24

317 33 0

-Alveera PoV-

Akhirnya aku memutuskan pulang ke rumah. Aku nggak sanggup dengar bacotan Alva tiap hari yang nyuruh aku pulang. Lagian aku rindu sama Al. Udah lama aku nggak ngeliat muka dia. Kangen pengen gangguin, trus dengar rengekan dia.

Orang rumah lagi makan pagi waktu aku sampe. Tumben pada nggak ribut. Biasanya jam makan pagi waktu paling ricuh di rumah ini. Jangan-jangan mereka pada ada firasat aku pulang dan serempak buat diemin aku. Nggak mungkin. Al paling nggak bisa diajak kompromi masalah begituan. Tapi ini malah muka dia yang paling mendung sementara Alva, momi, sama popi cuma ngelirik sambil kode-kodean.

Aku meletakkan jari di bibirku. Menyuruh Alva, momi, sama popi pura-pura nggak sadar sama kehadiranku. Al daritadi ngelamun terus, jadi nggak sadar aku datang. Aku mengejutkannya dari belakang, Al tersentak kecil dan menoleh. Aku nyengir lima jari tapi responnya nggak seperti yang aku harapkan. Bukannya berkicau, Al malah ambil minum dan pergi gitu aja.

Alva angkat bahu waktu kutatap penuh tanya. Aku berdecak kemudian berlari menyusul Al yang udah nggak terlihat batang hidungnya. Aku menepuk pundak Al yang diri di depan pagar sambil ngutak-atik hpnya.

"Yok, gue antar. Gue dah mandi sebelum kesini."

"Nggak usah. Al dijemput."

"Nanti Alva yang bayar ojeknya. Kan, bahagia tu tukang ojeknya kalo dia nggak perlu repot antar lo tapi bayaran mantap." Aku bermaksud bercanda, tapi Al malah terlihat semakin marah. Bahan becandaanku bodoh, Al benci pergi dengan orang nggak dikenal. Sekalipun tukang ojek.

"Nggak. Makasih."

"Al, lo kenapa, hah?"

"Al lagi nggak mau ngomong sama Kak Era."

"Lo marah sama gue?"

"Iya."

"Kenapa?" Al diam, tak menjawab. "Gila ya lo. Gue baru balik udah dicuekin. Kenapa-kenapa? Ceritalah. Jangan kayak gadis perawan dapat PMS pertama kali gini."

"Kak Era pergi aja sebelum Al benar-benar marah."

"Ih ngatur-ngatur. Suka-suka guelah, guekan mau ganggu adik gue, kenapa lo yang sewot." Al mengacuhkanku. "Eh Rekii bajingan itu nggak deketin lo lagi, kan?" Al langsung menoleh dan menatapku tajam. Kalau nama si bangsat itu aja baru balik.

"Kak Era udah puas?"

"Ha? Puas apaan?" Keningku berkerut. Bingung juga tak suka dengan reaksi Al yang baru pertama kali kulihat.

"Udah puas ngancurin hidup Al?!"

"Maksud lo apaan? Matanya selo aja. Bentak-bentak kakaknya, durhaka lo."

"Ini semua gara-gara Kak Era! Kalau Kak Era nggak mukulin Kak Rekii, dia nggak bakal ngejauhin Al kayak gini!"

Aku mencebikkan bibir. "Ya baguslah, kalo akhirnya dia sadar. Cowok cemen kayak dia nggak pantas buat lo."

"Bukan Kak Era yang nentuin siapa yang cocok buat Al. Al cinta sama Kak Rekii!"

Aku memutar bola mataku bosan. Cowok kayak Rekii nggak pantas buat Al. Nggak pantas ditangisin sama siapapun. Apalagi kalau Al sampai marah gara-gara tuh cowok, nggak pantas. "Yaudah tinggal cari aja yang lain. Ribet amat. Cowok kayak dia seribu dapat tiga."

"Kak Era nggak sayang sama Al."

"Kalo gue nggak sayang, gue..."

"Kak Era nggak sayang sama Al!" Aku terdiam. Aku nggak pernah liat Al semarah ini. "Kak Era suka liat Al menderita. Kak Era suka orang yang Al sayang ninggalin Al! Al benci Kak Era! Al nggak mau punya kakak kayak Kak Era! Mulai sekarang jangan urusin hidup Al lagi! Kak Era ngancurin semua kebahagiaan Al! Al nggak butuh Kak Era nambah-nambahin penderitaan Al! Kak Era bukan kakaknya Al!"

Alvord-I'm Fine [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang