Boarding 2 : Pilot vs Tukang Es Krim

1.3K 177 118
                                                  

Shalun tersenyum.

Dengan bangga dia melihat hasil karya yang dibuat barusan, menu baru untuk bisnis es krim miliknya. Sejak lama, sejak dia kelas 1 SMA, tiba-tiba Shalun keranjingan dengan yang namanya es krim.

Setiap hari membeli es krim, memakannya dengan khidmat. Uang saku yang ia punya bisa ludes hanya untuk menikmati es kesukaannya.

"Ini enaknya aku kasih nama apa, ya? Spageti Loonice?" Shalun berpikir keras. Es krim buatannya barusan memang di-platting menyerupai spageti, mengadaptasi es krim lucu asal Jerman.

"Ih, biasa banget namanya. Nggak kepake, nggak kepake." Dibuat sendiri, tidak puas sendiri.

Begitulah Shalun. Otaknya seolah tak pernah diistirahatkan. Selalu ada saja yang dikerjakan.

Banyak yang heran dengan gadis itu. Menurut prediksi ala netizen, masa depan Shalun itu sudah cerah. Terang benderang bak matahari musim kemarau, membuat silau.

Bagaimana tidak, Shalun punya pacar seorang Maha. Pilot, gajinya besar, sudah mapan, sudah punya rumah dan mobil sendiri. Ibaratnya, Shalun mau minta apa juga tinggal tunjuk. Apalagi Maha tipe-tipe kekasih yang penurut, penganut paham bahwa kebahagiaan pasangan adalah segalanya. Sudah pasti bahagia lah jadi Shalun.

Tapi apa, Shalun tetap menjadi Shalun yang apa adanya, yang memakai mobil Maha hanya untuk mengantar jemput kekasihnya. Sendirinya ke mana-mana naik motor, kadang naik commuter line, Transjakarta, atau ojek online.

Orang-orang yang berada di sekitar Shalun suka geleng-geleng kepala. Menjuluki Shalun sebagai gadis bodoh. Di luar sana banyak gadis yang mimpi punya pacar kaya agar kebutuhannya terpenuhi secara instan. Shalun malah melewatkannya.

Gadis itu memang tidak pernah bekerja sejak lulus dari Universitas Indonesia sekitar tiga tahun yang lalu.

Shalun punya prinsipnya sendiri. Dia ingin menjadi seorang wirausahawan. Tidak ingin bekerja kepada atasan, tidak ingin terikat oleh kontrak dengan perusahaan mana pun. Aneh memang, terkesan bangga diri. Tapi Shalun memiliki krisis kepercayaan dalam hal itu.

Shalun memulai karirnya sendiri meskipun itu harus diawali dengan cara berjualan es sejak dia masih aktif kuliah sebagai mahasiswa jurusan Ilmu Politik di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Begitu lulus dan jadi sarjana, Shalun semakin menggilai es krim.

Jika semasa kuliah dia hanya mampu menjual es krim dalam bentuk cup-cup kecil dengan banyak rasa, lama-lama Shalun menambah menu.

Dia membuat banyak jenis es krim dan salad buah lalu menjualnya lewat sosial media.

Shalun memberi nama Loonice untuk produknya. Terinspirasi dari Maha yang suka merayu setiap kali Shalun ngambek. "Lun, es, Lun. Es nih, Lun."

Sekarang, Shalun punya kedai es krim sederhana di daerah Margonda, dekat dengan kampusnya dulu. Kedainya tidak terlalu besar, hanya menempati satu lapak. Cukup untuk sederet counter display dan kitchen, juga lima meja santap dengan masing-masing disertai dua kursi.

Meski demikian, modalnya cukup besar. Daerah itu daya jualnya cukup tinggi. Dampaknya sewa menyewa bangunan juga jadi mahal. Shalun termasuk sudah berjuang mati-matian untuk sampai ke tahap itu, tanpa bantuan investor, tanpa bantuan Maha.

Segala kebutuhan di hidup Shalun, selalu terselamatkan oleh kemampuannya bernegoisasi dan adaptasi. Bukan oleh harta Maha, atau sentuhan iba orang lain.

Kejadian di masa lampau yang menimpa keluarganya membuat Shalun bertekad untuk mandiri. Berusaha baik kepada semua orang, tapi tidak ingin ketergantungan sama sekali. Apalagi harus berhutang budi.

ALTERNATE AEROLOVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang