angka (empat)

323 53 0

Empat kali empat sama dengan enam belas, sempat tidak sempat harus dibalas.

Tin menahan senyum yang terbentuk di bibirnya. Sungguh sangat kekanakan, pikirnya sambil membaca ulang surat dari Can. Tin menyerah memahami jalan pemikiran Can. Tanpa alasan jelas ia mulai memberikan surat ke Tin setiap kali mereka bertemu. Surat yang isinya lebih seperti diary daripada surat pada umumnya.

Can bercerita soal pertandingan bola yang ia tonton, dosen yang menyebalkan dan makanan enak yang ia makan. Tin tidak tahu harus membalas apa, tidak ada yang menarik di hidupnya. Satu-satunya yang mampu membuat dia punya rasa hanya Can saja dan Tin tidak yakin Can mau membaca Tin mengungkapkan bagaimana senyum Can begitu manis, bagaimana imutnya Can saat ia tanpa sadar memajukan bibirnya saat merajuk dan bagaimana hatinya berdesir setiap mereka bersentuhan.

Ia melipat surat kesekian kalinya dari Can lalu membuka kotak khusus yang ia beli untuk menyimpan surat permintaan maaf Can, dulu sekali.

Tin tidak bisa membalas surat Can, terlalu takut Can malah muak kalau ia mesti membaca kalimat-kalimat betapa Tin mendambanya. Tapi, nanti, apabila Tin bertemu Can lagi, akan ia sampaikan langsung semua hal yang ia tak bisa ungkapkan lewat rangkaian kata di surat.

kataWhere stories live. Discover now