Aku hanya murid biasa saja yang kebetulan sibuk dengan urursan keorganisasian yang membuat kita selalu bertemu setiap pulang sekolah di dalam satu kantor sekolah.
Kamu sibuk dengan tugasmu sebagai tatausaha sekolah yang baru, akupun sibuk dengan duniaku sendiri.
Awalnya, aku tak sepercaya diri itu untuk berbincang denganmu, makanya aku memilih diam dan kadang bersenda gurau dengan Guru lainnya yang telah lebih dulu mengenalku. Aku segan dan malu kepadamu, Sayang,
Beberapa waktu berlalu, kamu terlalu sering mengajakku lebih dulu untuk berbincang dan bergurau, seganku mulai memudar sedikit.
Satu semester telah berlalu, keakraban kita mulai terihat, teman-teman mulai membicarakanku. Bagaimana mungkin aku dekat denganmu, padahal kamu adalah orang yang pendiam dan cuek, juga tampan, namun denganku kamu tertawa lepas dan selalu ingin tersenyum jika melihatku bergurau dengan yang lainya, kata mereka.
Akupun bingung menjawab semua pertanyaan teman-teman, menurutku kamu bukan orang yang secuek itu, bukan pula orang yang pendiam yang mereka katakan. Mungkin kebetulan kamu memang sering bersama denganku dalam satu kantor sekolah, makanya kita bisa seakrab itu.
Berjalannya waktu, kamu tidak pernah sedikitpun membuatku minder ataupun sungkan dengan kesempurnaanmu untuk lebih dekat lagi denganmu. Ah, Sayang, perasaan dan pikirku juga belum sampai untuk persoalan cinta dan sayang-sayangan waktu itu.
Aku membacamu secara perlahan,
Terimakasih sudah mau dekat dari awal kamu mengenalku yang seperti ini adanya, dan terimakasih selalu menghargai aku yang sepeti ini. Kamu, baiknya tidak pilih-pilih.
Terimakasih, Sayang, baikmu selalu tanpa syarat.
