SATU

614 110 38
                                              

Di sebuah rumah sakit pendidikan ....

Hisyam menjalani hari-hari yang sibuk sebagai dokter yang tengah menempuh pendidikan spesialis Obstetri dan Ginekologi. Sebagaimana peserta didik, banyak sekali pekerjaan yang harus dikerjakan. Seperti saat ini. Belum lama keluar dari ruang operasi, ia sudah dihadapkan dengan tugas visit pasien sebangsal. Rawat inap rumah sakit pendidikan memang tidak pernah sepi pasien. Pinggang Hisyam seperti akan putus. Lututnya mungkin mulai kopong akibat berjam-jam berdiri di ruang operasi. Belum lagi tugas mengetik tumpukan rekam medis yang begitu banyak. Kalau sudah begini, ia kembali memikirkan saran kedua orang tua. Sebenarnya mereka kurang setuju sang putra mengambil spesialis dan lebih menyarankan mendalami manajemen rumah sakit. Namun sudah terlanjur. Sebentar lagi pendidikannya akan usai. Tak ada guna untuk mundur saat ini.

"Aku kepingin fokus ke klinis, Pa," alasan Hisyam saat itu.

Berkat otak jenius dan koneksi yang kuat, ia berhasil diterima dengan mudah. Kedua orang tuanya tidak bisa berbuat banyak untuk mencegah.

"Tapi kamu harus menikah sebelum usia tiga puluh!" Syarat sang ayah itu membuat bebannya semakin berat. Ia sudah 29 tahun saat ini, berarti dalam hitungan bulan ayahnya akan menagih menantu. Mengingatnya saja membuat kepala Hisyam berputar.

Pening!

Lamunannya buyar, ketika seseorang menghampiri. "Dok, ada konsul cito dari IGD." Dokter jaga memanggil Hisyam yang sedang duduk di nurse station.

Dokter ganteng berwajah simpatik yang menjadi idola ibu-ibu itu mengalihkan pandangan dari layar komputer sembari membetulkan letak kacamata. Melihat wajah panik juniornya, Hisyam memberi atensi lebih dengan berjalan menghampiri si pembawa informasi.

"Pasien apa?" Radar Hisyam seperti menyala.

"Ibu hamil kecelakaan, Dok."

Dokter umum bernama Yuda itu memberikan teleponnya kepada Hisyam. Begitu batangan pipih persegi menempel ke daun telinga, Hisyam mendengarkan dengan wajah serius. Setelah mengembalikan telepon, sang putra direktur RS Lovellete bergegas ke IGD.

Ibu hamil yang menjadi korban kecelakaan lalu lintas benar-benar dalam kondisi tidak stabil sehingga ia diminta untuk datang segera. Menurut keterangan petugas IGD, sebuah sedan beradu dengan truk di jalan tol ke arah Pandaan. Peristiwa nahas yang merenggut korban jiwa sudah pasti bukan kecelakaan ringan. Sambil melintasi lorong demi lorong, Hisyam membayangkan akan seberat apa sorenya kali ini.

Pasien itu ternyata sangat muda. Umurnya baru 19 tahun, masih usia anak kuliahan. Ia terlihat pucat dan gelisah kesakitan. Hisyam merasa familier dengan wajah perempuan itu, tapi lupa di mana ia pernah melihat pasien ini? Seberapa penting si ibu muda di hadapannya hingga Hisyam merasa seperti terikat sesuatu tak kasat mata?

Berkali-kali mulut pasien bernama Azizah itu memanggil 'ayah' sembari mengerang kesakitan. "Ayahnya sopir sedan nahas itu, Dok," bisik salah satu perawat. "Sudah meninggal saat dibawa kemari, tapi pasien belum diberi tahu."

Hisyam menjadi kasihan. "Sudah diperiksa apa saja? Gimana hasilnya?" Ia bertanya pada dokter jaga IGD.

"Tekanan darah turun, nadi cepat, pernapasan cepat, dan nyeri tekan di perut bagian bawah, Dok," lapor dokter jaga IGD.

"Tapi sudah diguyur, Dok."

"Ada lagi?" tambah Hisyam sambil memijat pangkal hidungnya yang bangir.

"Dari pemeriksaan Doppler, ditemukan kegawatan janin."

Hisyam menelan ludah karena firasat buruk tiba-tiba melintas di benak. Kepalanya jadi semakin berat. Selain karena kurang istirahat, sejujurnya Hisyam terlalu sensitif dengan kasus kecelakaan yang menimpa ibu dan bayinya. Hatinya tak pernah bisa melihat bayi tak berdosa harus pulang, bahkan sebelum melihat dunia.

My Adorable PatientTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang