20

330 32 0

-Alvord PoV-

Aku selalu suka saat teman-teman mulai ribut seperti ini. Jangan tanya kenapa, just like it. Mika berkebalikan dariku. Keningnya berkerut begitu mendengar suara Deja. Hufft, sepertinya Mika membenci banyak hal. Berharap, aku nggak masuk ke daftar itu. Uhm. Mika make me excited. Aku belum pernah bertemu orang seperti Mika, hihi.

Rafki dan Deja masih berebutan pulpen di ujung sana. Farah menyuruh mereka berhenti bersikap kekanak-kanakan. Lana turut berteriak-teriak menyuruh mereka duduk, karena mereka berdua mengganggu proses menghapalnya. Beberapa teman lain juga melayangkan protes. Aku kembali tersenyum, Rafki nggak berubah sama sekali, dia masih sering lupa. Sesuatu yang penting saja dia bisa lupa, apalagi sesuatu yang nggak penting, seperti pulpen atau aku, misalnya.

Sampai sekarang aku masih merasa sedih karena Rafki mendiamkanku tanpa alasan yang jelas, atau alasan yang jelas tapi aku nggak tau. Aku berusaha nerapin dalam hati dan kepalaku kalau Rafki itu jahat, biar aku cepat lupa, tapi nggak bisa. Dia? Dia hanya butuh satu hari berdiam diri dan sekarang dia sudah kembali bersikap seperti dulu, tentu kepada yang lain, bukan kepadaku. Jangankan bercanda, liat aku aja dia nggak mau.

Aku meraih salah satu pulpenku dan bangkit menghampiri Rafki. Rafki terdiam saat aku menghampirinya, kesempatan itu diambil Deja untuk merebut pulpen dari tangan Rafki dan kembali ke kursinya. Sebenarnya Deja nggak akan begitu ribut mempermasalahkan pulpen kalau saja dia sudah selesai menyalin pr Farah.

Aku mengalihkan pandanganku dari Deja ke Rafki. Aku mengulurkan pulpen sambil memberinya senyum, aku harap telah menunjukkan senyum terbaikku. Rafki pernah bilang suka pada senyumku, mungkin dia mau mempertimbangkan berbaikan denganku kalau aku tersenyum. Aku terdengar naif, tapi aku sedang mencoba kemungkinan yang kupunya. Rafki hanya diam, lalu tanpa mengambil pulpen dari uluran tanganku dia berbalik dan mengambil pulpen dari meja Donna. Donna yang ingin protes, nggak jadi bersuara saat melihat Rafki melewatiku yang mematung di samping meja Rafki.

Aku menurunkan tanganku perlahan. Aku menunduk malu. Senyum tak sanggup kupertahankan. Air mataku sudah tergenang di pelupuk mata. Apa Rafki sebegitu benci sampai mempermalukanku seperti ini? Kenapa dia tega sekali? Aku nggak tau kalau dia membenciku sedalam ini. Sebegitu bencinya sampai nggak mau menerima bantuanku. Rasanya sakit sekali saat orang yang selama ini bersikap baik berbalik arah menjadi benci.

Ah, aku memang bodoh sekali. Salahku menawarkan sesuatu pada orang yang sedang menjauh, apalagi dengan harapan kembali sedekat dulu.

“Eh?” Aku terkejut saat seseorang menutup mataku.

“Gue pinjam pulpen lo.” Mika. Dia melepas tangannya sambil menghapus air mataku dan mengambil pulpen yang ada digenggamanku. Tanpa mengatakan apapun lagi, dia kembali ke meja kami.

“Al, temanin gue yuk!” Aku tersentak saat Farah tiba-tiba merangkul lenganku.

“Ta…”

“Yuk, yuk! Penting nih.”

Farah menarikku keluar dan membawaku melewati lorong-lorong menuju bagian belakang sekolah. Farah melepaskan lenganku dan memandangiku penuh sayang.

“Lo boleh nangis sepuasnya disini, Al. Nggak bakal ada yang liat lo nangis di sini selain gue.” Kata-kata Farah membuat tangisanku meledak. Farah tidak mengatakan apapun. Dia hanya menepuk bahuku pelan untuk menunjukkan rasa simpatinya.

***

-Mika PoV-

“Maksud lo apa?” Aku memutar bola mataku bosan mendengar suara menyebalkan ini. Dia mau apa lagi? Aku mengabaikannya dan meneruskan mencorat-coret buku tulisku dengan hasil pulpen rampasan dari Al.  “Lo!” Rafki menarik kerah kemejaku dan memaksaku berdiri. Shit! Drama apa lagi ini? “Maksud lo apa dekatin Al?” Aku hanya mendengus dan menepis cengkeramannya di kerahku.

Alvord-I'm Fine [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang