25

339 30 0

-Rafki PoV-

Kamu pernah nggak nemu bunga cantiiik banget. Kamu bawa. Kamu jaga biar nggak rusak. Kamu rawat selembut mungkin. Kamu kasih pupuk. Biar dia makin subur tapi pada akhirnya bunganya layu dan kehilangan keindahannya. Kamu lepas itu bunga karena nggak mau dia makin rusak, kamu mau dia balik kayak pertama kali kamu liat. Terus, orang lain malah ambil bunga itu, nggak tau diapain, tapi bunganya mekar lagi. Jadi makin cantik dari terakhir kamu liat.

Gimana perasaanmu? Aku tau perumpaan ini bodoh banget. Yang pasti aku kecewa sama diri sendiri. Aku pengen bahagia karena bunganya sudah di tangan yang tepat, tapi nggak bisa. Aku benci setengah mampus sama yang mungut itu bunga. Aku pengen rebut balik bunganya, tapi takut bunganya malah mati.

Itu yang aku rasain ngeliat Al sekarang dekat sama Mika. Bagaimana caranya dia bisa sedekat itu dengan Al dalam waktu tak genap sebulan?

Aku ngerasa ada orang yang ambil posisiku, tapi aku nggak bisa berbuat apa-apa, karena kalau aku mendekat senyum Al bakal hancur lagi. Dia bakal sakit lagi. Aku nggak sanggup liat Al kayak waktu itu.

Aku ngerasa Al lebih hidup selama dekat dengan Mika. Aku harus ngakuin itu. Al bukan lagi malaikat yang nebarin senyum ke semua orang demi berusaha buat nyenangin hati orang lain, dia senyum demi nyenangin dirinya sendiri. Itu senyum yang sama, tapi beda.

"Mika jahat!" Aku kontan menoleh ke belakang. Ke arah Al. Aku nggak pernah dengar suara Al sekeras itu.

Al lagi merengut. Mungkin karena Mika dari tadi acuhin dia dan sibuk main game. Setelahnya aku nggak dengar mereka ngomong apa. Al pepetin Mika dan ngomong pelan-pelan.

-Alvord PoV-

"Shh! Diam baby bird. Berisik."

"Mika maen game mulu, tadi janjinya siap satu ronde. Kenapa malah mulai lagi?"

"Nggak sengaja ketekan, jadi sekalian aja. Lo diam dulu, biar cepet, siap ini gue temenin."

"Ih, alasan."

"Aku pernah bilang apa, Al? Nurut."

"Al nurut kok sama Mika, tapi Mika suka ingkar janji."

"Sini!" Aku semakin mepet ke Mika. "Eh?" Mika cium bibir aku pelan dan balik lagi ke game nya. Aku langsung angkat kepala. Liat reaksi teman-teman. Mereka sama terkejutnya kayak aku.

Aku biasa dicium, tapi nggak pernah di depan umum. Rafki aja nggak pernah nyium bibir aku kalau teman-teman pada ngeliat. Dia pasti curi-curi kesempatan waktu nggak ada yang liat.

Mataku berpapasan dengan Rafki. Rahangnya mengeras. Aku nggak berani balas tatapannya. Aku milih nunduk aja. Rafki pasti makin benci sama aku. Mika bilang aku nggak bisa nyenangin hati semua orang, aku harus nyenangin diri sendiri sebelum nyenangin orang lain. Aku ngerti maksud Mika, tapi aku nggak mau Rafki benci sama aku. Aku masih sayang sama dia.

"Tau banget gue, tu mulut baru diam kalo udah dicium" Mika mengantongi hpnya. Dia udah selesai main? "Udah jangan cemberut. Tadi katanya temenin ke kantin. Kok malah diam. Ayok diri. Jangan sampai gue berubah pikiran ya, baby bird."

"Iya-iya. Kenapa Mika orangnya nggak sabaran sih? Al mulu yang disuruh sabar. Mikanya kapan?" tanyaku masih merengut. Aku nurut aja ditarik tangannya sama dia. Aku nggak mau noleh ke Rafki waktu ngelewatin kursi dia.

"Gue diciptain buat nggak sabaran, jadi lo tenang aja."

"Alasan apaan! Alasannya jelek." Mika ketawa pelan sebelum mengacak rambutku. Ih, aku suka kalau kepala aku dielus-elus tapi nggak gitu juga caranya. Kasar amat. "Mika kenapa cium Al di kelas. Teman-teman pada ngeliatin. Kalau mereka tau Al sama Mika pacaran gimana?"

"Bodo."

"Kok gitu sih? Nanti mereka tau kalau Al sukanya cowok terus nggak mau temenan sama Al gimana? Anak cowok udah mau deket sama Al lagi, nanti kalau menjauh lagi gimana?"

"Al, lo bebal ya. Kemaren-kemaren katanya ngerti. Kan, gue bener lo tuh bodohnya kelewatan."

"Tapikan..."

"Biarin aja mereka nggak suka atau jauhin. Berarti lo nggak butuh mereka. Mereka juga nggak butuh lo. Selesai. Titik."

"Mika kok mudah amat ngomongnya? Tapikan kenyataannya berat."

"Nanti terbiasa."

"Al nggak mau nggak punya teman kayak Mika."

"Gue nggak butuh, bukan karena nggak ada yang mau temenan. Kalo gue buka pendaftaran, aula sekolah nggak cukup nampung orang-orang. Tapi gue nggak butuh. Makanya nggak gue buka."

"Mika kepedean. Mika 'kan jahat, mana ada yang mau temenan sama Mika."

"Itu lo tau."

"Mika ih nyebelin."

"Iya-iya. Makanya diam. Udah nyampe. Pesenin gue mie ayam."

"Mika jangan mie terus. Kemaren 'kan udah makan bakso."

"Ribet lo. Yaudah pesenin apa aja."

"Minumnya apa?"

"Pesenin aja sesuka hati lo, baby bird!" Aku menghentakkan kakiku sekali dan ninggalin Mika yang udah duduk aja di salah satu kursi kantin. "Bilang sama yang jualan jangan lama, udah mau masuk! Nanti telat, lo merengek lagi. Kuping gue juga yang sakit."

"Abang dengar, kan? Jangan lama! Nanti Al dimarah sama dia," sungutku pada abang yang jualan sate di kantin. Abang tukang satenya ngangguk-ngangguk aja. Nggak tau deh dia beneran mau cepet apa enggak.

Mika bikin malu aja. Kalau dia nggak terus-terusan maen game, nggak mungkin kepepet kayak sekarang. Mika tuh kalau ada apa-apa lampiasinnya ke aku.

Aku juga sih. Apa-apa aku gangguin dia terus. Biarin aja dia kerepotan. Dia sendiri yang bilang aku boleh suka hati mau gimana ke dia, tapi dia juga boleh suka hati ke aku. Katanya biar impas. Aku nggak ngerti sama cara pikir Mika. Dia ngeluh aku ngerepotin dan ratu drama, tapi tetap aja diladenin. Dasar!

Kalau aku jadi suka betulan ke Mika, nggak cuma sekedar penasaran gimana tidur sama dia, gimana dong? Mika 'kan nggak suka sama aku. Aku nggak mau ngerasain sakit hati kayak yang aku rasain ke Kak Rekii. Sampe sekarang, masih aja sakit.

Tapi kata Mika, nanti sakitnya bakal ilang. Katanya, semua sakit yang aku dapat itu cara aku upgrade diri. Nggak paham ah. Mika masochist, aku aminin ajalah. Kalo nggak diiyain nanti Mika marah. Mika pasti cepat tuanya. Kerjanya marah-marah mulu.

Kak Rekii yang suka maki sama pake kata-kata jorok aja nggak sering marah. Kan~masih ingat aja. Aku geleng-geleng kuat biar Kak Rekii keluar dari kepalaku. Aku nggak mau nangis di kantin. Kalau mau nangis nanti aja, di kamar, sendiri.

"Tadi katanya suka-suka aku mesannya apa," ujarku mengingatkan sambil meletakkan gelas plastik berisi jus mangga di depan Mika. "Jangan protes. Siapa suruh nggak mau mikir sendiri mau makan sama minum apa."

"Siapa juga yang mau protes. Emang elo! Gue 'kan udah bilang, gue pemakan segalanya."

"Suka-suka Mika ajalah."

"Yaiyalah. Masa suka-suka lo. Rugi gue nurutin elo."

"Tapi Mika akhirnya nurutin maunya Al kok."

"Habis lo berisik."

"Mika ih."

"Shh! Shh! Diam. Makanannya udah datang. Nanti iler tu mencrot-mencrot lagi ke sate gue."

Aku pura-pura aja nyemburin ludah ke piring Mika. Biar tau rasa. Aku singkir-singkiran tangan Mika yang berusaha lindungin makanan dia. Aku berhenti sebelum Mika marah-marah lagi. Malas dimarah dia, nanti makanannya jadi nggak enak 'kan gawat. Juga, makin lama balik ke kelasnya. Mika suka-suka aja kalo nggak balik kelas, tapi aku enggak. Aku nggak mau bolos-bolosan lagi.

***
7 Januari 2019

Alvord-I'm Fine [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang