17

340 28 2

-Mika PoV-

Langkahku terhenti melihat Dimas bersandar di tubuh mobilku. Ck, sekarang apalagi? Kenapa banyak sekali masalah yang kudapat setelah pindah kesini? Sebangku dengan makhluk kecil dan aneh, yang suka melirikku diam-diam, malu-malu, yeah, sejak awal aku sudah tau dia itu menyukaiku, aku bukannya narsis, tapi bocah aneh itu terlalu terang-terangan menunjukkan perasaannya.

Sebenarnya itu hal yang bagus. Setidaknya aku nggak harus mendekatinya lebih dulu. Hal yang membuat langkahku terhambat adalah...kenapa bocah aneh itu harus punya ‘beib’ yang nggak kalah merepotkan? Bocah aneh yang histeris tiba-tiba bersama teman sekelas yang sama anehnya. Kenapa aku harus dimasukkan ke kelas sekelompok orang aneh? Shit, Dad!

Aku melanjutkan jalanku menuju mobil. Dimas menyingkir saat aku mendekat. Dimas membuka mulut sebelum aku masuk ke dalam mobil.

“Makasih.” Aku memberinya tatapan menanyakan maksudnya. “Al.”

“Oh,” jawabku santai. Aku nggak mungkin mengatakan kalau aku mengatakan hal memalukan itu hanya untuk membungkam mulut cerewetnya. Kututup pintu mobil dan berdiri berdampingan dengan Dimas. Aku akan mendengarkannya sebentar.

“Gue nggak tau maksud lo apa bilang gitu ke Al, tapi lo udah nolongin kita. Kalo lo nggak nawarin diri jadi pengganti Rafki. Al bisa nangis seharian.”

“Gue lakuin itu buat diri gue sendiri.”

Kalau ayah mendengar ada yang berterimakasih padaku, bahagianya pasti merambah kemana-mana. Ayah sering mengatakan kalau aku harus membantu orang yang membutuhkan. Balasan datang bukan dari orang yang kita bantu, tapi dalam bentuk nikmat yang nggak kita sangka. Aku selalu mengangguk setiap ayah mengulanginya. Mengangguk bukan berarti setuju, aku punya prinsipku sendiri. Aku hanya nggak mau mengecewakan ayah.

“Terserah. Sementara waktu, gue bakal kasih Al ke lo. Ingat, gue nggak bakal diam aja kalo lo berani buat dia nangis.”

“Ck, kenapa semua orang manjain tuh anak.” Aku yakin telah memberikan ekspresi paling menyebalkan sampai berhasil membuat Dimas berbicara lebih kuat dengan saraf wajah yang menegang.

“Karena kita semua sayang sama Al." Dimas menatapku tajam dan meminta pengertian di saat yang sama. "Al punya pengalaman buruk sewaktu kecil, so, gue harap lo ngerti.”

“Gue tau.” Sepertinya aku membuat kesalahan lagi. Kalau aku nggak memberi jawaban yang benar, ketua kelas ini akan bicara panjang lebar. Kupingku nggaj diciptakan untuk mendengar sesuatu yang merepotkan.

“Eh?”

“Gue tau maksud lo apa.” Just saying the truth while hiding the real fact.

“Lo tau darimana?” Aku hanya tersenyum meremehkan. Dia nggak tau saja darimana asal muasal segala masalah ini.

"Gue nggak suka cara lo semua manjain dia, jadi jangan harap gue bakal pake cara yang sama. Gue pake cara gue sendiri.”

“Oke, gue nggak ngerti lo ngomong apaan.”

Bullshit! Pastinya dia mengerti maksudku. Di dunia ini, pasti hanya Al yang dapat perlakuan berlebih seperti itu. Nggak ada teman sekelas yang bersiap sedia meluangkan waktu seperti yang Dimas lakukan hanya karena masalah pribadi. Faktanya manusia akan menjauh dari sumber masalah, apalagi bukan masalahnya, bukannya semakin terlibat di dalamnya. Itu kalau nggak ada masalah dengan cara berpikirmu, i'm sorry. Anak kelas ini bereaksi terlalu berlebihan dalam segala hal. That's annoying!

“Lo nggak perlu ngerti,” ucapku santai dan masuk ke dalam mobil.

Setelah ini, semua pasti akan menyebalkan dan merepotkan. Shit! Kurasa aku harus pindah sekolah lagi. Proses pindahan juga merepotkan. Ck! Kenapa semua hal di dunia ini sangat merepotkan? Tidak adakah yang berpikiran untuk membuat segalanya lebih mudah?

Alvord-I'm Fine [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang