SATU

298 30 0

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Aku masih mengingat hari itu. Aku akan selalu mengingat hari itu.

Seringkali, dalam beberapa kesempatan, ketika aku memejamkan mata dan mengingat hari dimana kamu berlari di antara hujan dan langit yang berangsur senja. Kamu dan seragam putih abu-abumu yang kuyup.

Aku tak tahu darimana kamu, atau akan kemana kah kamu? Tugasku hari itu adalah membantu pekerjaan abangku di kedai kopi miliknya yang bernama Moscato. Nama yang menurut sebagian orang lebih cocok dijadikan kedai wine ketimbang coffee shop.

Suasana kedai yang sepi dan polahmu yang tak wajar itu telah menarik perhatianku. Dari balik meja barista, aku menemukanmu setengah menggigil di luar sana. Aku berdiri dan meninggikan pandanganku, mencari tahu.

"Siapa El?" tanya abangku. Mengira aku mengenalmu.

Aku mengedikkan bahu, bahkan baru pertama kali melihat wajahmu. Kuselipkan anak rambut ke balik telinga, lalu kembali duduk. Namun setelah sekian jenak, abangku khawatir melihatmu berbaju basah di tengah cuaca yang dingin. Hingga ia menyuruhku untuk memintamu masuk ke dalam.

"Panggil gih, suruh masuk. Kasihan," begitu perintahnya. Dan aku hanya menurut, membuka pintu Moscato dan memanggilmu.

"Hei," panggilku. Kamu tak sadar kalau aku telah memanggilmu. Pandanganmu tak langsung tertuju padaku. Hingga aku harus menaikkan volume suaraku agar kamu mendengarnya.

"Hei..."

Sekejap kemudian, kamu menoleh. Dengan isyarat mata, kamu memastikan bahwa aku memang bicara padamu.

"Masuk ke dalam aja. Di luar dingin," ajakku.

Ketika kamu masuk, kusadari pendingin ruangan sudah dimatikan. Pengunjung Moscato tak mengeluh karena sepertinya merasakan dingin yang sama seperti di luar kedai.

Aku menunjuk ke meja nomor delapan yang biasa digunakan abangku untuk bertemu teman atau rekannya. Letaknya sedikit ke sudut, dan tak akan masalah sekalipun kamu duduk di sana sambil menunggu hujan reda.

Saat aku hendak kembali ke meja barista, abangku mengangsurkan kaus seragam Moscato dan menyuruhku memberikannya kepadamu.

"Suruh dia ganti baju, udah basah kuyup begitu tuh," kata abangku, selalu peduli pada kesulitan orang lain. Membuatku menghampirimu kembali dan memberikan kaus tersebut.

"Ini ada kaus buat ganti." Aku menawarkan. Cepat kamu menyorongkan kedua telapak tanganmu dengan sopan untuk menolak.

"Nggak apa-apa. Gue bentar lagi mau cabut kok."

"Kayaknya hujannya masih lama deh. Langitnya gelap banget. Baju lo juga udah basah banget begitu. Bisa masuk angin nanti." Aku mencoba menawarimu kembali.

"Nggak apa-apa beneran. Gue nggak enak nanti ngerepotin."

"Abang gue yang ngasih. Lagian kalo lo nolak, dia bakal ke sini sendiri buat ngasih baju ini ke lo." Aku meyakinkan. Separuh ucapanku hanya untuk membuatmu mau menerima kaus yang kuberikan, separuhnya lagi karena abangku memang kurang suka jika kebaikan hatinya ditolak.

Hujan dan SenjaRead this story for FREE!