( Day )一 [ Ichi ] - Snowfall

90 18 7


" Ada apa ? Kalau mau bicara langsung saja ke rumah, lagipula sebentar lagi jam-- "

" [ Name ],  mari bercerai. "

" Eh ? "

"  Sejujurnya, kamu tidak mencintaiku, kan ? Aku tau itu hanya paksaan orang tua kita. Maaf. "

Di bawah hujan salju yang ringan, tepat bulan Desember. Itulah pertama kali nya, aku merasakan yang namanya............. ' patah hati ' .

— [ Name ] pov —

Tunggu. Cerai ? Ini cuma mimpi kan ? Dia hanya bergurau kan ? Dan kenapa... tiba-tiba ?

" Tunggu. Apa maksudnya kamu minta cerai begitu saja ? Bagaimana dengan pendapat ayah dan ibu nantinya ? " tanyaku berkali-kali.

" Soal ayah dan ibu bisa diurus dengan mudah. Dan, sudah kubilang kan ? Kamu tidak mencintaiku dengan hatimu kan ? Pasti karena paksaan orang tuamu. " katanya tanpa ada ekspresi di wajahnya.

" Berikan aku alasan yang lebih jelas, aku gak--- "

" Bukankah itu sudah jelas ? Kau tidak mencintaiku. Untuk apa aku menikah tanpa ada perasaan ? Seperti membaca tanpa mata . "

Kata-kata itu, menohok ku dalam. Kini, aku diam. Memang benar katanya, aku menikah atas paksaan orang tuaku dan bisnis. Tapi, itu dulu. Aku mencintainya, sekarang. Bodohnya aku tidak pernah menerimanya dari dulu. Sekarang, sang algojo telah menjatuhkan hukuman kepada si pelaku kejahatan.

Tak ada kata-kata yang menyahut, Tomohisa langsung pergi dari hadapanku. [ Name ], kejar dia ! Aku ingin mengejarnya, tapi... kakiku mengikuti egoku. Aku memang jahat. Sejak awal, aku yang memang tidak pernah menunjukkan wajah bahagia saat bersamanya.

* flashback *

— 2 bulan sebelumnya —

" Selamat atas pernikahan kalian, aku sangat bangga. " kata ibu terharu.

" Terima kasih, Nyonya [ Surname ]. " kata Tomohisa sambil membungkukkan badannya.

" Jangan panggil aku seperti itu lagi, panggil saja ' ibu ' , kita kan sudah menjadi keluarga. " sahut ibu dengan gembira.

" Baiklah, ibu. " Kata Tomohisa dengan senyum hangat terpancar di wajahnya.

Apakah ini bagian dari acara ? Huft, membosankan. Aku yang daritadi mendengar pembicaraan orang tuaku dengan Tomohisa, hanya diam.

" [ Name ], kamu sakit ? Apa kita pulang sekara--- " tanya Tomohisa yang langsung kupotong cepat.

" Gak usah. Kalian lanjutkan saja, aku hanya menyimak. " kataku sambil menyesap wine yang ada di gelasku.

Tomohisa yang merasa terabaikan olehku langsung kembali menjawab pertanyaan yang disambar oleh ibuku. Ibu, cerewet sekali.

* flashback end *

— Normal pov—

Terlihat seorang [ Name ] melangkah sempoyongan menuju apartemen lamanya, tempat sebelum iya tinggal dengan Tomohisa. Setibanya di kamar, [ Name ] terus-terusan menatapi ponsel yang biasanya akan menampilkan notifikasi dari Tomohisa, sekedar menanyakan ' sudah makan belum ? ' atau ' apakah kamu sudah sampai rumah ? ' dan sebagainya. Kini, hal itu tidaklah muncul.

" Aku.. harus apa ? " Gumam [ Name ] kepada dirinya sendiri. Setetes demi setetes air matanya mengalir perlahan, lama kelamaan semakin deras dan diikuti oleh suara isakan yang lama-lama bertambah keras. [ Name ] menangis sekeras-kerasnya. Menyesal, selalu datang terlambat. Tak ada harapan yang tersisa, batin [ Name ]. Tapi, secercah cahaya ilahi menerangi akal mungil sang [ Name ].

" Hah ?! Kamu minta aku comblangin kamu ke Tomohisa ? Suamimu sendiri ? "

" Shh... Jangan berisik. Nanti ketahuan gimana ? " kata [ Name ]  .

[ Name ] akhirnya mengundang dan meminta bantuan kepada temannya yang menurut 'rumor' adalah ratu comblang nomor satu seantero Jepang. Katanya.

" Emang kenapa ? Dia udah berpaling darimu ? Gak bisa dibiarin... " katanya dengan geram.

" Bukan. Ini salahku. Dia sudah berusaha agar aku mau menerimanya, tapi malah aku yang mematahkannya. " jawab [ Name ] dengan cepat.

" [ Name ] juga sih. Sudah kubilang, cinta itu munculnya gak cepat. Sekarang dia sudah terlanjur kecewa. Lagipula, Tomohisa itu jangan dilepas. "

" Lepas... ? "

" Iya. Pria seperti dia langka. Siapa yang bisa mengalahkan visual dan kelakuannya di sini ? Bahkan yang artis sekalipun, sangatlah jarang, [ Name ]. "

— [ Name ] pov —

" Kamu terlalu lengah, jangan sampai dia diembat cewek lain loh~ " katanya.

Kali ini, aku, [ Name ] [ Surname ] akan memperjuangkan segalanya demi cinta. Ya, demi cinta.

— TBC —


10 Days to DivorceWhere stories live. Discover now