6. Pelampiasan

381 125 10

Yuki membawa tumpukan buku di kedua tangannya. Sesaat setelah bel tanda pelajaran berakhir, yang juga menjadi tanda berakhirnya sekolah hari ini. Seorang guru biologi memintanya untuk mengembalikan buku ke perpustakaan, seorang diri, karena Yuki tidak mungkin membiarkan Keyna membantunya dengan kaki seperti itu. Lagipula Keyna harus cepat-cepat ke tempat pertandingan.

"Permisi, Pak Thamrin. Ini buku yang dipinjam Bu Riris." ucap Yuki meletakkan tumpukan buku biologi di atas meja resepsionis. Yuki menggerak-gerakkan tangannya, pegal.

"Oh ya, makasih Ki." Pak Thamrin, laki-laki paruh baya dengan rambut yang mulai memutih dan kaca mata di panggal hidung.

Setelah mengucapkan permisi, Yuki melangkahkan kakinya di sepanjang lorong koridor yang mulai sepi. Ada beberapa orang yang masih menetap di sekolah, mereka yang mendapat pelajaran tambahan, ada juga yang ikut ekstra kurikuler, atau hanya sekedar nongkrong di kantin dan lapangan basket.

Jika pagi tadi awan mendung masih menggantung di langit, sekarang giliran matahari yang bersinar terang. Meski begitu genangan air hujan sisa pagi tadi masih terdapat di beberapa tempat, Yuki harus berjinjit sambil mengangkat rok abu-abunya agar tidak terkena air genangan itu.

Melewati tempat parkir, yang dekat dengan gerbang utama, Yuki melihat Al berdiri di pos satpam yang sepi. Pak Asep pasti sedang patroli. Al bersama seorang gadis mungil dan Yuki tahu siapa gadis itu. Mereka terlihat sedang bicara, atau lebih tepatnya gadis itu yang bicara dan Al mengabaikannya. Berjalan semakin jauh, Yuki semakin dekat dengan mereka. Samar-samar kata-kata gadis itu pun terdengar. Yuki mengernyit saat namanya ikut disebut.

"Serius deh Al, jangan deket-deket sama Yuki. Dia itu..."

"Gue apa?"

Suara itu membuat Al dan Kesha menoleh. Al tersenyum saat melihat Yuki, berbanding terbalik dengan Kesha. Yuki dengan wajah tanpa ekspresi berdiri di depan Kesha, gadis yang mengangkat dagunya sombong di depan Yuki.

"Lo itu cewek nggak bener, lesbian."

Al melotot melihat keberanian Kesha. Gadis ini tak waras, pikirnya. Al menatap Yuki cemas, dia menanti reaksi kakak kelasnya itu dengan waspada. Bagaimana pun juga Al takkan membiarkan Yuki terlibat masalah karena ulah Kesha.

Tapi yang terjadi diluar dugaan. Yuki hanya diam, tak bereaksi apapun. Hanya Al melihat matanya yang meredup, seperti malam yang datang bersama badai. Dingin, kelam.

"Kalo aja gue nggak inget Tante Intan itu nyokap lo..." Yuki menjeda kalimatnya. Kakinya maju selangkah, mendekati Kesha yang mulai gentar. "Lo udah gue abisin sejak lama." suara Yuki mendesis di antara giginya yang mengatup keras. Mati-matian Yuki menjaga emosinya agar tetap stabil.

Meski tubuhnya mulai gemetar karena ditatap sedemikian dingin oleh Yuki, Kesha tetap mengangkat dagunya. Karena dia tahu, Yuki takkan berani macam-macam dengannya. Hal itu yang membuat Kesha berujar lebih berani. "Kenapa, lo nggak suka gue katain gitu. Toh itu emang kenyataan kan, lo itu lesbian, suka sesama jenis."

"Cukup!!"

Kesha tersentak saat tarikan keras terasa di tangan kirinya, dan bentakan nyaring tepat menghentak telinganya. Al, dengan wajah merah dan nafas menderu, emosi yang terlukis jelas di wajah tampannya.

"Omongan lo udah keterlaluan, lo pikir lo siapa bisa ngatain orang kayak gitu!"

Setelah kata-katanya, Al menarik Yuki pergi dari tempat itu. Terserah mau kemana, yang penting sekarang mereka menjauh dulu dari Kesha.

Yuki hanya membiarkan Al menarik tangannya entah kemana. Sejak awal Yuki tahu Al itu cowok aneh. Gelang cantik, rayuan jayus, menembus hujan, sekarang menariknya pergi dari Kesha. Jika Yuki merasa ia istimewa, semua itu karena gara-gara Al. Bocah itu bisa jadi harus bertanggung jawab.

Terima Kasih (On Going)Baca cerita ini secara GRATIS!