5

689 73 1

-Rekii PoV-

Gue yakin dan percaya kalo Era bakal ngebunuh gue kalo tahu gue datang ke sekolah Alvord, tapi gue ambil resiko itu karena gue mau ngomong sama Alvord. Kalo gue nggak nekat begini bisa-bisa nggak punya kesempatan bicara berdua sama dia.

Dari kejauhan gue lihat Alvord berjalan dikelilingi teman-temannya sambil ketawa-ketawi. Anak itu santai banget sih. Baru aja semalam putus udah bisa ketawa-ketiwi gitu. Harusnya dia masih sedih dong ya. Atau… jangan-jangan, gue aja yang kepedean kalo Alvord juga suka sama gue? Bisa aja 'kan dia terima gue buat koleksinya sama seperti yang lain. Kalo emang gitu, kasihan banget gue. Udah dipermaluin sama Era dapatnya malah nggak dianggap sama Alvord.

Sepertinya Alvord sadar sama kehadiran gue karena wajahnya kelihatan terkejut banget. Dia mengatakan sesuatu ke salah satu temannya dan teman-temannya pergi setelah say goodbye dengannya. Dengan ekspresi was-was Alvord nyamperin gue. Gue langsung masang senyum begitu dia berdiri di hadapan gue.

“Hai!” sapa gue agak kaku karena ekspresi Alvord yang dingin. Gue belum pernah ngelihat ekspresinya yang kayak gitu. “Lo ada waktu? Gue mau ngomong.”

“Nggak bisa. Pacar Al mau nyampe bentar lagi.”

“Nggak usah bohong lah, Al. Gue tahu lo belum punya cowok buat gantiin gue.” Dia hanya memutar bola matanya jengah. Bagus juga aktingnya. “Era nggak jemput lo?”

“Nggak. Kak Era masih ada kuliah.” Baguslah! Gue yakin dia minta tolong sama temannya yang tadi dia ajak bicara buat nganter dia pulang. Berarti sekarang nggak ada yang ngatar dia pulang. Kesempatan!

“Yaudah biar gue yang anter lo pulang.”

“Kak Rekii keras kepala banget sih. Udah Al bilang, Al dijemput sama…”

“Gue tahu lo bohong. Lo belum ada pacar.” Gue ulangin pernyataan yang sebelumnya udah  gue ucapin. Al masang raut muka kesal. Gue berjalan ke motor gue yang nangkring di samping gerbang sekolah Alvord. “Sekarang lo naik ato gue bakal maksa.”

“Al nyesal pernah pacaran sama Kak Rekii,” sungutnya sambil mengutak-atik hpnya yang barusan dia keluarkan dari saku celana. Gue tarik hpnya dan gue kantongi. Gue yakin dia mau ngubungin Era atau siapa saja yang bisa nganterin dia pulang.

“Kak Rekii apa-apaan sih? Balikin hp Al.”

“Lo ikut gue. Nanti gue balikin hpnya.”

Dengan muka ditekuk Alvord naik ke boncengan. Dia nggak ngelingkarin lengannya di pinggang gue seperti biasanya setiap gue ngebonceng dia. Gue kasih tahu lo semua, kesempatan boncengan sama Al itu susah banget, sialan! Kekeras kepalaan anak ini memang nggak ada yang bisa nandingin. Sampai-sampai keluarga gue menjulukinya ‘headstone angel’.

Sifat jeleknya yang lain, kalau sudah kesal dia nggak peduli kalau kata-kata atau tindakannya nyakitin perasaan orang lain. Parahnya, dia malah tidak sadar kalau itu nyakitin orang lain. Ya mau gimana lagi, manusia setarap Al kayaknya nggak punya nafsu buat jahatin orang. Cuma naluri manusianya aja kadang muncul ke permukaan.

Yang lain apa lagi, ya? Ah, iya. Ini sih menurut gue saja. Nggak tahu kalau menurut orang lain kayak gimana. I mean, Alvord terlalu girly. Dia nggak ngondek. Dia juga nggak punya tanda yang nunjukin kalau dia itu banci. Hanya saja dia terlalu suka ngerawat diru. Menipedi, luluran, pergi ke spa, maskeran, bahkan dia pernah kuteksan dan lipglossan walaupun cuma di rumah aja. Parah, kan? Bodo ah. Pokoknya gitu deh.

Dan, aku juga nggak suka sifat kekanak-kanakannya, padahal keluarga gue suka sampai menjulukinya ‘baby angel’. Heran deh kenapa keluarga gue suka banget menjulukinya malaikat, hampir semua julukan yang diberi keluarga gue berakhiran ‘angel’.  Padahal menurut gue, menurut gue lho ya, jangan protes, dia banyak banget sifat dan perilaku buruknya.

Alvord-I'm Fine [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang