12

396 32 0

-Rafki PoV-

Seminggu ini, tepatnya sudah sepuluh hari terhitung dari Sabtu lalu, aku merasa ada yang beda dengan anak cowok di kelasku. Bukan karena Mika tidak masuk sekolah sejak liburan lalu itu. Emang aku pikirin dia mau masuk atau enggak. Dan syukurnya, Al tidak mencari karena dia juga meradakan hal yang sama. Nggak tau ah itu harus disyukurin apa enggak.

Aku tidak tau ini hanya perasaaanku saja atau bagaimana. Aku merasa kalau mereka berusaha menjauhkan diri dariku dan Al. Contohnya saja, kalau aku tiba-tiba ikut gabung, mereka yang awalnya heboh tiba-tiba saja diam atau canggung gitu, bahkan, ada yang pindah tempat duduk menjauh dariku. Mereka yang biasanya heboh kalau Al ngucapin selamat pagi, malah acuh tak acuh.

Sebenarnya aku tidak memikirkan soal itu. Bodo amat mereka jauhin aku atau kayak mana. Toh, aku tidak ngerasa punya salah sama mereka, jadi ngapain takut. Biar kuperbaiki. Maksudnya salahku banyak, tapi salah mana yang sedang dipertanyakan sampai memunculkan sikap seperti itu. Entalahlah. Yang merisaukan adalah Al gelisah dan murung mikirin dia buat salah apa sama anak-anak. Dia udah nanya ke anak cewek, anak cewek bilang dia tidak berbuat salah apa-apa ke anak cowok.

Dia nanya ke anak cowok, mereka sok tidak terjadi apa-apa tapi sikap dan cara mereka mandang tidak sesuai dengan ucapan. Jadilah, seminggu ini Al seperti orang yang kehilangan semangat hidup. Aku jadi ikutan rugi karena Al tidak bermanja padaku dan tidak mengeluarkam senyum malaikatnya. Malah manyun sepanjang hari dan puasa ngomong.

Siang ini aku ke kantin berdua sama Dimas dan Farah karena Al tidak mau diajak. Dia lebih milih berdiam diri di kelas. Walau anak cowok seperti menjauh, Dimas tetap biasa saja. Kami masih sering bertengkar mulut, saling meledek, dan saling mengusili satu sama lain.

Aku sudah dari kemarin-kemarin pengen nanya ke Dimas, tapi aku takut Dimas malah tidak tau sikap anak-anak akhir-akhir ini dan ujungnya ikutan kayak yang lain kalau sadar yang lain lagi ngejauh dari aku dan Al. Aku berteman baik dengan anak lainnya, tapi Dimas berada di level yang berbeda. Jadi, kalau dia ikutan bersikap yang sama, itu akan membuatku tak tenang.

Setelah kupikir-pikir lagi, ini Dimas. Dia tidak mungkin diam dan menjauh begitu saja tanpa konformasi. Juga, tidak mungkin tidak tau masalah yang ada di kelas. Makanya, mumpung sekarang lagi ada kesempatan, kantin sudah sepi, aku mau coba nanya Dimas.

“Mas, lo ngerasa nggak, kalau anak cowok kelas kita ngejauhin gue sama Al?” Dimas yang asik dengan baksonya berhenti menyuapkannya ke mulut. Dia meletakkan sendok dan memandang Farah sekilas, Farah mengangguk sambil meminum jusnya.

“Gue yakin lo bakal nanya ini ke gue.”

“Jadi benar, anak-anak jauhin gue sama Al?” Dimas mengangkat bahu. “Gini, gue sih nggak masalah, secara gue nggak ngerasa buat salah ke mereka. Masalahnya tuh Al gelisah mikirin masalah ini. Bahkan, dia pernah nelpon gue tengah malam karena nggak bisa tidur mikirin dia salah apa ke anak-anak.”

“Jadi, Al murung karena mikirin itu?” tanya Farah. Aku mengangguk. “Sial!”

“Sebenarnya, anak-anak pada kenapa?” tanyaku sambil bergantian menatap Dimas dan Farah.

“Gini, Ki. Sebelumnya gue minta maaf karena nggak sengaja ngeliat, oke, lo bisa juga bilang gue ngintip biar lo senang.” Aku meleletkan lidahku dan menampilkan wajah ingin muntah. “Gue serius, Ki.” Aku langsung kembali memasang ekspresi serius. Kalau Dimas udah bilang dia lagi serius, itu artinya dia emang lagi serius. “Gue ngintip lo sama Al. Lo sama Al…lagi…oke, gue susah jelasinnya. Lo yang lebih tau lo ngapain aja sama Al waktu kita ngasih waktu berdua sama Al seminggu lalu." Aku menelan ludah, aku tau kemana arah pembicaraan Dimas. "Trus, gue jelasin ke anak-anak apa yang gue liat. Sorry. Gue nggak nyangka reaksi mereka bakal gini. Lo taulah kelas kita gimana, aib siapa yang kita nggak tau. Selama ini kita simpan sama-sama dan semua baik-baik aja.” Aku yakin wajahku sudah menunjukkan kekagetan karena ternyata ada yang ngeliat apa yang aku dan Al lakuin. Dan, sikap anak-anak kelas jadi dingin karena itu. “Benar nggak, apa yang gue liat kalo lo ngocokin punya Al?” Aku garuk-garuk kepala bingung dan untuk menahan malu.

Alvord-I'm Fine [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang