18

368 27 2

-Mika PoV-

Saat aku masuk kelas, Al sudah duduk di kursinya. Nggak seperti biasanya, yang selalu berkicau dan menebar senyum 'membosankan' ke semua orang. Pagi ini dia memasang wajah muram. Wajahnya diletakkan di atas meja. Beberapa anak di kelas ini berulang kali melirik ke arahnya, tapi nggak berbuat apa-apa. Mereka pasti khawatir pada anak merepotkan itu tapi nggak ingin mengganggunya.

Aku duduk di samping Al dan mulai mengeluarkan hp. Aku nggak seperti mereka yang peduli pada Al. Kalau bukan karena ayah, aku nggak akan pindah ke sekolah ini dan memenuhi permintaan untuk menjaganya. Aku belum memiliki rencana bagaimana cara menjaga dan membuatnya bahagia. Aku masih berada dalam fase memperhatikan keadaan dan bermain game lebih menarik daripada memikirkan apa yang sedang dialaminya. Sepertinya, aku harus bolos lagi hari ini. Aku tidak ingin direpotkan oleh mood jeleknya.

"Lo ngapain?" ucapku ketus saat Al mendekatkan kursinya padaku dan bersandar di lenganku. Dia memasang wajah cemberut dan memukul lenganku pelan. Bocah sinting.

"Al pacarnya Mika, ingat?" bisiknya pelan seolah nggak ingin didengar oleh yang lain.

Dasar! Anak ini sensitif tapi nggak peka. Bagaimana mungkin dia nggak sadar kalau semua orang di kelas ini sudah tau orientasinya. Kalau enggak, mana mungkin aku mengatakan hal kemarin dengan santai. Kemarin saat aku masuk kelas untuk mengambil tas yang kutinggalkan di loker. Anak kelas ini sedang berunding tepatnya berargumen. Aku yang nggak tau apa-apa dipaksa ikut. Menunda waktu pulangku saja.

Mau nggak mau aku jadi tau apa yang sedang mereka debatkan. Intinya, Dimas harus tetap jadi ketua kelas, mereka tau Al gay, semua orang harus tetap merahasiakannya, bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Memang apa yang sudah terjadi? Entahlah, aku tidak peduli, seenggaknya belum. Aku tau, aku tau, aku harus peduli, ayah memintanya, tapi rasa peduli nggak tumbuh begitu saja. Jadi, lewatkan saja perihal ini. Kembali ke pertanyaan Al, jujur, aku lupa soal itu. Aku hanya mengangguk malas dan kembali sibuk dengan hp.

"Ih, Al lagi sedih tau," ucapnya dengan bibir manyun. Oke? Dia sedih, terus apa hubungannya denganku? Aku hanya menaikkan sebelah alisku, terlalu malas untuk menanyakannya secara verbal. "Harusnya Mika hibur Al. Biar Al nggak sedih lagi." Oh, itu. Tidakkah dia tau? Dia sedang mengganggu hiburanku? "Seenggaknya tanya kenapa Al sedih. Mika gimana sih? Apa Mika nggak pernah pacaran?"

Tentu saja tidak. Pacaran itu merepotkan. Hufft, percuma saja kalau aku mengatakan hal itu, yang ada bocah ini malah ceramah panjang lebar. Lebih baik aku mengikuti skenario yang dibuatnya.

"Lo kenapa sedih?" Dia tersenyum dan kembali memasang wajah murung.

"Rafki masih diemin Al."

"Lo masih ngarepin dia?"

Bukannya peduli, tapi itu syarat yang aku ajukan. Aku mau dia nurutin apa yang aku bilang. Al nggak langsung menjawab. Dia menjawab salam yang diberikan guru yang akan mengajar pagi ini. Setelah memastikan semuanya aman. Al kembali melihatku dan melanjutkan yang sebelumnya. Lebih baik kalau dia diam dan tak mengatakan apapun. Sayang itu tidak terjadi.

"Bukan gitu," jawabnya gelagapan tapi dengan suara yang sangat sangat sangat pelan. Baguslah guru itu masuk, setidaknya suaranya yang nyaring nggak akan menggangguku. Al bukan tipe orang yang berbicara keras sebenarnya. Sebagian orang mungkin akan mengatakan suaranya terdengar lembut sekalipun dia merengak, but not for me. "Al cuma nggak suka kalau dimusuhin apalagi kalau Al nggak tau alasannya kenapa." Aku memutar bola mataku malas dan membiarkannya. Anak ini terlalu naïf. "Mika~!" Oke, aku nggak akan bisa kembali ke gameku dengan tenang sebelum dia menutup mulut bulatnya itu.

"Apalagi?"

"Kenapa Mika cuekin Al?"

"Cuek apanya?" Aku menoleh melihat situasi. Mencari tau apa suaraku terlalu keras, jelas nada suaraku naik setingkat. Aman! Nggak ada yang mencuri pandang, berarti nggak ada yang mendengar. Masalah baru bisa muncul kalau ada yang tau aku membuat 'tuan putri' ini kesal. Aku tentu akan bertindak sesuka hatiku, aku nggak peduli rasa nggak suka mereka padaku membubung tinggi, tapi jangan sekarang, biarkan hidupku tenang untuk hari ini. Bisakah? "Gue udah dengerin lo ngomong."

Alvord-I'm Fine [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang