28

310 28 0

-Mika PoV-

Saat aku membuka pintu kamar Al, Tante Liz, duduk bersandarkan pagar pembatas di depan kamar Al. Wajah wanita itu sembab. Jejak tangis masih tersisa di wajahnya. Dia pasti mendengar sayup-sayup percakapanku dan Al. Aku tak tau sebanyak apa yang sampai ke telinganya, tapi satu dua kalimat pasti terdengar mengingat beberapa kali aku harus berbicara keras.

"Terimakasih," lirih wanita berwajah cantik itu dengan suara parau. Aku membalasnya dengan senyuman. Aku tak pantas mendapat kata itu. "Kamu benar, nak. Al kuat. Dia tak selemah yang kami bayangkan." Aku membantu mominya Al bangkit.

"Al hanya butuh waktu, Tante. Dia bakal baik-baik saja selama dia sadar dia tak berada di masa lalu, dia bakal bangkit dengan kekuatannya sendiri. Tante nggak perlu khawatir." Aku mengangguk saat Tante Liz mengangguk. "Tante, Mika harus permisi sekarang. Mika masih ingin disini, tapi..."

"Iya, nggak pa-pa, Mika. Tante ngerti. Al cerita banyak tentang kamu. Dia muji kamu terus di depan tante. Katanya kamu hebat, masih muda tapi udah punya usaha sendiri."

"Al melebih-lebihkan, Tante. Usahanya punya ayah, bukan punya Mika."

"Tetap aja tante setuju sama Al. " Aku tertawa pelan. Aku tau pujian Tante Liz tulus tanpa maksud apapun. Bukan karena aku temen anaknya. Pujian seperti itu akan kuambil sebagai pujian.

Semakin sering berbincang dengan keluarga Al, sedikit banyak aku tau sifat Al turun dari siapa aja. Nggak cuma wajah, sifat Al mirip menurun dari mominya. Hanya saja mominya versi yang mandiri dan dewasa. Aku nggak masalah Al manja dan kekanak-kanakan selama dia bisa berdiri di atas kakinya sendiri. Aku juga nggak bisa nyalahin orang-orang yang manjain dia. Aku ngerti kenapa mereka memanjakan Al, karena aku juga masuk jerat Al dengan mudah. Aku berniat keras pada Al sejak awal, tapi pada akhirnya, hal itu sulit untuk dilakukan.

"Permisi, Tan," pamitku sebelum menuruni tangga dengan sedikit berlari. Kalau tidak, aku bisa telat rapat lagi, padahal aku yang menentukan jam. Harusnya aku tak mampir ke tempat Al dulu.

Ck. Aku pengen nyesal, but i'm not.

***

Aku menghempaskan diri ke sofa begitu sampai apartemen yang kutinggali selama setahun terakhir. Hanya apartemen kecil dengan satu kamar tidur. Aku dan ayah pindah ke sini setelah ayah sakit berat. Alibinya karena disini fasilitas kesehatan lebih baik. Dokter yang merawat ayah juga tinggal disini. Aku tau itu hanya akal-akalan ayah saja. Kota tempat asal kami tak kalah jika bicara soal fasilitas dan sejak awal ayah memang sengaja menjadi pasien dokter disini, katanya rekomendasi dari teman.

Alasan sebenarnya, meski tak terucap dari bibir ayah aku tau pasti berkaitan dengan Al. Mungkin, ayah ingin di akhir hidupnya berada lebih dekat dengan Al. Jika, aku tau mengenai Al sebelum malam itu, sebelum ayah bercerita mengenai Al, tentu aku akan menentang keras. Tak akan kubiarkan ayah terus-menerus dengan perasaan anehnya pada Al sampai akhir. Dia hanya butuh sembuh tak perlu memikirkan orang lain.

Sejak awal aku tak berencana akan tinggal lama disini. Aku akan kembali ke tempat tinggalku dan ayah yang sebenarnya setelah urusan dengan Al selesai. Memori tentang ayah ada di sana. Di sini hanya ada memori tentang ayah yang sakit. Memori yang tak ingin kukenang lebih lama lagi.

Sudahlah.

Mataku tak sengaja mengarah pada foto diriku dan ayah. Kami berdua tersenyum lebar dengan jagung bakar di genggaman. Itu diambil saat pesta barbeque dengan teman-teman ayah. Syaraf-syaraf di wajahku membentuk senyum. Memori bersama ayah berdatangan ke kepalaku satu-satu.

Aku ingin kembali ke rumah, tapi...bagaimana dengan Al? Dia belum sembuh benar. Aku belum memberitahunya fakta mengenai aku anak ayah yang dititipi amanah untuk membuatnya bahagia. Bagaimana reaksinya saat kubeberkan mengenai hal itu? Bagiku membuatnya bahagia berarti membebaskannya dari belenggu kejadian itu bukan hidup bersamanya, bukan menjadi kekasihnya. Itu bukan posisi untukku, ada orang lain yang lebih pantas. Aku belum yakin, yang pasti seseorang yang mencintai Al dengan sangat.

Dan...Al juga mencintai orang tersebut.

***

Aku mengelus punggung Al yang langsung memelukku begitu keluar dari dalam rumah."Gimana tidurnya?"

"Al mimpi Mika."

"Bagus nggak mimpinya?"

"Bagus."

"Ya mau gimana lagi, kalo mimpi ada guenya pasti baguslah."

"Mika kepedean!" serunya, memukul dadaku sekali setelah melepas pelukannya.

"Jangan ngambek dulu, nanti telat."

"Siapa yang ngambek coba," sungutnya pelan, mengikutiku dari belakang dengan kaki menghentak. "Eh, Mika udah sarapan?" tanyanya setelah motorku melaju.

"Belum."

"Ih, makan dulu. Nanti Mika sakit."

"Iya, nanti di sekolah."

"Ih, nggak. Minggirin motornya sekarang."

"Ngapain? Ribet, Al."

"Al ada bawa kue. Makan itu dulu buat ganjel perut."

"Ribet, Al. Nanti telat."

"Iya, nggak pa-pa, pokoknya Mika makan dulu." Aku berdecak tapi akhirnya menuruti kemauan Al yang nggak pernah nggak merepotkan.

Ada-ada mulu tingkahnya. Kalau tau gini, bagus aku bohongin aja. Dia mana tau. Diakan bodoh masalah gituan. Selama meyakinkan, dia pasti nggak curiga.

Al cepat-cepat turun dari motor. Berjongkok dan mengubek-ubek tas yang diletakkan di pangkuan. Ini anak. Badan sekecil itu tapi bawaannya banyak terus. Aku udah pernah suruh tinggalin aja semua, ribet. Kalau ada perlu tinggal beli aja di swalayan dekat sekolah. Dianya tetap ngeyel dan besoknya, besoknya, besoknya, tetap aja bawa.

Aku pernah curiin barang dia satu-satu, dia nggak marah, aku kira dia nggak tau. Ternyata tau, dia cuma nunggu aku nyurinya banyakan, jadi dia mintanya sekaligus. Luar biasa. Luar biasa nyusahin.

"Nih, makan rotinya. Ini air putihnya. Ada susu rasa stoberi juga. Mika 'kan suka yang manis-manis."

"Al gue tu suka semuanya, bukan suka makanan manis," protesku sambil mengambil kue yang dibungkus plastik. Aku sudah mengatakannya berkali-kali, tapi dia mempertahankan asumsinya kalau aku penyuka makanan manis. Aku memang suka, tapi tidak sampai ke tahap yang Al bayangkan. Kurasa.

"Nggak, Al tau Mika suka. Jangan sok malu-malu gitu."

"Sok tau lu." Dia memutar bola mata besarnya. Ini anak bisa-bisanya punya mata besar, bulu matanya rapi dan panjang-lentik, alisnya rapi, ngambil jatah anak cewek.

"Besok Al bawain siomay pare."

"Nggak, nggak usah."

"Katanya suka semua. Gimana sih?"

"Ya, enggak pare juga."

"Yaudah, berarti Mika nggak suka semuanya. Yang pasti Mika suka yang manis-manis. Calon-calon penderita diabetes."

"Kalo gue sampe diabetes, gue tuntut lo. Tiap hari bawaannya aneh terus."

"Yaudah, besok Al nggak bawa lagi buat Mika."

"Gue nggak ngelarang, tapi..."

"Ih! Mika plin-plan! Yaudah Al bawa, tapi jangan nuntut-nuntut."

"Iya-iya, bawel. Siniin susunya. Lo naek terus. Habis ini langsung cau."

"Iya Mikaaaa!" serunya dengan muka sebal tapi sok senyum. Dia langsung mukul punggung aku begitu naik. Ini anak nyebelin. Serius. Aku ngelus punggung dia, balasannya aku udah dipukul dua kali. Good

***
11 Januari 2019

Alvord-I'm Fine [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang