“Palli ireona...” ucap seorang yeoja

“Uhhm...satu menit lagi..” kata Myungsoo sambil memeluk bantal.

“Ayolah, kau bisa telat.”

“Hmm...” jawab Myungsoo dengan mata yang masih tertutup. Yeoja itu diam, lalu dia naik ke tempat tidur Myungsoo.

“Palli ireona !!!” teriak yeoja itu sambil melompat-lompat di atas tempat tidur Myungsoo.

“Yahh!! Kau bisa diam tidak? Berhentilah melompat seperti orang gila!” teriak Myungsoo marah sembari melempar guling ke arah yeoja tersebut, namun sayangnya guling itu malah menembus tubuh si yeoja dan mengenai dinding. 

“Ha..ha..ha.. ternyata seorang jenius sepertimu bisa melakukan hal bodoh juga.” ejek yeoja itu.

“Tutup mulutmu dasar kuntilanak.”

“Heaa! Aku bukan kuntilanak, aku ini roh.” elak si yeoja.

“Terserah.” kata Myungsoo mengantuk dan kembali tidur.

“Hey! Jangan tidur lagi. Cepat bangunlah ....”

Suara yeoja itu terus saja berputar-putar di kepala Myungsoo. Ia heran sekaligus kesal karena yeoja itu terus saja bicara untuk membuatnya bangun. Aku berharap tidak pernah bertemu dengan yeoja menyebalkan ini, pikir Myungsoo.

{FLASHBACK}

*Satu Minggu yang lalu*

Myungsoo POV

Aku pikir hari ini akan menyenangkan tetapi ternyata tidak seperti yang kupikirkan. Pagi ini semua murid berkumpul di aula sekolah. Suasana mendadak hening tidak seperti biasanya. Wajah para guru terlihat serius, bahkan beberapa diantaranya ada yang mukanya terlihat memerah seperti habis menangis.

Aku melihat anggota Osis masuk kedalam aula dan secara otomatis menjadi pusat perhatian murid lain, seperti biasanya... Bukannya aku membenci mereka. Mereka pintar dalam akademik, berasal dari latar belakang keluarga yang terpandang dan sebagainya. Tidak heran jika semua orang menyukai mereka. Tapi entah mengapa aku hanya tidak suka dengan mereka atau lebih tepatnya tidak peduli.

“Mengapa Minho menangis?” celetuk salah seorang murid

Apa? Aku tidak habis pikir ketua club karate seperti Choi Minho itu bisa menangis. Entah mengapa jantungku berdetak lebih cepat. Aneh.

“Kami sangat berduka mengatakan ini...” Salah seorang perwakilan guru angkat bicara dengan suara yang serak.

“Kemarin murid tercinta kita...” guru itu berhenti sejenak lalu melanjutkan ucapannya.

“... Park Jiyeon meninggal dalam kecelakaan pesawat.”   

(Myungsoo pov end)

****

Semenjak pengunguman itu suasana di Shinwa International Highschool berubah total. Tidak ada lagi tawa dan canda. Semua penghuni sekolah memasang wajah suram, kecuali Myungsoo. Wajah cool dan tanpa ekspresinya itu adalah satu-satunya yang tidak berubah. Tidak ada yang tahu apa yang ada dipikirannya bahkan sahabatnya sendiri.

Siang itu Myungsoo menghabiskan waktu istirahat ditempat kesayangannya yaitu di atap sekolah. Ia berbaring menatap langit. Kenapa aku merasa hampa? Ini semua membuatku muak, pikir Myungsoo.

Ini salahmu..

“Ini semua salahmu Park Jiyeon!!!” teriak Myungsoo keras. Untungnya tidak ada siapapun disekitarnya jadi tidak masalah.

Suasana menjadi hening kembali.

Mungkin aku tidak seharusnya menyalahkan orang yang sudah mati, pikir Myungsoo kembali.

Myungsoo akhirnya memutuskan untuk kembali ke kelas namun saat ia berbalik ia melihat seorang yeoja cantik berdiri di depannya. Myungsoo kaget dengan kehadiran yeoja itu. Yeoja berambut hitam panjang dengan kulit pucat.

Apa?..Kenapa dia—

Dia..kan..

Park Jiyeon !!! ujar Myungsoo dalam hati.

“Kau bisa melihatku?” ujar Jiyeon

Hah??

“Oh..akhirnya” kata Jiyeon tersenyum.

“Tunggu dulu, bukankah seharusnya kau ada di dalam peti" ujar Myungsoo

“Kyaa..kejam sekali dirimu.. Kenapa pertanyaanmu kasar seperti itu.” ujar Jiyeon kesal

“Memangnya kau ingin aku bertanya apa? Apa kabar begitu ? Berhenti main-main denganku” teriak Myungsoo

“Lantas, kenapa kau ada disini? Aku pikir kau-“

“Sudah mati” timpal Jiyeon

“Uhmm” angguk Myungsoo

“Saat seseorang meninggal bukan berarti kau tidak bisa melihat mereka...”

“Baiklah aku akan pura-pura tidak melihatmu.” Myungsoo berjalan pergi meninggalkan Jiyeon.

“Hey tunggu! Beginikah caramu memperlakukan yeoja paling cantik disekolah ini?” Jiyeon mengejar Myungsoo

“Yeoja cantik yang sudah mati” ujar Myungsoo mengingatkan Jiyeon.

“Dasar namja jahat!”

“Hyaa! Kenapa kau mengikutiku?!” Teriakan itu sontak membuat semua murid melihat ke arahnya. Oh no..pikirnya. Myungsoo tidak suka menjadi pusat perhatian orang.

“Kasihan sekali dirimu.. ucap Jiyeon

“Ini semua gara-gara kau! Berhentilah mengikutiku.”

“Shireoo...”

“Waeyo? tanya Myungsoo kesal

“Aku bosan. Tidak ada yang bisa melihatku” jawab Jiyeon sedih.

“Lantas apa yang kau mau dariku?!” tanya Myungsoo

“Jadilah temanku.” Jiyeon memasang puppy eyes-nya

“Jika aku menjadi temanmu bisakah kau berhenti mengikutiku?” tanya Myungsoo

“Ne.”

“Ok sekarang kita berteman. Bye!” Myungsoo segera berlari menjauhi Jiyeon setelah mengucapkan kalimat itu. Meskipun Myungsoo seorang namja namun ia buruk dalam olahraga. Ia lebih sering menggunakan otaknya daripada fisiknya. Tak heran baru beberapa detik ia berlari, ia sudah terlihat seperti zombie.

“Haahaa...sepertinya ia sudah tertinggal jauh dibelakang.” kata Myungsoo sambil menstabilkan napasnya.

“Myungsoo-ah” Jiyeon tiba-tiba muncul dibelakang Myungsoo

“Ahhhh!!!!” jerit Myungsoo kaget, sontak ia kini menjadi pusat perhatian murid lain lagi.

“Kenapa kau ada disini?” kata Myungsoo

“Aku adalah arwah.” jawab Jiyeon tersenyum

Oh tidak, aku lupa itu, pikir Myungsoo. Meskipun Myungsoo kaget dengan kehadiran Jiyeon, ia tetap memasang wajah tanpa ekspresi, itulah mengapa ia dijuluki cool namja.

“Katamu kau akan berhenti mengikutiku jika kita berteman.” ujar Myungsoo.

“Ne, tapi karena kita sudah berteman, kita harus tetap bersama itulah yang dinamakan teman.” jawab Jiyeon tersenyum lagi.

“Aish..terserah apa katamu. Aku harus kembali ke kelas.” Myungsoo menyerah.

“Ne.” Jiyeon mengikuti Myungsoo dari belakang.

{Flashback End}

The VoidBaca cerita ini secara GRATIS!