Kalau Carla disuruh mengukur, seberapa bahagia dirinya semenjak saat itu Domi datang ke rumahnya dan membeberkan asal mula tingkah anehnya selama ini, maka dalam skala 1 sampai 10, ia akan memilih 11. Karena, mencintai dan dicintai bukan milik sembarang orang. Dan karena ia tahu betul bagaimana rasanya cinta yang tidak berbalas, memiliki Domi di sisinya sudah lebih dari apapun yang ia inginkan di dunia ini. Meskipun ia hanya kekasih gelap Domi, meskipun ia hanya peran antagonis dalam cerita princess yang inosen. Ia sungguh tak bisa mengharapkan lebih.

Tapi, alasan utama ia memilih 11, ialah karena kebersamaan mereka tidak selamanya.

Karena sesuatu yang tidak abadi, berharga lebih dari apapun.

*

Hanya terkait dua hari semenjak hubungan Domi dengan Carla officially membaik. Selama itu, Domi berusaha memperbaiki segalanya, mengembalikan imejnya seperti semula, seakan-akan disaster sebelumnya tidak pernah terjadi. Semua itu ia lakukan semata-mata demi menghormati permintaan Gisel di hari Domi memutuskan untuk mundur dari pertunangan mereka.

Dua hari. Hanya dua hari waktu yang ia butuhkan untuk membereskan segalanya dan mempersiapkan diri sebelum menemui Mirinda. Tapi Domi salah, jika berpikir apalah yang bisa terjadi hanya dalam dua hari.

"Bagaimana kabarmu?" Domi menyesap cappucino panasnya dengan anggun sembari melirik Mirinda dengan sudut matanya. Kalau setting waktu mereka empat puluh tahun sebelum masa kini, barangkali tidak ada yang menyangsikan jika Domi mengaku keturunan bangsawan.

"Hmm." sahut Mirinda sekenanya, masih sibuk dengan ipad-nya. Latte-nya sendiri sama sekali tak tersentuh.

Domi tertawa renyah. "Kau masih marah padaku, perihal aku mengasarimu di LINE kapan lalu? Yang benar saja, Mir, tidakkah kau berpikir kita sudah terlalu tua untuk itu."

Mirinda mengalihkan tatapannya dari gadget keluaran terbarunya itu, lalu menatap Domi tajam. "Ralat, memaki. Memaki--for God's sake, Domi--a lady! How dare you??!"

Domi terkekeh. "I'm sorry, okay? Kupikir kau cukup tough untuk itu. Tidak kusangka kau akan mengambil hati dan menseriusinya. Kita sudah terlalu lama berteman untuk saling menyimpan dendam, oke?"

Mirinda melengos. "Sudahlah, aku juga tak ingin membahasnya. Daripada itu, apa tujuanmu mengundangku kemari?"

"Hanya memastikan segalanya baik-baik saja--"

"Dan berada dalam kendalimu?"

"Huh?" Domi mengerjap ketika selama sesaat sorot Mirinda tampak menggelap. Tapi, cewek itu langsung mundur dan menyandarkan punggungnya, seraya mengalihkan tatapannya dari Domi.

"Ugh, Domi. Aku tak habis pikir. You really think this world revolves around you?"

Domi mengernyit heran ketika terselip nada tajam dalam kata-kata Mirinda. "What?"

"Never mind. Ada lagi? Yang kau inginkan dariku."

"Tidak banyak." Domi sedikit menurunkan pertahanannya ketika Mirinda kembali tampak normal, meski entah bagaimana firasatnya menyuruhnya untuk tetap waspada. Cewek itu tidak punya pikiran untuk membunuhnya di tempat umum seperti ini, bukan? "Hanya.. maaf darimu, probably?"

"You wish."

Domi terkekeh. "Sejujurnya, ada banyak hal yang ingin kulakukan denganmu. Catching up, salah satunya. Aku sudah lama sekali tidak mendengar kabarmu. Kata manager-mu tadi, kau dan Marshal akan berlibur ke Eropa bulan depan? Apakah ini semacam pre-honeymoon, maybe?" Domi menatap Mirinda yang masih juga diam seribu bahasa, lalu menghela napas kecil. "Oi, cheer up, will ya? Kau tentunya tahu aku kembali pada Gisel? Tidak mungkin, kan, adikmu tidak mengatakannya padamu. Dan, Mirinda, kau tenang saja. Kali ini, kau tak perlu khawatir lagi. Percayalah, aku sudah cukup dewasa untuk kembali membuat ulah."

Sebuah panggilan telepon di ponselnya yang diletakkan di meja mengalihkan perhatian Domi. Sebuah nama tertera di layar ponselnya, dan hati Domi seperti tertohok tombak tak kasatmata.

Dengan keresahan tak tentu arah, Domi berdiri. "If you'll excuse--"

"Di sini saja." potong Mirinda tegas, membuat Domi serta merta menatapnya bingung. Fixed, hari ini sang sahabat bertingkah aneh.

"Apa?"

"Di sini saja, terima teleponmu. Aku ingin ikut mendengar." tegas Mirinda dengan nada sedingin es.

Domi menatap Mirinda seolah cewek itu sudah gila. "Do you even know who's calling?"

Mirinda mendongak menatap Domi tanpa mengatakan apapun. Tapi, dari sorotnya, Domi tahu sesuatu yang buruk sedang terjadi. Sesuatu yang melibatkan cewek di depannya itu, namun tidak pernah secara publik.

*

Ketika Domi pada akhirnya mengakhiri sambungan telepon, sang penelepon bahkan belum selesai dengan kata-katanya. Keringat dingin membanjiri wajahnya, sorot kehidupan hilang dari matanya, ia bahkan membiarkan ponselnya meluncur jatuh begitu saja. Sepanjang pembicaraan, sang penelepon memanggilnya berulang kali, tapi Domi hanya membisu. Hanya membisu, dengan tatapan ngeri terpancang pada Mirinda di depannya.

"Well?" tanya Mirinda santai, kontras dengan seringai menyeramkan di wajahnya. "Any news from your backstreet lover?"

Domi mengatupkan rahang rapat-rapat tanpa mampu menemukan suaranya.

"Aren't you two just cute? Kalian mengingatkanku pada jaman SMP. Kala itu, menjalani pacaran backstreet setaraf dengan diantar-jemput menggunakan supir ke sekolah. Tingkat kekerenan, bertambah sepuluh poin." Mirinda mendengus jijik, lalu melanjutkan. "Well, Domi, tidakkah kita terlalu tua untuk itu? Aku tidak tahu soal keren, tapi kau sungguh berpikir just the two of you could win against the world?"

Mirinda mengambil jeda dengan meminum latte-nya dengan gerakan yang sengaja dilambat-lambatkan.

"You're such a stubborn, now aren't you? Dan jangan bilang aku tak pernah memperingatkanmu. I did, thousand times before. Tapi, kau takkan benar-benar mempercayaiku hingga aku membuktikannya, bukan? That's why, I'd just do it my way. Baik kau masih mencintai Gisel atau tidak. Baik itu hanya sandiwara, pencitraan, atau kebohongan besar-besaran semata. Aku akan terus melakukannya, tearing her apart like, literally, hingga kau benar-benar melepaskan diri dari cewek penggoda itu. Hingga kau bersih, seperti yang kau janjikan berbulan silam. I'm capable of anything, Dom, except for letting her die just easily. Dan sejak dulu, kau yang seharusnya tahu itu lebih dari siapapun--untuk tidak menguji kesabaranku."

"Kulihat kau sudah mulai menangkap maksudku? Good boy." Dengan senyum kejam melekat di wajahnya, Mirinda memasukkan ipad-nya ke dalam tas, lalu berdiri. Mengabaikan keterdiaman Domi dan sorot syok cowok itu, lalu melanjutkan, "So here's what we're going to do from now on. Aku keluar dari sini, berpura-pura unaware atas apapun. Kau akan keluar dengan panik, mencegat taksi pertama yang kau temui. Dan, secepat mungkin menuju gadis hinamu yang kini tidak bisa berdiri di atas kedua kakinya sendiri. Ups, my bad. Should be di atas satu-satunya kaki yang ia miliki." Mirinda mendesah, berpura-pura sedih. "Poor, poor Carla. Bagaimana menurutmu seorang pebasket menerima kelumpuhan itu seumur hidupnya? Dibanding kita, tidakkah kau pikir kaki adalah hal yang sangat krusial baginya? It's like Batman without his robe. Or, simply, Kobe without his leg.

"And, you see. Just you wait. Another leg is going to be amputated soon. And if I'm running out of leg, I'll just take what is left. Arms, eyesight, anything. Until you stop coming."

Mirinda bersiap melenggang pergi, sebelum mengucapkan kata perpisahan bernada tajam, "I'm so eagerly looking forward to your choice, Dom."

Almost Over YouBaca cerita ini secara GRATIS!