37

327 25 0

-Author PoV-

Lana menggigit-gigit bibirnya mendapati Al dan Mika masih perang dingin sampai keesokan harinya. Dia tak konsentrasi mengikuti pelajaran karena rasa bersalah. Diam-diam menoleh beberapa kali pada Mika yang duduk di belakang Haris.

Entah Mika sadar dengan aksi memata-matainya, si keriting hanya menatap lurus ke papan tulis dengan tajam. Tangannya terlipat di dada seolah menyuruh orang-orang jangan berbicara padanya. Guru yang masuk juga tidak menggubrisnya, meski jelas guru memperhatikan tingkah laku tak lazim Mika. Dimas selaku ketua kelas diminta guru di jam terakhir sebelum istirahat pertama untuk ikut. Guru itu pasti menanyakan perihal Mika, karena Dimas berdecak tak suka sambil melihat ke arah Mika begitu kembali ke kelas.

Lana mendekati Al yang sedang melanjutkan tugas yang dipindah-alihkan sebagai pr. Al yang rajinnya kelewatan bukan hal baru lagi, padahal tugas itu dikumpul minggu depan saat mata pelajaran yang sama. "Al." Al yang sedari tadi komat-kamit tanpa suara karena membaca buku mencari jawaban, mengangkat kepala mendengar namanya disebut.

"Ya, Lan?" ucapnya lembut tak lupa dengan senyum.

"Gue boleh duduk di sini?" tanya Lana sambil menunjuk kursi Rafki yang kosong karena ditinggal ke kantin.

"Duduk aja. Kan, lagi kosong." Lana menggeser kursi kayu itu mendekat pada Al. Dia menoleh pada Mika sebentar sebelum kembali berhadapan dengan Al yang memandanginya bingung.

"Al, gue minta maaf, ya?"

"Kenapa?" Kening Al berkerut tak mengerti kenapa Lana meminta maaf. Al belum berusaha mengakrabkan diri dengan yang lain. Seingatnya dia belum berinteraksi banyak dengan Lana sejak teman-temannya menjauh dna dia memilih melakukan hal yang sama.

"Sebenarnya Mika kayak gitu kemaren karena gue minta tukeran kursi di depan dia. Gue nggak nyaman duduk di samping dia. Lo liat aja tu muka kayak mau makan orang. Gue nggak nyangka dia sampe geser meja gitu. Gue kira bakal kesal-kesal gitu aja." Al melirik Mika, yang seperti biasa sibuk dengan game. Al tidak menyalahkan Lana, toh dia juga sedang malas duduk dengan Mika. Pangkal masalahnya juga bukan soal kursi. Kejadian itu hanya perpanjangan masalah yang tak terselesaikan. Tak terelakkan, ketidaktahuannya mengenai ini tetap membuat Al merasa bersalah.

"Nggak pa-pa, Lan. Tenang aja."

"Apa gue harus minta maaf ke Mika?" Al langsung menggeleng kuat dengan tangan yang juga bergerak-gerak tak kendali. Lana sampai memundurkan badan menghindari cedera.

"Jangan! Biar Al aja yang nyampein maafnya." Lana melongok ke belakang sekali lagi, kemudian mengangguk. Sepertinya dia juga tak berani menyampaikan maafnya secara langsung.

"Oke. Makasih ya, Al." Al mengangguk. Dia bernafas lega karena Lana tak bersikeras meminta maaf pada Mika. Bukannya penyelesaikan, itu hanya akan membawa masalah baru. Tak ada yang tau akan dimanfaatkan seperti apa maaf dari Lana. Persentase akan terjadi kegaduhan lagi sangat besar.

***

"Kemana?" Al berusaha melepas pergelangannya dari cengkraman Mika, tapi tak berhasil. Mika benar-benar memanfaatkan kekuatannya. Al tak akan terkejut kalau nanti akan menimbulkan bekas kemerahan.

Al mengisyaratkan Rafki pergi duluan sebelum memberi Mika tatapan paling menakutkan yang bisa dilakukannya. Kelas sudah kosong, Mika tak akan ragu mengajaknya beradu argumen, jika memang ada yang harus diadu.

"Makan siang."

"Bekal lo ada disini, kenapa harus pergi ke kantin?" Mika berusaha keras tak menyebut nama Rafki. Dia masih malu dengan peristiwa kursi kemarin. Dia masih punya harga diri yang ingin dijaganya.

Alvord-I'm Fine [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang