hingga akhirnya mereka sadar dan menatap ke arah lain masing-masing. [ Friend's Name ] yang melihatnya, langsung 'menembak' [ Name ] dengan kalimatnya..

" Tuh kan. Cintamu muncul pada saat yang tidak pas. Kamu gak jujur. Payah. " kata [ Friend's Name ].

[ Name ] merasa sangat tertohok. oke, sekarang panggilannya berubah menjadi " Payah ".

" Siapa yang kau bilang payah ? " kata [ Name ] sambil mengeluarkan aura gelapnya, yang membuat [ Friend's Name ] begidik ngeri.

Kemudian, wanita yang bersama Tomohisa tadi menghampiri meja [ Name ].

" Kau.... Istri Tomo, ya ? Maaf, tapi Tomo sekarang mi-lik-ku~. " kata wanita itu.

— TBC —

10 Days to DivorceRead this story for FREE!