SEMESTA 2

71.3K 6.3K 736
                                    

Bintang masih menatap punggung Angkasa yang belum sepenuhnya tertelan oleh keramaian siswa. Tak ada modus atau basa-basi yang dilakukan cowok itu, hanya mengembalikan buku dan berkenalan saja. Namun pada bagian akhir Bintang tak tau harus menyebutnya apa.

Kepala Bintang menoleh ke arah belakang. Rencana ingin melarikan diri dari Nebula malah gagal karena kedatangan Angkasa yang tiba-tiba. Dan lihat saja tatapan tajam perempuan itu, seolah mengintimidasi dan siap untuk memutilasi hingga membuat Bintang meremang, kembali bergidik ngeri.

Dengan memalingkan wajah, Bintang berjalan menuju ke bangkunya. Tetapi belum sepenuhnya bokong itu mendarat sempurna, ia sudah diserbu pertanyaan oleh Nebula. Apalagi kalau bukan insiden tepat di depan kelas barusan. Dan untung saja Nebula melupakan kejadian ejekannya tadi.

Kali ini dirimu terselamatkan Bintang.

"Itu tadi kak Angkasa, kan?" suara Nebula terdengar begitu antusias hingga membuat Bintang menautkan alisnya. Bukan karena pertanyaan yang Nebula lontarkan melainkan panggilan yang disebut sahabatnya itu.

"Kak?"

Nebula mendesah. Ia lupa jika sahabatnya ini hanya mengenal dirinya, teman kelas, guru di sekolah, satpam dan yang paling penting penjaga perpustakaan. Cogan-cogan di SMA Tunas Bangsa tidak termasuk daftar Bintang.

"Sekali-kali buka mata lo, jangan liat buku sama teleskop mulu. Cogan di depan mata malah dianggurin, modusin dikit kek, kayak kedip-kedipin mata, minta no hp atau diajak makan sebagai tanda terimakasih," geram Nebula melihat sahabatnya ini datar-datar saja. Sama seperti air yang terus mengikuti arus, seperti tak punya tujuan.

"Gue nggak kayak lo. Dikit-dikit modus, dikit-dikit mepet." Balas Bintang dengan menunjukkan senyum sinisnya. "Situ orang apa angkutan umum, Neng?"

Nebula mendesis pelan, sedikit kesal. Dengan gerakan santai ia mengibaskan rambutnya seraya berujar dengan tampang polos, lebih tepat di polos-poloskan olehnya. "Masak, sih? Emang gue seagresif itu ya? Perasaan gue kalem deh."

Perasaan lagi.

"Kalo model kayak lo kalem, terus gue apaan?"

"Lo buyutnya kalem," saat itu juga tawa Nebula pecah. Ia jadi membayangkan silsilah keluarga kalem bagaimana bentuknya.

"Gitu ya?" Bintang tertawa hambar. "Tapi kalem versi lo kayaknya beda. Tu liat, di jidat lo aja udah muncul tulisan warning. Mana luasnya sebelas, dua belas lagi kayak Stadion Bung Karno" Tunjuk Bintang ke arah jidat Nebula.

Saat itu juga Nebula langsung memberikan tatapan tajam, sembari menunjuk keningnya ia bergumam. "Mbak, maaf ya tolong dijaga ucapannya. Ini bukan Stadion Bung Karno, ini landasan pesawat!"

Dan kemudian, tawa keduanya pun langsung pecah begitu saja.

Siapa sangka percakapan sederhana itu mampu membuat mereka lebur dalam tawa. Beginilah, ada saja tebiat yang Nebula lakukan. Tetapi walaupun seperti itu tetap tak menggangu persahabatan mereka. Malah, baik Bintang maupun Nebula menanggap kelakuan diantara mereka saling mengisi satu sama lain.

Dan percayalah di dunia ini tak ada yang sempurna maka dari itu kita perlu orang lain agar bisa melengkapinya.

"Tapi gue serius, kok lo manggil dia dengan sebutan kak?" tanya Bintang dengan menekankan kata di akhir kalimat tersebut.

Bintang sudah meredakan tawanya tapi tidak dengan Nebula. Lihat saja, perempuan itu malah semakin terpingkal ketika mendengar pertanyaannya barusan. Hingga Bintang merasa pertanyaannya seperti lelucon yang bisa menghibur Nebula hari ini.

"Aduh... Perut gue," lirihnya memegangi perut. "Dia pacar gue, Bintang"

"Serius lo?" sambar Bintang seraya membelalakan mata. Melihat reaksi sahabatnya seperti itu membuat Nebula mati-matian harus menahan tawanya lagi.

SEMESTATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang