DUA

210 24 2

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Kehadiranku di hadapanmu mengalihkan perhatianmu. Cepat, kamu jatuhkan pandanganmu kepadaku, menatap lurus-lurus.

"By the way, gue..." Kamu menghentikan kata-katamu sejenak. "Maaf ya, gue sebetulnya... nggak minum kopi," terangmu, seolah tahu tujuanku datang ke sini untuk apa. Seringai senyummu dibuat lebar-lebar. Bukan itu sebetulnya, aku hanya ingin tahu, betulkah apa yang abangku katakan kalau kamu butuh teman mengobrol. Namun sebelum aku bertanya, kamu sudah mengajukannya lebih dulu.

"Nggak enak kan kalo kopinya nggak diminum juga. Lo mau nggak duduk di sini, biar gue nggak kelihatan banget nganggurin kopinya?"

Ah, tawaran bodoh macam apa itu? Aku setengah tertawa dan mengiyakan juga permintaanmu itu. Terduduk di hadapanmu sembari meletakkan buku catatanku di atas meja. Kamu melepas genggamanmu pada badan cangkir itu kemudian.

"Lumayan, jadi hangat," ujarmu sambil menunjukkan kedua telapak tanganmu yang tak lagi pucat ke arahku. "Sorry ya, bukannya nolak kebaikan loh." Kamu mengucapkan permintaan maaf kembali.

"Mau teh?" tawarku.

Kamu menggeleng cepat. "Jangan, jangan, jangan!" Seolah satu kata jangan saja tak cukup untuk diucapkan demi memberitahuku.

"Gue emang hampir nggak pernah minum kopi sih. Terakhir minum, melek sampai pagi."

"Kopinya terlalu strong mungkin?"

"Mungkin."

"Cappuccino ini nggak terlalu strong kok. Udah dicampur susu juga."

Kamu manggut-manggut. "Tapi nggak bakal melek sampai pagi lagi, kan?"

"Tergantung."

"Nah, emang gue yang nggak bisa minum kopi kali ya?"

Aku mengedikkan bahu. "Selama ini sih, semua cowok yang gue kenal minum kopi semua. Termasuk tetangga gue yang masih SD," terangku jujur.

"Hah? Gue culun banget dong berarti?" tanyamu memastikan. Matamu sampai melotot saat aku mengatakan hal tersebut barusan. Segera aku menyadari, betapa ekspresifnya dirimu setiap kali menyatakan sesuatu.

"Ngaruh ya?" Aku mengonfirmasi.

"Nggak keren aja lagi, kalah dari anak SD."

"Itu kan cuma satu perkara. Cuma kopi doang."

"Iya juga sih. Anak SD kan nggak bisa jumping motor kayak gue ya?"

"Nggak imbang juga untuk bandingin lo dengan anak SD."

"Iya. Gue pasti lebih banyak menangnya. Kecuali satu hal itu."

"Soal kalah ngopi dari anak SD itu?"

Kamu mengangguk. "Tapi... tetap aja ah nggak keren. Masa kalah dari anak SD."

"Terserah," sahutku.

Hujan dan SenjaRead this story for FREE!