30

356 29 0

-Rafki PoV-

"Lo ngapain ke sini? Kelas udah mau mulai, nanti telat." Aku tak perlu berbalik untuk mencari tau seseorang yang sedang ngos-ngosan di belakangku. Aroma vanilla yang sedang menguar di udara cukup membuatku tau.

"Rafki ngapain di sini? Kelas udah mau mulai, nanti telat," Aku mengucapkan kalimat yang sama dengan ketus, namun Al mengembalikannya dengan irama lembut yang biasa kudengar. Kukira dia sudah banyak berubah setelah pacaran dengan Mika. Beberapa kali aku mendengar protesannya yang ketus namun terdengar manja. Senyum tak bisa kutahan, Al ku masih tetap sama.

Bodoh sekali. Al bukan milikku, tak akan pernah menjadi milikku. Seperti punguk merindukan rembulan. Aku tak bisa kesal dan melampiaskannya pada orang lain hanya karena aku tak pantas.

Aku melambaikan tangan, memintanya duduk di sebelahku. Al langsung senyum sumringah dan dengan langkah cepat menghampiriku. Dia tak duduk di kiri atau kananku. Dia duduk bersila di depanku. Berpangku dagu dan menatapku masih dengan senyum di bibir.

Ragu tanganku terulur untuk mengelus puncak kepalanya. Rasanya sudah lama sekali sejak aku berdekatan seperti ini dengan Al. Tak seharusnya aku melakukan ini, tapi aku merindukannya. Hanya ada kami berdua di sini. Kali ini, biarkan aku mencuri kesempatan.

Senyum Al lenyap. Dia terkejut untuk beberapa saat sebelum berurai air mata. Aku gelagapan, aku tak ahli dalam mendiamkan tangis, walau aku cukup yakin dengan kemampuanku meredakan amarah orang lain. Kuputuskan membawa Al dalam pelukan. Membiarkannya menangis sejadinya di bahuku. Beberapa pukulan penuh kesal mendarat di punggungku. Kubalas dengan mengelus punggung Al yang bergetar.

Saat ini saja, izinkan aku menghabiskan waktu bersama Al. Aku merindukannya. Sangat merindukannya. Setiap hari dia berada di lingkungan yang sama denganku, tapi rasanya jauh sekali. Aku terbiasa dengan Al berada dalam pelukanku, tak terbiasa melihatnya berjarak dariku dan berada dalam pelukan pria lain. Tepat di depan mataku.

"Stop crying, beib. It's hurt me."

"Gimana nggak nangis? Rafki jahatin Al!"

"Maafin gue, Al." Al menggeleng pelan di dadaku. Kepalanya bergerak lucu jika dilihat dari atas. Membuatku tak sanggup menahan hasrat untuk melayangkan kecupan di sana.

"Al yang harus minta maaf. Pasti Al udah jahatin Rafki tanpa Al sadar, makanya Rafki memilih untuk menjauh."

"Enggak, Beib. Lo nggak salah apa-apa."

"Jadi kenapa? Sekarang jelasin ke Al, Rafki kenapa?"

Kuusap jejak air mata di pipi mulusnya. Kalimatnya terpotong-potong karena isak tangis. "Gue bakal nyakitin lo."

"Sakitin gimana? Bukannya Al yang nyakitin Rafki terus-menerus?"

"Enggak, lo nggak pernah buat salah ke gue."

"Nggak mungkin! Al manusia, bukan malaikat. Pasti banyak kesalahan yang udah Al lakuin dan nyakitin Rafki." Aku terdiam mendengar amarah dalam suaranya. Lagi-lagi tanpa sadar aku tersenyum. Al jauh berubah. Jika Al yang dulu, mungkin dia akan menangis dan terus-terusan meminta maaf tanpa paham dengan situasi. Dia hanya fokus agar mendapatkan maaf dari orang lain. No matter what the reason is. "Al bodoh. Selalu nyusahin Rafki. Maksa Rafki macem-macem. Al nggak peka. Al pura-pura nggak tau perasaan Rafki. Jadi dibagian mana Al nggak salah?"

"Jadi, lo tau kalo gue suka sama lo? Cinta sama lo."

"Tau," lirihnya pelan lalu menunduk. Aku kembali mengelus kepalanya sayang. Selama ini bukan hanya aku yang menderita karena membawa perasaanku sendiri. Al pasti juga merasakan beban yang sama karena dilema yang dialaminya. "Al nggak tau perasaan Al gimana ke Rafki. Al sayang sama Rafki. Nyaman di dekat Rafki. Bahkan, Al cemburu kalau Rafki lebih peduli pada yang lain dibanding Al. Tapi, perasaan Al nggak sama dengan Rafki. Al ingin membalas perasaan Rafki. Al yakin akan bahagia kalau merasakan apa yang Rafki rasakan, tapi Al bodoh. Perasaan itu nggak datang ke Al."

Alvord-I'm Fine [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang