Bab 4

499 16 12

Sudah berkali-kali Sasha berusaha melepaskan genggaman Saputra, tapi selalu saja gagal. Tangan Saputra terlalu kuat untuk Sasha lepaskan begitu saja. Ketika cewek itu melihat sekeliling, rupanya Saputra membawa dia ke belakang sekolah, dimana tidak ada siapa pun di sana kecuali mereka berdua.

Tubuh Sasha gemetar ketakutan. Wajahnya pucat seketika. Dia takut kalau Saputra akan berbuat macam-macam dengannya. Sesaat, Sasha mengingat Lucca. Dia benci sekali cowok itu tidak menolongnya tadi.

"Enggak usah takut," sahut Saputra.

Wajah Sasha yang tadinya menunduk dalam-dalam, kini terangkat sedikit.

"Gue cuman mau minta maaf karena Sabtu kemarin gue enggak dateng," ujarnya lagi.

"Tapi.. Kenapa lo sampai bawa gue ke sini kalau lo cuman mau minta maaf doang?" kata Sasha. Kali ini, wajahnya tidak menunduk ketakutan lagi. Dia mengumpulkan keberaniannya sebisa mungkin.

"Karena gue mau kasih sesuatu yang spesial buat lo," Saputra mengeluarkan sebuah cokelat batangan dari saku celananya. "Nih, buat lo."

"Lo mabok?" tanya Sasha meyakinkan, takut-takut Saputra salah orang.

Saputra tertawa geli, "Enggak, ini emang buat lo. Terima aja sebagai bentuk maaf gue soal kemarin."

Sasha diam sejenak, lalu tangannya mulai mengambil cokelat tersebut.

"Gue terima permintaan maaf lo," ujar Sasha sambil tersenyum. Hatinya terasa hangat saat ini. Segala kekesalan yang telah dibuat cowok di hadapannya seakan-akan lenyap sudah. Pikiran bahwa Saputra adalah cowok super playboy langsung melayang begitu saja.

Saputra membalas ucapan Sasha dengan senyuman manis dan berlalu pergi. Sasha pun beranjak ke kelas karena tidak sabar untuk menceritakannya pada teman-temannya. Setibanya di kelas, teman-teman Sasha langsung menyerbunya begitu melihat ada cokelat di tangan cewek itu. Sasha itu tipe yang enggak bakal keluarin uang hanya untuk makan cokelat atau cemilan lainnya, jadi bisa dipastikan kalau cokelat itu datangnya dari orang la in. 

"What?! Lo dikasih cokelat sama Saputra?!" seru Risya kegirangan.

"Sshht! Gila lo, sya, suara lo kenceng banget!" tegur Sasha malu.

Begitu Risya mengatakan hal tadi dengan suara yang begitu lantang, seisi kelas langsung memusatkan perhatiannya pada Sasha, padahal sebentar lagi guru mereka akan masuk.

Sedari tadi, Lucca terus saja memperhatikan Sasha dan juga cokelat yang digenggamnya. Dia sudah tidak tahan lagi dengan Saputra.

"Jadi gitu, Sap?" ujar Lucca pelan pada Saputra di sebelahnya.

"Maksud lo, Luc?"

"Jangan pura-pura bego," sahut Lucca lagi. Urat-urat di tangannya mulai terlihat, siap untuk meninju siapa saja di hadapannya.

Saputra menatap Lucca dan Sasha bergantian, "Lo juga jangan pura-pura bego sama perasaan lo sendiri. Giliran dibilang suka, lo malah ngelak. Jadi, jangan salahin gue kalau Sasha gue jadiin next target," Saputra berlalu pergi meninggalkan Lucca seorang diri.

Perkataan Saputra barusan menyadari Lucca. Omongannya memang ada benarnya, tapi itu membuat emosi Lucca tersulut. Dia heran dengan Saputra yang selalu saja mengkhianatinya. 

"Sha, ikut gue."

Perkataan Saputra barusan, mengagetkan seisi kelas saat ini. Begitu pula dengan Sasha, cewek yang diajak Saputra. 

"Nga-ngapain? Kan, udah mau masuk," tolak Sasha.

"Bolos," jawab Saputra.

"Hah? Bolos? Enggak! Gue enggak mau!" Sasha semakin kuat untuk melepaskan tangannya dari Saputra.

MINEWhere stories live. Discover now