THE DAY

1K 86 6

Happy reading
-------------------------

Seorang anak perempuan terlihat sibuk memasukkan barang-barangnya ke kardus. Semua baju yang selama ini tersimpan rapi pada lemari, di pindahkan ke dalam koper. Dengan terampil tangan mungilnya membereskan semua keperluan yang akan dibawanya pergi.

"Alana, kamu juga akan pergi?" tanya gadis kecil bermata hijau sambil menyentuh ujung baju Alana. Gadis tersebut tengah sesenggukan karena akan ditinggalkan sahabatnya.

"Maafkan aku. Aku janji, pasti akan mengunjungimu kemari." Alana mengusap kepala gadis yang rambutnya dikepang dua itu dengan sayang.

"Sebelumnya kamu pernah berjanji tidak akan meninggalkanku. Kenapa kamu sekarang meninggalkanku? Bahkan, semua orang." Amerley-gadis berkepang dua tersebut menyeka air matanya.

"Amerley, jangan menangis. Aku minta maaf. Ini kesempatan yang sudah lama aku tunggu, bisa memiliki keluarga seperti anak normal lainnya." Alana memeluk tubuh mungil Amerley.

"Berjanjilah bahwa kamu akan mengunjungiku." Amerley mengurai pelukannya dan memberikan jari kelingkingnya.

"Tentu saja, Anak Cengeng. Aku pasti akan mengunjungimu." Alana mencubit gemas pipi Amerley.

"Kamu tidak boleh berbohong, Alana. Aku tidak mau kamu berbohong seperti Ame," Amerley memperingatkan sambil berkacak pinggang.

"Baik, baik, aku tidak akan berbohong," balas Alana sembari menutup koper yang sudah penuh dengan bajunya.

Alana keluar kamar sambil mengangkat barang-barangnya yang sudah ditaruh dalam kardus. Amerley juga membantunya menyeret koper dengan sebelah tangan mungilnya, sebelahnya lagi ia gunakan untuk menarik ujung baju Alana.

"Alana, apa kamu akan melupakanku setelah mereka mengadopsimu?" tanya Amerley polos.

Ya. Alana hari ini diadopsi oleh sepasang suami istri. Sebenarnya pasangan suami istri tersebut sudah pernah datang ke panti asuhan seminggu yang lalu, tapi karena ada urusan mereka mengundur waktu untuk menjemput Alana.

"Tentu saja tidak, Amerley. Aku tidak akan melupakanmu. Bukankah kau ini temanku?" Alana menghentikan langkahnya saat sudah berada di depan ruangan Mrs. Karen, sedangkan Amerley mengangguk sebagai jawaban.

"Mrs. Karen, aku sudah siap," ucap Alana setelah memasuki ruangan Mrs. Karen bersama Amerley.

"Barang-barangmu tidak ada yang tertinggal?" tanya Mrs. Karen sembari tersenyum. Alana langsung menjawabnya dengan gelengan kepala.

"Sayang, kenapa kau membawa banyak barang? Semua barangmu tidak diperlukan di sana," ujar lelaki yang perutnya mengembung seperti balon kepada Alana. "Aw! Kenapa kau menginjak kakiku, Sayang?" pekiknya pada sang istri sembari meringis.

"Jaga bicaramu," bisik wanita yang memiliki postur tubuh tidak jauh berbeda dengan suaminya. "Sayang, jangan dengarkan kata-katanya," sambung wanita berambut merah itu sembari mendekati Alana dan memeluknya.

"Tidak Apa-apa, Aunty," Alana menanggapinya sambil tersenyum.

"Tidak. Tidak. Tidak. Jangan panggil aku dengan sebutan Aunty. Aku sekarang sudah menjadi ibumu, jadi panggil aku Mommy," pinta wanita itu seraya merapikan anak rambut Alana ke belakang telinganya.

"Em ... baik, Aun- eh maksudnya Mommy." Hampir saja Alana mengeluarkan air mata saat menyebutkan kata Mommy.

Bagaimana tidak, dari Alana bayi hingga kini berumur delapan tahun, ia tidak pernah menyebutkan kata tersebut. Jangankan menyebut kata itu, identitas kedua orang tuanya pun ia tidak tahu.

The Promise Is YouBaca cerita ini secara GRATIS!