🎶

305 27 45
                                          

Sebelumnya mau bilang kalo part ini muncul karena event yang diadain kak moka a.k.a @taeffeine
Ada yang tau siapa dia? I love her books so much, especially stay💜

...

Aku selalu ingat ketika awal hubungan kami. Disaat semua orang mengatai Mira bodoh karena menampungku dan dia dengan begitu gigih memasang badan untukku.

Iya, Mira. Mira-ku.

Aku bisa bayangkan jika kau ucapkan kalimat itu di depan rungunya. Ia akan mendecih keras, terkekeh geli seperti orang dungu, lalu menjawab dengan seringai tipis di wajah eloknya, "Omonganmu itu kedengaran seperti kumpulan kodok sedang mengoceh. Benar-benar asing di telingaku. Kalaupun aku mencintai Taehyung sebanyak apa yang kumiliki, aku tetap tak akan bisa berikan segalanya. Ia cantik. Sempurna. Tak terbatas. Hanya itu. Tidak ada yang setara dengannya."

Dulu, ketika mendengarnya, aku kira itu hanya bualan gadis yang sedang dirundung cinta monyet saja. Tapi, sekarang, aku rindu kalimatnya itu. Begitu rindu saat ia memasang badan di depan orang-orang, namun malamnya berakhir memelukku erat-erat dan menangis.

Mira memang serapuh itu. Dan aku kelewat menyesal karena abai padanya hingga ia lelah pada hubungan kami.

Rasanya, aku sekarat sekarang. Apalagi, setelah tahu fakta bahwa dari awal dia memang tak baik-baik saja. Dia kurang waras, tapi aku mencintai ketidakwarasannya itu.

Aku ingin merengkuhnya seperti malam-malam yang kami lalui dulu. Aku ingin mendengar gumaman sintingnya yang kerap ia lontarkan setelah sesi berkeringat kami. Aku ingin melakukan lomba diam bersamanya lagi.

Mira. Mira. Mira.

Kenapa Tuhan hanya menciptakan satu Mira saja di dunia? Oh, bukan. Dia itu iblis. Dan selalu mendeklarasikan diriku sebagai seni, bidadari surga, dan semua hal indah di semesta ini. Dia itu perayu ulung.

Bodohnya aku karena baru terjerembab ke dalamnya setelah pemiliknya pergi, lenyap begitu saja.

Kemarin, Jimin bilang bahwa pacar tuanya Mira pergi selama beberapa hari. Aku tentu saja senang. Tak akan melepas kesempatan membawa Mira pulang. Tunggu, bukan dia yang pulang. Tapi, aku. Mira adalah rumahku.

Aku akan pulang sebentar lagi.

...

Pukul setengah tujuh malam dan langit sedang menangis sekarang. Oh, Mira juga. Ia juga menangis.

Aku mengeratkan genggaman di payung merah nyentrik kesayangan Mira. Masih bisa merasakan hangat genggaman Mira saat ia bersikeras memegang payung ini dulu.

Kini, aku melihatnya tersedak karena menangis. Itu membuatku sakit. Sakit sekali. Aku mencoba menggapainya. Ingin. Ingin sekali, namun tak bisa.

Jendela menjadi sekat antara kami. Ia masih tak sadar bahwa aku disini. Memandangnya yang lebih elok ketimbang purnama. Tapi, Mira yang sekarang adalah Mira yang tak ingin kulihat.

Jangan menangis. Aku tercekik karenanya. Rasanya mau mati saja.

Aku mendelik saat kudapati ia menjatuhkan barang-barang di atas meja.

Jangan lakukan. Kau bisa melukai tanganmu.

Dan mungkin konflik dari semuanya ialah saat ia menggapai serpihan kaca yang berserakan. Aku tertegun.

Tok! Tok! Tok!

Kupukul jendela rumah ini. Berharap Mira mau menengok sedikit saja dan mendapatiku ada disini.

ɱy ɦѳɱɛ, ɳѳt ɦɑʀɓѳʀ. [ kiɱ tɑɛɦyuɳg ]✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang