00-Prolog

19 3 0
                                        

Bunyi alat di samping tempat tidur,yang terus berbunyi menandakan bahwa masih ada kehidupan disini.

Ruangan serba putih,menjadi hal yang pertama kali ku lihat.tidak ada satu orang pun di sini.hanya ada aku dan bunyi alat yang aku tidak tau namanya yang menemaniku 5 menit yang lalu saat mata ini terbuka.

Rasanya aku sudah tidur cukup lama  pasalnya semua badan ku sulit untuk digerakan.dan banyak  sekali selang di badan ku yang tambah menyulitkan ku untuk bergerak.

Mataku hanya menatap kosong kearah atas,aku mau memikirkan sesuatu tapi entah apa yang harus aku pikirkan.

Tapi tunggu dulu.....

Sebuah memori tiba-tiba memenuhi kepalaku.

Flasback on

"Juna.....juna....,jangan lari kenceng-kenceng...aku gak bisa ngikutin kamu tau!!!". Teriak anak perempuan yang sedang mengejar anak laki-laki yang ada di depanya.

"Sinii kejar aku kalau bisa...".anak laki-laki itu menjulurkan lidah nya  dan mengejek anak perempuan yang ada di belakangnya.

Bukk...

"Huaaaaaa......juna jahat....".tangis anak perempuan itu sambil memegang lutunya yang berdarah.

Anak laki-laki yang mendengar anak perempuan itu menangis pun spontan melihat kebelakang dan betapa terkejutnya dia melihat anak perempuan itu sudah duduk ditanah sambil memegang lututnya yang terluka.anak laki-laki itu pun lantas berlari ke tempat anak perempuan itu.

"Cup...cup...cup...udah jangan nangis lagi ya...juna minta maaf,kamu juga ngapain ngejer juna,kaki kamu kan pendek mana bisa lari cepet-cepet kayak juna". Juna menenangkan anak perempuan itu.

"Huaaaaa...juna jahat bilangin aku kakinya pendek...aku mau ngadu ke mama!!".rengek anak itu tidak terima dirinya di bilang kakinya pendek.

"Ehhhh...jangan dong nanti juna kenak marah mama...". Pujuk juna.

"Liat ni gara-gara kamu kaki aku luka..!!". Tunjuk anak perempuan itu kearah lututnya.

"Ya udah kita pulang aja.". Juna berdiri dan jalan beberapa langkah meninggalkan anak perempuan itu.

Merasa dirinya jalan sendiri,juna kembali melihat ke arah belakang.anak perempuan itu masih terduduk di tempat ia terjatuh tadi.

Juna kembali menghampiri anak itu.

"Kamu kok gak jalan sih??,ayuk pulang udah mau sore". Ajak juna.

Anak perempuan itu kembali menangis.

" loh kok nangis sih?".juna kebingungan.

"Hiks...hiks..hiks....lutut aku sakit,jadi susah mau jalan...tadi aku coba berdiri aja jatuh lagi apa lagi jalan....". Jawab anak perempuan itu.

Juna lantas jongkok membelakangi anak itu.

"Kamu naik ke punggung juna,biar juna gendong." juna memberikan instruksi.

Anak perempuan itu hanya patuh dan menaiki punggung juna.

"Kamu itu harusnya hati-hati kalo ngapa-ngapain,liat ni sekarang lutut kamu luka besok-besok apa lagi yang luka,baru lari-larian aja jatoh,apa lagi yang lain". Nasehat juna sambil menggendong anak perempuan itu menuju rumahnya.

"Tapi kan aku jatuh gara-gara juna,coba juna larinya pelan-pelan kan jane gak jatuh".jawab jane dengan cara ngomong layaknya anak kecil yang sedang di nasehati orang tuanya.

RecaptureWhere stories live. Discover now