Ketiga pemuda itu mengangguk bersamaan. Ajie tak tahu harus berkata apa. Apa maksudnya?

"Ya udah, kerja lagi gih. Nanti kita sambung lagi ya obrolannya." Lily menarik lengan baju Ajie. "Ayo, Pak! Tuh kita udah ditunggu sama Mbak Amy dan Mas Danu," lanjutnya tak peduli pada kening Ajie yang masih berkerut bingung.

Jadi begini...

Tadi itu sebelum Ajie mendekat, salah satu dari tiga pemuda itu bilang. "Lily cantik, yuk makan siang bareng sama kita-kita."

"Iya nih, susah banget ngajakin Lily makan bareng aja."

Lainnya ikut menimpali. "Lebih susah dapet jawaban iya dari Lily dibandingkan mendaki gunung Himalaya."

Terus mata Lily membulat. "Eeeh, jangan gitu dong! Lily sih suka-suka aja makan gratis. Kapan-kapan kita makan rame-rame dengan anak Sekper juga ya. Tapi yang jelas naik gunung Himalaya itu... " dan saat itulah Ajie mendekat. 

Begitulah ceritanya, hingga Lily mengatakan sesuatu yang membingungkan... menurut Ajie.

Ternyata masalah tak sampai di situ. Saat makan siang, Lily pamit makan di Cafe lantai dasar gedung GE. Sendirian. Amy sangat sibuk siang itu dan hanya meminta tolong dibelikan makan siang. Danu bekerja di ruangan Ajie untuk menyiapkan sesuatu. Sedangkan Ajie sudah keluar kantor dan meeting dengan beberapa tamu asing di Hotel.

Lily hanya bermaksud mencuci tangan sebelum naik ke Lt. 9. Ia menitipkan makanan Amy di lobby sebelum ke toilet. Tapi setelah itu ia tak muncul-muncul lagi. Setelah dua jam berlalu, Danu keluar menemui Amy.

"Udah makan, Mi?" tanya Danu sambil mendekati meja kerja sekretaris yang ada di depan pintu Presdir.

Amy yang sedang mengetik laporan, terpana. "Eh iya, belum, Mas. Tadi sih nitip sama Lily minta beliin Soto Ayam." Gadis itu melirik jam tangan. "Udah lama loh dia perginya. Kok belum balik ya?"

"Tanya gih ke Lobby. Kali aja tuh anak ngobrol keasyikan kayak tadi pagi." Dengan santai, Danu bersandar di meja dan mulai mengetuk-etuk meja teratur sambil senyum-senyum memperhatikan Amy.

Amy menekan nomor Lobby dan setelah bertanya, ia tampak kaget. Buru-buru ia meletakkannya. 

"Kenapa?" tanya Danu ingin tahu. 

"Katanya, makanan aku udah dibeliin, Lily nitip di Lobby terus dia gak datang-datang lagi."

Danu menegakkan punggung. Wajahnya menegang. Tanpa banyak bicara, ia segera menuju lift. Tangannya merogoh ponsel di saku kemeja, menghubungi Ajie.

Sementara Amy ke ruangan staf, menanyai satu persatu apakah ada diantara mereka yang tahu di mana Lily. Semua mengatakan hal yang sama. Terakhir kali mereka melihat gadis itu sebelum makan siang. Mendengar itu, wajah semua orang berubah. Bingung, kuatir, dan panik. 

"Jangan-jangan dia tersesat lagi," duga Vani yang pernah dikeluhi Lily soal denah labirin lantai dasar gedung GE yang sering membingungkannya. Mira dan Eza mengiyakan.

"Ya sudah, kalian cari aja dia di bawah! Saya akan hubungi semua lantai, siapa tahu ada yang lihat Lily."

"Baik, Mbak!"

Semua orang berlarian, sementara Amy menuju telepon. Mulai menekan nomor-nomor secepatnya yang ia bisa. 

Hanya mereka yang tahu sepenting apa Lily itu bagi Ajie.

***

"Toilet sudah periksa? Gudang? Pintu keluar? CCTV?" tanya Danu setengah memberondong para petugas keamanan gedung. Mereka sudah berputar dua kali di seluruh lantai dasar, dan Lily belum terlihat. Petugas-petugas housekeeping juga berkumpul di depan pintu kantor Satpam. Bingung.

Bagaimana bisa seorang gadis dewasa hilang begitu saja?

CCTV masih dicek dan butuh waktu agak lama. Sedangkan tadi Ajie sudah memberi perintah via telpon kalau Lily harus ditemukan secepat mungkin. Danu bingung. Tak tahu lagi harus mencari kemana. Ia menghembuskan nafas berulang kali, berharap menemukan solusi.

"Ya sudah, cari sekali lagi!" perintahnya pada para satpam.

"Pak, maaf!" Seseorang diantara petugas Housekeeping maju dengan takut-takut. Danu menoleh. Gadis muda itu tampak ragu, tapi tangan Danu yang mengibas meminta ia bicara membuatnya berkata, "Tadi di Toilet Barat, saya gak bisa buka pintunya."

"Maksudmu?" tanya Danu.

Tangan gadis itu saling meremas, "Tadi pagi toilet itu tidak ada masalah, pintunya juga bisa dibuka dan saya kerja seperti biasa. Tapi barusan, sebelum Bapak panggil kami, saya berusaha buka dan pintunya terkunci."

"Kamu udah cek di dalam ada orang apa enggak?"

Gadis itu mengangguk. Danu melirik papan namanya. Santi. "Iya, Pak! Udah. Tapi gak ada yang jawab. Pas saya lagi mau lapor, Bapak manggil."

Danu berpikir sebentar. "Ya udah kita cek ke sana dulu. Yang lain sambil bantu cari di tempat lain." Merekapun kembali menyebar. Hanya Danu dan Santi yang mengecek ke Toilet Barat. 

Di depan pintu toilet, gadis itu sekali lagi berusaha membuka pintu. Tetap tak bisa terbuka. Danu meminta Santi untuk mengambil kunci cadangan, sementara ia berusaha membukanya. Saat itulah seorang Satpam mendekatinya.

"Pak! Mbak Lily masuk ke toilet ini tadi. Dia di dalam!" katanya memberitahu. 

Kali ini Danu bergerak lebih cepat, menggerak-gerakkan gagang pintu toilet itu sekali lagi. Tetap terkunci. Satpam ikut membantu. Santi masih belum terlihat datang. Tepat saat itu ponsel Danu berbunyi. Nama Ajie muncul di layar ponsel.

"Cewek lo terkurung di toilet kayaknya, Jie... Toilet Barat." Telepon terputus dan Danu kembali mencoba membuka. Kali ini mereka mulai mencoba mendobrak.

Beberapa karyawan, staf Sekper dan Satpam juga mulai berkumpul di depan toilet. Mereka menunggu dengan harap-harap cemas, sambil sesekali memanggil nama Lily. Tak ada jawaban. Makin lama menunggu, kerumunan makin banyak. 

Saat itulah, seseorang datang menyibak kerumunan. Ajie. Tanpa banyak bicara, ia menarik lepas tabung gas pemadam yang tergantung tak jauh dari pintu toilet. 

"Minggiiir!!" katanya setengah membentak. Semua orang menyingkir. Dua kali pukulan dengan tabung itu, engsel pintu yang kokoh itu terlepas bersama dinding pintu yang tak lagi utuh. Ajie meletakkan tabung itu begitu saja dan berlari masuk. Danu mengikutinya dari belakang.

Gadis yang mereka cari berada di sudut toilet dekat wastafel. Terduduk sambil meringkuk, memeluk lututnya, diam tak bergerak. Buru-buru Ajie mendekatinya. Saat ia menggerakkan tubuh Lily, gadis itu malah terkulai di tangannya. Ia pingsan. Wajahnya seputih kertas. Matanya terpejam rapat. Tubuhnya sedingin es.

Ajie menggeram. Dibopongnya gadis itu dan membawanya keluar. Danu kembali mengambil ponsel dan memberi perintah. "Siapkan mobil di depan! Cepat!" perintahnya pada seseorang di ujung telepon. Salah satu supir perusahaan.

Ajie tak lagi peduli pada tatapan orang-orang saat ia membawa Lily keluar. Ia juga tak peduli saat Danu berusaha membujuknya agar membiarkan Danu yang mengurus Lily. Tangannya yang merenggut tabung pemadam jelas mengucurkan darah, tapi ia tak merasakan sakit apapun. Sakitnya justru di hatinya. Ia tak peduli apapun saat melihat Lily terbaring diam tak bergerak seperti itu. Belum pernah Ajie merasa setakut ini sejak kematian alm. Mama. 

Siapapun yang melakukan semua ini pada Lily, ia akan membayar sangat mahal.

*****





Boss Galak  & Sekretaris Badung [TAMAT]Baca cerita ini secara GRATIS!