Only One (01)

1.9K 177 32

Kim Hanbin dan Kim Jinhwan, sahabat kecil tak terpisahkan. Segala bentuk kebiasaan kecil sudah dihapal diluar kepala.

Hanbin tumbuh menjadi pria yang tangguh, Jinhwan tumbuh menjadi si mungil berhati mulia.

Setelah kelulusan, Kim Hanbin dipaksa menikahi Kim Jinhwan. Hanbin menolak mentah-mentah pernikahan itu, dia memiliki kekasih manis bernama Jung Jaewon. Membina hubungan sedari kuliah, Hanbin begitu menggilai Jaewon, tak peduli latar belakang si pria manis itu. Hanbin hanya buta.

Jinhwan? Pria itu hanya pasrah. Keputusan orang tuanya sudah ia anggap sebagai keputusan telak. Final. Tak bisa diganggu gugat. Sedari kecil, ia tak bisa menolak apapun yang orang tuanya pilih untuknya. Dilahirkan dari keluarga terpandang, Jinhwan memang memiliki hati yang begitu lembut. Hingga akhirnya keputusan orang tuanya menikahkan ia dengan Hanbin sedikit membuatnya senang namun tak ayal pula dia merasa kesakitan. Jinhwan tau Hanbin memiliki Jaewon, sudah menjadi kegiatan rutin setiap saat Hanbin akan bercerita tentang Jaewon padannya. Tapi, selembut-lembutnya hati Jinhwan, si manis ini pula ingin egois. Dia ingin egois, memiliki Hanbin untuk dirinya sendiri walau nyatanya hati pria itu tak tertuju untuknya. Karena Jinhwan lelah menyimpan perasaan itu bertahun-tahun.


.


"Kim Hanbin. Kau ayah jodohkan dengan Jinanie. Kalian akan melangsungkan pertunangan seminggu lagi."

Hanbin melotot tak percaya. Memandang sangsi ayahnya. Tangannya mengepal erat hingga ia berdiri pongah menatap ayahnya.

"Yang benar saja?! Aku tak suka bercanda, yah! Sudah cukup aku mengubur mimpiku dan menurutimu mengambil perusahaan! Kau tak berhak mengatur kehidupan cintaku!"

Ayahnya menatap datar Hanbin. Pria tua namun terlihat berwibawa. Ia tersenyum mengejek kemudian.
"Hanya karena pria jalang itu kau berani membentak ayahmu, Kim Hanbin!" Tuan Kim beranjak. "Kau tetap akan menikah dengan Jinanie, dia anak yang baik tak seperti priamu itu, Kim. Keputusan ayah sudah final. Tak ada bantahan!"

Hanbin menatap marah, ia memukul meja kayu bernilai mahal itu. Amarahnya sudah memuncak.

"Sialan! Bapak tua kaparat!"


.


"Jinani sayang?"

Jinhwan yang tengah menyantap makanannya kini beralih atensi menatap ayah kesayangannya.

"Ada apa, yah?"

Tuan Kim tersenyum menatap putra mungilnya yang kini sudah dewasa. "Jinhwanie? Kau sudah dewasa sekarang'kan? Nani sudah cukup untuk membina rumah tangga,"

Jinhwan menatap was-was ayahnnya. Dia masih sendiri, takut saja jika tiba-tiba disuruh membawa pasangan. Jinhwan harus apa kan?

"Nah, Nani. Bunda ingin Nani bahagia, bunda dengan ayah sudah menyiapkan perjodohan ini dari Nani kecil. Lagi pula, Nani juga selalu dekat dengannya jadi Nani akan terbiasa." Nyonya Kim itu kini meneglus lembut kedua tangan putranya yang tengah duduk disampingnya. Jinhwan mengrenyit, ia menatap penasaran ibunya.

"Memangnya Nani dijodohkan dengan siapa, bun?"

Wajah nyonya Kim berubah cerah.
"Nani dijodohkan dengan Hanbinie. Tentu saja!"

Jinhwan membola, ada perasaan senang dihatinya. Namun singgah pula perasaan sesak. Ia menatap nanar ayah dan bundanya.

"Tapi Hanbin sudah memiliki kekasih. Apa kalian tega melakukan ini padannya?!" sentak Jinhwan, pria manis itu merasa tak enak untuk merusak kebahagiaan sehabat kecilnya.

Tuan Kim terdiam, ia menatap sendu putranya. Ia sudah menduga ini akan terjadi, Jinhwan kecilnya memang berhati malaikat.
"Nak. Ayah sudah bicarakan ini dengan ayah Hanbin, tapi tetap saja ayah Hanbin bersikeras menikahkanmu dengan putranya. Ayah juga tau kamu memiliki perasaan lebih pada Hanbin. Ayah hanya ingin kamu bahagia,"

Jinhwan tetap menunduk sedih, ayahnya benar, ia juga berhak egois. Tapi, ia hanya takut. Pernikahan tanpa perlandasan cinta. Apa itu akan bertahan lama? Jinhwan bertanya pada dirinya sendiri tentu saja. Tapi ia juga ingin bersama Hanbin. Tak peduli seberapa sakitnya.

"Yah, Bun...bagaimana jika Hanbin membenciku? Pernikahan seperti ini tak akan berhasil. Hanya cinta sepihak. Itu terdengar menyakitkan." gumam Jinhwan. Bunda Kim mengelus surai putranya lembut.
"Jinani? Dengarkan bunda, cinta datang karena terbiasa. Hanbin akan belajar mencintaimu dan menerimamu disisinya, tidak sulit. Kamu dan dia sudah dekat, bahkan sejak kalian kecil. Jangan takut, Jinanienya bunda juga berhak bahagia. Masalah kekasih Hanbin biar paman Kim yang mengurusnya."

Jinhwan mengangguk tapi matanya berkaca-kaca.

"Bun, Yah? Bukankah jika seperti ini Nani menjadi orang jahat? Memisahkan cinta mereka. Bukankah Nani jahat?"

Bunda Kim akhirnya memeluk putra manisnya. "Nani tidak jahat, Nani putra bunda yang baik hati. Percayalah. Kamu yang terbaik untuk Hanbin. Bunda berani bertaruh." kelimat itu berhenti ketika kecupan hinggap di pelipis Jinhwan. Memberi ketenangan dan kekuatan tersendiri untuk Jinhwan.

Jinhwan akhirnya beranjak pergi menuju kamarnya. Meninggalkan tuan dan nyonya Kim yang membisu.

"Kau tau? Ini akan menyakiti Jinhwan." bisik tuan Kim. Nyonya Kim hanya melengos. Ia tau akibatnya, tapi ia ingin Hanbin menjadi menantunya.

"Aku tau. Tapi Jinhwan juga menyukainya, dia akan baik-baik saja."

Tuan Kim menghela nafas. "Kau egois. Jinhwan akan tersakiti nantinya. Aku tak mau dia terluka."

Nyonya Kim memandang nyalang suaminya, dia mendengus kesal. "Biarlah. Lagi pula Hanbin sudah dekat dengan Jinhwan, mereka akan cepat menyesuaikan diri!"

"Jangan terlalu kejam. Kau tak tau nantinya akan jadi seperti apa. Aku tak mau tau. Jika Hanbin menyakiti Jinhwan, aku akan mengirim surat perceraian secepatnya! Jangan membantahku!"


.


Jinhwan membuka ponselnya saat notifikasi berdering. Ia melihat id Hanbin disana sebagai penelpon. Segera ia menggeser tombol hijau.

"Halo? Hanbini? Ada apa?"

"Kim Jinhwan? Jangan berbasa basi. Aku mau kau tolak perjodohan itu! Kau sahabatku! Harusnya kau mengerti jika orang yang ku cintai hanyalah Jaewon!"

Jinhwan mematung, matanya berubah sendu, jantungnya berpacu kian cepat, tapi sakit seperti diremas.

"H-Hanbin...aku...aku...tak bisa..."

Terdengar dengusan dari sebrang. Jinhwan kian teriris, hatinya terasa sesak.

"Dengar! Berhentilah menuruti mereka! Kau bukan boneka mereka! Aku sudah memiliki Jaewon!"

"Aku tak bisa...aku tak bisa, Hanbin!"

"Terserahmu! Aku membencimu! Jangan harap aku akan berbalik mencintaimu! Yang aku cintai hanya Jaewon!"

Panggilan selesai. Jinhwan membeku dengan air mata yang mengalir deras. Dadanya ia cengkram, sesak sekali. Ia tak bisa bernafas. Rasanya menyakitkan. Tapi ia tak bisa menolak itu semua.

Keputusannya sudah bulat.

Ia mencintai Hanbin.

Ia harus bertahan dalam keadaan apapun.


.
.
.

TBC

.
.
.

Semoga mulai chapter depan emosinya kerasa ya. Hehe biar pada ribut, saya suka keributan.

Ah iya...
Ini jujur aja, cerita sama judul gak nyambung bgt, maapin :"

1...2...3...! Binhwan time!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang